Pesta Keluarga Kudus, 27 Desember 2015

1Sam 1: 20-28  +  Maz 84  +  Luk 2: 41-52



Lectio

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tuaNya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.

Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasanNya dan segala jawab yang diberikanNya. Dan ketika orang tuaNya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibuNya kepadaNya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? BapaMu dan aku dengan cemas mencari Engkau." JawabNya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?" Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakanNya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibuNya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

 

 

 

Meditatio

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Tiap-tiap tahun orangtua Yesus ke Yerusalem, tetapi apakah Yesus tidak pernah ikut dan baru sekarang ketika berusia 12 tahun? Menurut hukum Yahudi anak laki-laki dianggap dewasa ketika berusia 12 tahun dan harus melakukan semua ketetapan yang diwajibkan bagi mereka. Maka ketika Yesus berusia 12 tahun, secara hukum Yesus telah dewasa dan harus melakukan ziarah ke Yerusalem untuk merayakah Paskah di sana. Perayaan Paskah biasanya berlangsung selama 7 hari, para peziarah tidak harus menyelesaikan seluruh upacara tersebut. Paskah benar-benar pesta yang amat melelahkan, sebagaimana umat Israel yang lelah berjalan dari Mesir sampai ke tanah terjanji.

Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tuaNya. Bagaimana seorang anak yang berangkat bersama dengan orangtuanya bisa tertinggal tanpa diketahui orangtuanya? Logikanya anak pasti berjalan selalu dalam rombongan orangtuanya. Ternyata kebiasaan di sana, wanita dan anak-anak berjalan dalam rombongan dan berangkat lebih dahulu, karena mereka berjalan lebih lambat. Sedangkan rombongan laki-laki berangkat belakangan karena berjalan lebih cepat, dan baru ketemu di suatu tempat yang sudah disepakati sebagai tempat beristirahat. Jadi bisa dimaklumi mengapa Yesus bisa sampai tertinggal, karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, Maria mengira Yesus bersama rombongan laki-laki, sedangkan Jusuf mengira Yesus ada bersama ibuNya. Ternyata antara Maria dan Jusuf juga terjadi miskomunikasi. Salaing mengira inilah yang sering terjadi dalam keluarga. Saling mengandaikan ternyata tidak beanyak menguntung banyak orang. Lebih baik kita berbicara semenjak semula. Maka berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Cukup jauh juga perjalanan mereka, dari Yerusalem sampai tempatnya bertemu, disebutkan sehari perjalanan, baru menyadari Yesus tidak bersama mereka. Pengandaian yang tidak mengunutngkan banyak orang, juga akan membuat kita berjalan mulai dari no kembali.  Segala usaha selama ini terasa sia-sia, tanpa kemajuan karena kita harus mengawali dari semula.

Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah.  Sungguh hebat Yesus ini' seorang Anak remaja duduk bersama dalam rumah ibadat berhari-hari lamanya. Ternyata  Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Pada hari-hari raya biasanya para rabi suka berada di bait Suci untuk menjawab pertanyaan para peziarah. Yesus rupanya tertarik dengan diskusi mereka, Yesus mendengar dan bertanya, yang adalah lazim bagi seseorang yang sedang belajar dari gurunya. Tetapi mengapa semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasanNya dan segala jawab yang diberikanNya? Yesus tidak hanya bertanya, tetapi juga menjawab, yang membuat orang-orang heran karenaNya. Tentunya yang menjadi pembicaraan mereka adalah tentang isi kitab perjanjian lama, yang mana Yesus memahami itu semua karena dalam diriNyalah kehendak Allah dinyatakan.

Ketika orang tuaNya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibuNya kepadaNya: 'Anaku, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? BapaMu dan aku dengan cemas mencari Engkau'.  Pertanyaan dan sekaligus ungkapan kecemasan seorang ibu terhadap anaknya. Sebuah pertanyaan yang penuh tanggungjawab. Maria dan Yusuf  telah mengamini sabda Tuhan untuk menerima Yesus dalam keluarga.  Tetapi  jawabNya kepada mereka:  'mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?'.  Bayangkan itu adalah jawaban anak kita, tentunya kita merasa anak kita sangat kurang ajar dengan jawaban seperti itu. Apa yang dimaksud dengan harus berada di rumah BapaKu? Bukankah rumah bapaNya adalah rumah bapak Jusuf di Nazaret? Di sini Yesus mulai mengungkapkan jati diriNya. Bahwa Dia mempunyai kewajiban terhadap Allah, yaitu BapaNya. Dia harus, itulah kehendak Bapa dalam diriNya.  

Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakanNya kepada mereka. Misteri Yesus memang belum dapat dipahami sebelum Dia wafat di salib. Sabda Tuhan tidak bisa langsung dimengerti oleh setiap orang, mengingat amat terbatasnya daya tangkap akal budi kita. Mau tidak mua kita harus berani merenungkannya dalam hati,dan bertanya langsung kepadaNya, sembarmemohon bantuan terang Roh KudusNya. Maria, ibuNya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Sikap itulah yang harus dilakaukan setiap rang setelah membaca Kitab Suci, setelah mendengarkan sapaan sabda dan kehendak Allah. Maria memang seorang pendengar dan pelaksana sabda Allah yang handal sungguh.

Lalu Yesus  pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Yesus sebagai anak Maria dan Josef tetap taat kepada orangtuaNya.  Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.  Maria beriman bahwa sungguh suatu karya Allah yang besar akan terjadi dalam diri Yesus Putranya itu. Seperti Hana yang percaya, bahwa anak yang didapatkannya dengan berdoa kepada Tuhan, dan Tuhan telah memberikannya apa yang dimintanya.  'Aku menyerahkan anak ini kepada Tuhan, seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan'  (1Sam.1:28). Dan  Samuel makin besar dan Tuhan menyertai dia dan tidak ada satupun dari firmanNya itu yang dibiarkanNya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Betsyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi Tuhan (1Sam3:19-20).




Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar semakin memahami kehendakMu, bahwa Engkaulah sang Sabda yang menyelamatkan. Dan kamipun semakin bijak dalam sikap hidup, serta dapat menjadi teladan bagi sesama. Amin



Contemplatio

'Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?'

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening