Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, 1 Januari 2016

Bil 6: 22-27  +  Gal 4: 4-7  +  Luk 2: 16-21

 



Lectio

Pada waktu itu juga mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.  Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.  Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.  Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.  Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.  Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

 

 

Meditatio

Pada waktu itu juga mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.  Mereka segera berangkat. Segera bergegas-gegas, karena berita yang mereka terima adalah warta sukacita. Warta sukacita selalu menyemangati setiap orang yang percaya kepadaNya.  Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Mereka bangga, karena dengan mata kepala sendiri melihat seorang Tuhan terbaring di hadapan mereka. Sukacita ilahi benar-benar terpancar dalam diri seorang anak kecil, sebagaimana dikatakan oleh bala tentara surgawi.  Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Siapakah banyak orang yang mendengarkan mereka? Bukankah mereka semua itu hanya Maria, Yusuf dan para gembala? Apakah ada orang-orang lain sekitar kandang Natal itu? Apakah orang-orang itu datang setelah mendengar tangisan seorang Bayi kecil? Namun tak dapat disangkal memang, semua orang bergembira dan mengamini apa yang diceritakan para gembala. Mereka, para gembala, memang bukan para pewarta, tetapi mereka menceritakan kabar sukacita, karena pengalaman hidup mereka. Semua orang dibuat bergembira dan penuh sukacita karena pengalaman indah yang dinikmati para gembala.

Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Pengenalan dan pengalaman Maria terhadap sang Anaknya itu semakin bertambah. Maria semakin menaruh hormat kepada Anaknya sendiri. Maria tahu Siapakah Dia yang baru dilahirkannya itu. Betapa indahnya hidup ini;  betapa mulianya karya Tuhan Allah semesta.

Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.  Segala-galanya ada waktunya. Selesai melihat semuanya itu, mereka pun pulang. Para gembala tahu diri. Mereka tidak seperti Petrus yang ingin berlama-lama di gunung, karena melihat kemuliaan Yesus bersama Musa dan Elia.

Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. Maria dan Yusuf kiranya semakin tidak ragu-ragu untuk memberi nama Yesus kepada sang Bayi, sebab para gemba telah memberi kesaksian bahwa Bayi yang terbungkus lampin dan terbaring di palungan itu adalah Kristus Tuhan. Kini Dia datang ke tengah-tengah umatNya, dan hendak menyelamatkan seluruh umat manusia. Yesus itu benar-benar Allah yang menyelamatkan.

 

 

Collatio

Hari ini seluruh Gereja merayakan Santa Maria Bunda Allah. Mengapa Gereja berani menyebut Maria sebagai Bunda Allah? Mengapa tidak berani; bukankah ada tersurat dalam Kitab suci? Bukankah Elizabet sendiri menyebut Maria gadis muda dan sederhana itu sebagai Bunda Tuhan. Tuhan itu Allah. Bukankah Allah, seperti direnungkan oleh Paulus dalam suratnya kepada umat di Galatia, 'mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat' (4: 4). Bukankah perempuan yang melahirkan itu layak dan pantas kita sebut ibu? Dia yang lahir adalah Tuhan, bukankah kita memang layak menyebut sang ibu sebagai ibu Tuhan, Bunda Allah.

Kalau kita saja disebut anak-anak Allah dan diberi kemampuan untuk menyebut Allah sebagai 'ya Abba, ya Bapa!', apalagi Maria yang menikmati pelbagai karuniaNya yang indah kita panggil sebagai Bunda Allah. Kita menyebut Maria Bunda Allah bukan dimaksudkan untuk menggandengkan dengan Allah Bapa. Maria bukan Allah Bunda, Maria adalah Bunda Allah karena melahirkan Tuhan Yesus yang adalah Allah. Kita pun adalah anak-anak Allah, bukan karena kita mempunyai orangtua Allah Bapa dan Bunda Allah. Kita disebut anak-anak Allah, karena memang kita adalah umat milik Allah Bapa sendiri. Pada hari raya ini, kita saja bersyukur atas kebundaan Allah Maria, tetapi juga syukur atas karunia indah sebagai anak-anak Allah, saudara dan saudari Yesus Kristus yang telah turun ke tengah-tengah dunia.

Sebagaimana Kristus yang datang ke dunia membawa damai, sebagaimana dinyanyikan oleh para malaikat : 'kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya' (Luk 2: 14), demikian juga setiap kita yang terpanggil sebagai anak-anak Allah.  Sebagaimana juga semenjak awal dunia 'TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera'  (Bil 6: 26), demikian kita pun diajak untuk membawa damai bagi dunia, bagi sesama kita. Hari ini sekaligus adalah hari perdamaian sedunia, karena kita harus mengawali dengan orang-orang yang ada disekitar kita, terutama dengan keluarga.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, Engkaulah penyelamat dunia, datang membawa damai dan sukacita bagi setiap orang yang percaya dan berharap kepadaMu. Kiranya kehadiran kamipun mendatangkan damai bagi sesama di sekitar kami.

Santa Maria bunda Allah, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Bayi itu diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening