Rabu dalam Pekan Biasa XXXI, 4 November 2015


Rom 13: 8-10  +  Mzm 112  +  Luk 14: 25-33

 

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:  "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?  Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,  sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.  Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.  Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku".

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.  Berapa jumlah mereka semua tidak diketahui memang; demikian juga ada banyak perempuan di antara mereka yang mengikutiNya?  Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:  'jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'. Sebuah persyaratan yang amat berat. Semua harus dinomerduakan; hanya Yesus sang Guru yang harus diutamakan dari segala-galanya. Cinta kepada Yesus harus menjadi satu-satunya dalam hidup ini. Perhatian kepada diri sendiri, demikian juga kepada keluarga membuat seseorang tidak layak mengikutiNya.  'Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'.  Seorang murid Yesus harus berani bersengsara. Memanggul salib itu tidak mengenakkan. Memanggul salib itu bukan bertepuk tangan dan bersorak-sorai, dan beriang ria. Seorang murid berarti mengikuti sang Guru; tentunya bukan pergi ke mana saja, melainkan segala ajaran dan sabdaNya itulah yang harus diamininya.

'Siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?  Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,  sambil berkata: orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.  Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian'. Menjadi murid Kristus berarti seseorang harus berani memikirkan dan mempertimbangkan akan segala yang hendak dilakukannya. Apakah dia mampu melakukannya atau tidak? Melakukan sesuatu bukanlah untuk bermain-main. Mengikuti Yesus harus dimengerti bukan untuk mencari kesenangan dan kemapanan diri. Setiap orang harus berani melepaskan diri dari segala keinginan dan kecenderungan diri.  'Tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku'.

'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!', tegas santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma (bab 13). Bukankah perintah cinta kasih ini juga ajaran Yesus sendiri? Namun bagaimana kita akan mengasihi sesama? Bukankah Yesus tadi mengatakan barangsiapa tidak membenci bapa ibu dan sanak saudaranya tidak layak menjadi muridNya? Bagaimana kita dapat mengertinya? Kiranya pemahaman kita bahwa Tuhan Yesus hendaknya menjadi perhatian pertama dan utama, mempermudah kita untuk semakin berani melakukan apa yang dikehendaki Tuhan Yesus malah, kita berusaha menemukan kehadiran sang Immanuel itu dalam diri sesama yang kita jumpai. Membenci kedua orangtua dan sanak –saudara, serta diri sendiri kiranya dapat kita pahami bersama dengan baik bila kita memang mendahulukan kepentingan keluarga dalam berjumpa dengan Dia.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, dampingilah kami selalu agar mampu mengutamakan Engkau di atas segala-galanya, dengan berani mengamini sabda dan melakukan kehendakMu. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'.

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening