Pesta santo Stefanus, 26 Desember 2015

Kis 6: 8-10; 7: 54-58 + Mzm 31 + Mat 10: 17-22

 

 

 

 

Lectio

Suatu hari bersabdalah Yesus kepadda para muridNya: 'waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena namaKu; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat'.

 

 

Meditatio

Ketika Yesus memberikan nasihat pada para murid yang akan diutusNya, agar cerdik dan tulus, Yesus juga berpesan: 'waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya'. Mengapa Yesus memberi pesan yang sepertinya menakut-nakuti para murid? Apakah Yesus ingin menguji mereka? Tak dapat disangkal Yesus ingin mengajarkan mereka bahwa perutusan yang akan mereka alami tidak lepas dari konflik dan penolakan, bahkan penganiayaan.  Yesus mempersiapkan murid-muridNya, mereka ibaratnya kawanan domba tak berdaya di tengah-tengah serigala. Yesus sudah memberitahu resiko untuk mengikut dirNya.

'Karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah'. Mengapa penguasa dan raja-raja yang disebut? Penolaakan dari penguasa adalah penolakan yang terang-terangan, dan mereka tidak mau tahu dengan keberadaan orang lain. Orang lain harus ditiadakan, minimal dibuat tidak bersuara.  Penolakan mereka benar-benar frontal. Penolakan lebih keras lagi adalah dari mereka orang-orang yang tidak mengenal Allah. Tidak ada kasih dalam diri setiap orang yang tidak mengenal Allah.  Namun inilah kesempatan bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Inilah kesempatan bersaksi bagi orang-orang beriman. Kesaksian nyata.

'Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga'. Seperti ketika Musa diutus Allah untuk membebaskan bangsa Israel dari Mesir, Allah berjanji pada Musa: 'pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan' (Kel.4-12), demikian juga akan dinikmati bagi mereka para murid. Kesaksian adalah keinginan Allah. 'Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu'.  Para murid diminta untuk memberi kesaksian yang dkehehndaki Allah dan bukan yang dikehendaki manusia. Kesaksian seperti yang dialami  Stefanus yang berjuang membela iman dan hidupnya, sehingga  'mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara'  (Kis 6: 10). Bahkan tidak segan-segan, karena pengenalan akan Kristus Tuhan,  'orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Apa yang dimaksudnya itu? Sungguhkah akan terjadi, bahwasannya seorang ayah membunuh anak dan sebaliknya? Mengerikan juga situasinya kalau seperti itu. Semua itu harus dihadapi bagi orang-orang yang menghayati sebuah kebenaran. Menghadapi kebenaran tak jarang orang harus memilih, menerima atau menolaknya. Sikap inilah yang mengakibatkan perpecahan dalam keluarga, dengan sesama. Sekali lagi, karena kebenaran, dan terlebih karena Kristus, kita harus berani memilih. Memilih Kristus berarti meniadakan yang bukan kristus.

'Kamu akan dibenci semua orang oleh karena namaKu; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat'. Upah dari keberanian untuk memilih Kristus adalah keselamatan, karena memang Dialah sang Empunya keselamatan. Keberanian menerima Yesus lahir di dalam keluarga kita membuat kita mendapatkan keselamatan yang dibawaNya dari Bapa di surge, walau tak dapat disangkal kita harus berhadadpan dengan orang-rang yang tidak mengehndaki Kerstus ada dalam keluarga. Sebab kehadiran Kristus dalam keluarga membuat keluarga bercahaya, dan bahkan menjadi terang bagi sesame. Penolakan akan Kristus terjadi karena tak jarang kita 'manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak' (Yoh 3: 19-20).

 



Oratio

Ya Yesus Kristus, Engkau sendiri yang selalu hadir dan mendampingi kami, kiranya kamipun semakin dimampukan dan berani untuk menjadi saksi dalam memberitakan InjilMu.

Santo Stefanus, doakanlah kami. Amin

 



Contemplatio

'Kamu akan dibenci semua orang oleh karena namaKu; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening