Minggu dalam Pekan Adven IV, 20 Desember 2015

Mi 5: 1-4  +  Ibr 10: 5-10  +  Luk 1: 39-45




Lectio

 

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.  Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.  Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus,  lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.  Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?  Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.  Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."




Meditatio

 

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Berani juga Maria pergi ke pegunungan ke sebuah kota. Apakah dia sendirian pergi ke sana? Apakah maksud Maria berangkat ke sana? Apakah memang dia pergi sendirian atau bersama dengan orang lain, minimal ada seorang pekerja yang mendampingi mengendarai keledai?  Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.  Maria langsung masuk ke rumah Elizabet. Mengapa Lukas tidak menyebut masuk ke rumah Zakharia? Apakah Lukas tidak menyebut Zakharia, karena memang pertemuan ini adalah urusan perempuan? Maksud  dan tujuan sudah jelas, maka Lukas tidak merasa perlu menyebut Zakharia?  

Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus. Sapaan Maria benar-benar menggugah Elizabet yang sedang berkanjang dalam sukacita. Dia sedang mengandung dalam bulan yang keenam. Sapaan Maria pun mendatangkan berkat bagi Elizabet, sehingga dia dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus. Elizabet semakin bersukacita dengan kedatangan Maria,  lalu berseru dengan suara nyaring: 'diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu'. Darimana Elizabet tahu bahwa Maria adalah seorang perempuan yang terberkati? Terlebih-lebih tahu dengan baik, bahwa Maria dalam keadaan berbadan dua.  Darimana Elizabet mengetahuinya? Apakah karena kuasa Roh Kudus yang hadir dalam dirinya?  'Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?'.  Sebuah ungkapan kerendahan hati yang begitu mendalam. Elizabet yang sudah berusia berani berkata kepada seorang perawan muda sebagai ibu Tuhan. Elizabet tahu: ada Tuhan dalam diri Maria, orang kecil dan sederhana ini yang mengunjungi dirinya. Apakah Elizabet menyadari sungguh akan kehendak Tuhan melalui nabi Mikha,  bahwasannya  'akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala'  (Mi 5: 1) itu terjadi pada diri Maria?  Apakah Elizabet tahu dan sadar, bahwa memang Anak yang dikandung Maria inilah yang akan dipersiapkan sebaik mungkin oleh anak yang dikandungnya sekarang ini?

Elizabet yang sadar dirinya sebagai seorang yang mempunyai posisi sosial tinggi, sebagai seorang isteri imam bait Allah, mau merundukkan diri dan mengakui ada orang yang lebih hebat dan mulia daripada dirinya. Apalah aku ini di hadapan dia, sang ibu Tuhan. Dan jujur saja,  'sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan'. Sebelumnya belum pernah terjadi seperti ini. Saya tahu anak yang aku kandung adalah seorang laki-laki, tetapi dia tidak banyak gerak. Dia mungkin seorang pendiam. Hari ini dia melonjak, karena dia pun merasa ada Bayi kecil yang lebih agung dan mulia daripada dirinya. Apakah lonjakan bayi kecil dalam kandungan Elizabet sedang merundukkan diri dan tersungkur di hadapan Dia yang lebih agung dan mulia, yang memang kelak membuka tali sandalNya pun dia merasa tidak layak? Apakah malah bayi kecil itu sedang melompat-lompat kegirangan dan menyanyikan alleluya, puji Tuhan, karena Engkau sungguh datang?  

'Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana'. Sebuah ungkapan iman seorang Elizabet, bahwa kehendak Tuhan itu akan selalu terlaksana dalam diri setiap orang yang percaya kepadaNya. Keberanian setiap orang mengamini sabda dan kehendak Tuhan amat membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi Tuhan untuk berkarya dalam diri umatNya. Kita diminta untuk mengamininya, karena Allah tidak mau memaksa umatNya. Inilah kelemahan Allah, yakni bahwasannya Dia tidak mau memaksa umatNya. Keselamatan dan sukacita hanya dinikmati oleh orang-orang yang percaya dan mengharap kepadaNya.



Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur karena sebentar lagi kami merayakan kelahiranMu, yang menghadirkan kembali karya keselamatan Tuhan bagi setiap orang yang percaya kepadaMu. Amin



Contemplatio

'Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening