Selasa dalam Pekan Adven I, 2 Desember 2015


Yes 25: 6-10  +  Mzm 23  +  Mat 15: 29-37

 

 

Lectio

Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan." Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: "Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?" Kata Yesus kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" "Tujuh," jawab mereka, "dan ada lagi beberapa ikan kecil." Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh.

 

 

Meditatio

Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Yesus naik gunung dan turun gunung. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak terikat tempat; bukankah memang sabda diwartakan di seluruh dunia? Yesus punya kuasa atas alam semesta, tetapi Dia mau turun naik, melelahkan diri hanya demi sesamaNya. Menjadi seperti orang lain, dan menyenangkan sesama sepertinya gaya hidup Tuhan. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain. Dari mana mereka tahu kalau Yesus ada di situ? Bukankah Yesus sering pergi secara diam-diam, dan tak ingin diketahui banyak orang? Kehadiran Tuhan selalu dirasakan oleh mereka yang merindukan kehadiranNya. Apakah mereka mempunyai relasi istimewa dengan yang sakit? Tentunya. Bukankah kasih terbuka bagi setiap orang? Kita pun tentunya diajak untuk semakin berani membawa mereka yang sakit dan berkekurangan kepada Tuhan. Doa bagi mereka yang sakit minimal sebagai ungkapan keberanian kita membawa mereka kepada Tuhan. 

Mereka meletakkan orang-orang sakit itu pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Dia penuh belaskasih. Tidaklah ada tanya jawab Yesus dengan mereka. Yesus tahu apa yang menjadi kebutuhan umatNya. Yesus adalah Penyembuh dan Pemenuh kebutuhan umatNya. Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel. Segala yang indah memang membuat orang secara otomatis melambungkan pujian kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu membuat segala-galanya baik. Kita adalah orang-orang yang telah banyak menerima segala yang indah dan baik; tentunya kumandang syukur dan pujian harus lebih kuat dari mereka. Bukankah yang menerima banyak dituntut banyak daripadanya pula?

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan." Yesus memang mempunyai hati terhadapnya umatNya. Dia tidak hanya memperhatikan keinginan hati, tetapi juga kebutuhan kongkrit keseharian umatNya. Yesus tahu dan mengerti akan kesetiaan umatNya yang mendengarkan pengajaranNya. Yesus bukan saja tidak menghendaki umatNya binasa; pingsan dan bersengsara pun tidak dikehendakiNya. 

Namun, "Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?", komentar para murid yang menyetujui kemauan Yesus. Ide yang amat bagus, tetapi bagaimana untuk mendapatkan roti untuk orang sebanyak itu. Para murid berkata demikian, tentunya mereka setelah memperkirakan jumlah orang-orang yang ada di situ. Bukankah pada waktu itu belum ada hollandbakery ataupun breadtalk? Namun semuanya itu malah menunjukkan bahwa para murid adalah orang-orang pelupa, mereka terselimuti oleh budaya mudah lupa. Bukankah Yesus baru saja memperganda roti untuk lima ribu orang (Mat 14)? Bukankah Yesus juga sudah menunjukkan kuasaNya atas alam semesta dan kehidupan ini dengan pelbagai mukjizat yang telah diadakanNya?  Kata Yesus langsung menunjuk kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" "Tujuh," jawab mereka, "dan ada lagi beberapa ikan kecil." Penyebutan adanya beberapa ikan itu, apakah tidak menunjukkan bahwa memang mereka masih ingat dengan mukjizat pergandaan roti? Mengapa mereka tidak langsung saja memohon kepada Yesus untuk melimpahkan mukjizatNya kembali? Demikian juga mengapa Yesus yang telah melakukan semuanya itu masih perlu bertanya kepada para murid? 

Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh. Adakah perasaan dalam diri mereka, bahwa pada waktu itu  'TUHAN semesta alam menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya', sebagaimana diceritakan dalam kitab Yesaya (bab 25)?.

Semua diam setelah peristiwa pergandaan roti itu. Tidak ada yang melambungkan syukur dan terima kasih atas rahmat dan berkatNya. 'Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!' (Yes 25: 9-10). Ucapan syukur inilah yang seharusnya mereka ungkapkan; sekaligus keberseringan mereka menerima anugerah dan rahmat Tuhan seharusnya  mempermudah setiap orang melambungkan syukur dan membuat orang secara otomatis memohon bantuan dan berkat kepadaNya. Yesus tidak hanya pandai mengajarkan keselamatan, tetapi juga memperhatikan keperluan keseharian kita.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau selalu memperhatikan kami dalam segala persoalan hidup kami. Ajarilah kami juga berani membawa sesama kami yang sakit dan berkekurangan ke dalam pelukan tangan kasihMu, agar mereka menikmati sukacita dan penghiburan yang berasal daripadaMu sendiri.

 

         

Contemplatio

"Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu".

 

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening