Sabtu dalam Pekan Biasa XXXII, 14 November 2015

Keb 18: 16-19  +  Mzm 105  +  Luk 18: 1-8

 

 

 

Lectio

Pada suatu hari Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.  Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.  Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.  Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun,  namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku."  Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!  Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?  Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"

 

 

 

Meditatio

Pada suatu hari Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Berdoa tanpa jemu-jemunya berarti orang harus setia dalam doa. Orang harus berani berkanjang dalam doa. Dengan berkata demikian, apakah Yesus juga hendak mengatakan bahwa setiap doa tidak dengan mudahnya mendapatkan jawaban dari Allah Bapa? Doa tidaklah seperti orang yang membawa sebuah tiang untuk mengambil buah-buahan yang bergantung di dahan pohon. Doa bukanlah seperti mendorongkan tiang pada buah-buah yang hendak kita petik.

'Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.  Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.  Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun,  namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku', tegas Yesus kepada para muridNya.  Tambah Yesus kepada mereka:  'camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!  Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?  Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka'.  Yesus memang meminta setiap orang untuk selalu berdoa dengan tidak jemu-jemunya. Seperti seorang hakim yang masih mau menolong temannya, tentu apalagi Tuhan Allah tidak akan menutup hatiNya, dan tidak akan berlama-lama mengabulkan doa permohonan umatNya. Memang tak dapat disangkal sepertinya ada dua kutub, yang saling berpegang teguh satu dengan lainnya. Di satu pihak, setiap orang diajak untuk berani meminta dan meminta, berdoa dan berdoa kepada Allah; di lain pihak, Allah tidak akan berpanjang waktu dan menunda-nunda menjawab permohonan umatNya. Namun yang seringkali terjadi, kesetiaan umat beriman yang tetap harus dikedepankan dalam hidup rohani, hidup sehari-hari. Setiap orang harus dengan setia menanti jawaban kasih Tuhan yang memang dikatakanNya tidak akan berlama-lama. Bagi Tuhan waktu itu yang ada sekarang dan sekarang, tetapi tidaklah demikian bagi manusia yang memang mengalirnya waktu begitu derasnya. Kesetiaanlah yang memang harus menjembatani antara waktu yang dimiliki Tuhan dan yang dimiliki kita manusia. Kesetiaan menjadi modal dasar bagi setiap orang. Benarlah apa yang dikatakan Yesus, dan memang Yesus juga amat menyadari, bahwasannya:  'jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?'. Masih adakah seorang Maria yang setia duduk di samping Yesus? Masih adakah pohon ara yang tahun lalu hendak ditebang itu?

Kesetiaan kita akan mengantar kita juga kepada kemuliaan surgawi sebagaimana telah diniati oleh para kudus Karmel. Spiritualitas Karmel telah mewarnai hidup para kudus dalam perjalanannya di dunia ini. Semangat persaudaraan yang menghadirkan Tuhan telah mereka nikmati dalam hidup  sehari-hari. Demikian juga contemplatio membantu setiap orang untuk mampu bersikap sebagaimana Tuhan bersikap kepada kita.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami tahu Engkau tidak pernah menunda mengabulkan doa kami, berilah kami ketekunan dan kesetiaan dalam berdoa dan memohon kepadaMu, agar kamipun dapat menikmati kemuliaan surgawi, seperti para kudus Karmel. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?'.

 

 

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening