Rabu dalam Pekan Biasa XXXII, 11 November 2015


Keb 6: 1-11  +  Mzm 82  +  Luk 17: 11-19

 

 

 

 

Lectio

Pada suatu  hari dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.  Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh  dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"  Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.  Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,  lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.  Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?  Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"  Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

 

 

 

Meditatio

'Yesus, Guru, kasihanilah kami!'. Itulah seruan ke sepuluh orang sakit kusta kepada Yesus. Mereka berteriak-teriak  dari jarak cukup jauh. Mereka berdiri agak jauh, karena mereka tahu diri berkenaan dengan keberadaan diri sebagai orang-orang yang menderita sakit kusta. Mendengar teriakan itu, Yesus memandang mereka dan berkata: 'pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam'. Mengapa Yesus tidak memanggil mereka supaya mendekat dan menyembuhkan mereka? Apakah Yesus menyadari juga akan keberadaan mereka? Mereka bermohon belaskasih, dan tentunya meminta kesembuhan daripadaNya. Namun mengapa mereka disuruh pergi kepada para imam? Mengapa mereka segera pergi juga? Inilah iman. Tanpa banyak berpikir panjang dan memikirkan logika antara permohonan dan jawaban, mereka pergi juga sebagaimana diperintahkan Yesus, sang Guru. Keberadaan Yesus sebagai sang Guru diketahui mereka juga. Apakah cukup dikenal dengan gaya berjalan mereka, seperti seorang guru selalu berjalan di depan dalam rombongan itu?

Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Iman menghasilkan kesembuhan. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,  lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya.  Apakah mereka yang lain tidak ikut bergembira, ketika melihat diri mereka telah sembuh? Apakah dia tidak mengajak orang lainnya untuk kembali kepada sang Guru?  Orang itu adalah seorang Samaria. Dia bukan orang Galilea. Penyataan ini mengandaikan seharusnya orang-orang Galilea berani mendahului bersyukur kepadaNya. Orang yang dianggap tidak mengenal Allah malah berani mengumandangkan pujian kepada Allah. Bukankah 'orang-orang'Galilea adalah tempat-tempat di mana Yesus sering mengadakan aneka mukjizatNya? Layaklah kalau Yesus pada suatu saat mengecam habis orang-orang Kapernaum (Mat 11: 23).   

'Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?  Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?', tanya Yesus kepada orang-orang yang mengikutiNya. Yesus berkata demikian, bukannya tidak tahu dengan segala yang terjadi, melainkan menantang setiap orang untuk berani bersyukur dan bersyukur kepada Allah. Sembilan orang yang menikmati keindahan kasih Tuhan tidak berkata apa-apa tentang sang Guru. Namun bukankah mereka bersembilan tetap mentaati sabda dan kehendak sang Guru, yang meminta mereka pergi menghadap para imam? Bukankah mereka pergi kepada imam guna mendapatkan surat resmi, bahwa diri mereka telah sembuh, dan tidak najis lagi. Hanya para imam yang berhak mengeluarkan keputusan seperti itu dan bukannya seorang guru. Apakah memang sempat terjadi dialog semacam itu? Atau memang orang Samaria itu hendak berkata apalah arti surat resmi itu, kalau memang hati dan budi kita tidak bersih? Apakah kebersihan hati terungkap dalam ucapan syukur yang dilambungkan suara jiwa?

Ada baiknya kita mendahulukan Tuhan Allah dari segala yang lain. Kitab Kebijaksanaan hari ini mengingatkan: 'dengarkanlah, hai para raja, dan hendaklah mengerti, belajarlah, hai para penguasa di ujung-ujung bumi. Condongkanlah telinga, hai kamu yang memerintah orang banyak dan bermegah karena banyaknya bangsa-bangsamu.  Sebab dari Tuhanlah kamu diberi kekuasaan dan pemerintahan datang dari Yang Mahatinggi, yang akan memeriksa segala pekerjaanmu serta menyelami rencanamu' (Keb 6: 1-3). Semuanya ini menegaskan memang, bahwa pertanggungan jawab hidup  hanya perlu kita berikan kepada Tuhan Allah sang empunya kehidupan dan bukannya kepada yang lain. Kita hidup, hidup bagi Tuhan, maka sungguh tepatlah kalau semua pertanggungan jawab kita arahkan hanya kepadaNya.

'Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau', tegas Yesus. Iman menyelamatkan hanya dikatakan Yesus kepada satu orang, dan bukannya kepada ke sepuluh orang yang dahulunya sakit kusta itu.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur atas anugerah yang Kau limpahkan dalam hidup kami, kiranya kami semakin dimampukan untuk selalu bersyukur atas setiap hal-hal kecil dalam hidup kami.

Santo Martinus, doakanlah kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau'.

 

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening