Sabtu dalam Pekan Biasa XXXIII, 21 November 2015

1Mak 6: 1-13  +  Mzm 9  +  Luk 20: 27-40

 

 

 

Lectio

Suatu hari  datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:  "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.  Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak.  Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua,  dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak.  Akhirnya perempuan itu pun mati.  Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."  Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan,  tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.  Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.  Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.  Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."  Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali."  Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

 

 

Meditatio

Suatu hari  datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:  'Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu'. Mengapa mereka menanyakan hal itu? Bukankah mereka tidak percaya akan kebangkitan? Apa maksud mereka menanyakan hal itu? Namun baik juga mereka berani membaca peraturan yang dibuat oleh Musa itu, walau mereka tidak mempercayainya. Tidak mengakui sesuatu memang seharusnya tidak menutup diri untuk mempelajarinya. Bukankah akan meneguhkan diri kita sendiri, jikalau kita tidak mempercayainya.  'Adalah tujuh orang bersaudara', sambung mereka, 'yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak.  Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua,  dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak.  Akhirnya perempuan itu pun mati.  Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia'. Sebuah pertanyaan yang amat menarik. Baik juga memang dipelajari. Dengan bertanya demikian, mereka memang merenungkan. Mereka ingin mengetahuinya. Mereka tidak menelan mentah-menarah apa yang mereka pelajari. 

'Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan,  tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan', tegas Yesus menanggapi pertanyaan mereka. Kenyataan di dunia berbeda dengan di surge. Surge tentunya lebih indah; dan itulah yang diajarkan Yesus agar kehendakNya terjadi di bumi ini seperti di dalam surge (Mat 6). Mereka tidak kawin dan dikawinkan, seperti ketika masih hidup di dunia,  'sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan'. Mereka yang telah tinggal dalam KerajaanNya tidak lagi dikuasai oleh kepuasan insani,  dan memang lepas bebas dari kecenderungan ragawi. Mereka benar-benar anak-anak Allah, sebagaimana Allah hidup, di mana sekarang pun kita ini adalah anak-anakNya, hanya saja 'Kristus belum menyatakan diri-Nya, sehingga kita belum melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya, yang memang membuat kita sama seperti Dia'  (1Yoh 3: 2).

'Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.  Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup'. Penegasan Yesus ini bukan soal semal belukar yang dimakan api tetapi tidak terbakar, melainkan Dia mengingatkan selalu, bahwa Abraham, Ishak dan Yakub bagi orang-orang Israel tetap ada di hati mereka, karena mereka memang adalah orng-orang pilihan. Ketiga bapa bangsa tetap ada di hati mereka, karena mereka yakin Abraham, Ishak dan Yakub adalah orang-orang  yang menjadi milik Allah yang hidup. Sebaliknya, Allah yang esa itu tetap dimiliki oleh oleh orang-orang yang berbeda jaman itu, karena memang Allah tetap mereka rasakan kehadiranNya dalam hidup mereka. Allah tetap ada kemarin, sekarang dan selamanya (Ibr 13: 8)  Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: 'Guru, jawab-Mu itu tepat sekali'.  Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami untuk semakin memahami bahwa rencanaMu itu sungguh indah dan menawan hati. Ajari kami, agar kami semakin merindukan Kerajaan Surgawi yang memang akan membuat kami serupa dengan Engkau sendiri, yang adalah sang Empunya kehidupan ini. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.  Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup'.

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening