Kamis dalam Pekan Biasa I, 14 Januari 2016

1Sam 4: 1-11  +  Mzm 44  +  Mrk 1: 40-45

 



Lectio

Suatu hari seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku."  Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir."  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.  Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras:  "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka."  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

 

 

Meditatio

Saya tertarik untuk membandingkan kedua teks yang sama, yakni antara Markus dan Lukas

Suatu hari seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus. Entah di mana peristiwa itu terjadi menurut Markus, sedangkan Lukas menyebut terjadi di sebuah kota, walau tak disebutkan juga nama kotanya. Orang datang sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya.  Lukas malah menegaskan orang kusta itu tersunggkur, dan bukan hanya berlutut. Tersungkur sepertinya malah menunjukkan keberundukan diri seseorang. Dia berserah dan berserah kepada Orang yang dihadapainya.  'Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku', cerita Markus, sedangkan Lukas mengatakan bahwa orang itu masih mau menyebut dan menyapa Yesus sebagai tuan. Apakah Markus tanpa menyapa terlebih dahulu, apakah permintaan itu dipandang sebagai kesetaraan di hadapan Tuhan? Atau malah Lukas melihat secara khusus dimensi hirarkhis, karena Dia yang dihadapai itu adalah Orang terhormat dan punya nama, maka dia menyapaNya terlebih dahulu sebagai Tuan? 

Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: 'Aku mau, jadilah engkau tahir'.  Kemauan Tuhan menjadikan segala-galanya baik adanya. Dan benar memang,  seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.   Yesus tidak merasa direndahkan dengan permintaan yang tanpa menyapa diriNya diriNya terlebih dahulu. Direndahkan sepertinya menjadi pola hidup Yesus. Yesus menerimanya dengan tangan terbuka. Semua memang menunjukkan pengalaman iman seseorang dalam mengenal Tuhan. Orng kusta itu berani bermohon, tetapi tidak memaksa Dia yang dimintainya bantuan. Dia hanya berani mengatakan  kalau Engkau mau,  dan bukannya tahirkan aku. Dia orang yang tadinya kusta juga tidak menggampangkan dan mendikte Tuhan dengan kepercayaan yang dimilikinya. Dia tidak seperti orang-orang Israel, sebagaimana diceritakan dalam kitab pertama Samuel (4: 1-11), yang merasa berada dalam posisi yang tepat dengan mengangkat tabut perjanjian untuk  mendapatkan bantuan dari Tuhan. Mereka tidak memikirkan bagaimana harus mengalahkan musuh, melainkan dengan enaknya berlari dengan menyembunyikan kepala dalam gundukan pasir sebagaimana dilakukan burung unta. Orang memang harus berani meminta bantuan Tuhan, tetapi tentunya kemampuan akal budi dan kehendak bebas tetap harus dikumandangkan dalam setiap perjuangan hidup. Allah telah membekali umatNya dengan segala kemampuan yang indah adanya. Orang yang beriman kepada Tuhan Allah tidaklah berarti menggampangkan aneka peristiwa kehidupan dalam tanganNya yang kudus.

Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras:  'ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka'. Yesus sama sekali tidak memikirkan diri untuk tebar pesona. Yesus pun tidak mencari pengikut dengan karya penyembuhan yang telah dilakukan. Ada banyak komunitas-komunitas yang mencari anggota dengan berbuat baik kepada mereka. Kebaikan akan tetap dinikmati, asal saja mereka ikut bergabung dengan komunitas yang menyembuhkan. Komunitas merasa berjasa, dan semua orang akan menikmat berkat, kalua bersatu dalam komunitasnya. Ada komunitas-komunitas semacam itu memang. Kalau Yesus meminta orang itu pergi kepada imam dan mempersembahkan persembahan, karena itulah kehendak Tuhan yang disampaikan oleh Musa sebagaimana tersurat dalam kitab Taurat. Yesus melakukan segala kebaikan, tetapi tidak mengubah segala yang ada.  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Markus dengan terang-terangan menyebutkan orang yang tadinya kusta itulah yang memberitakan kepada siapaun tentang karya penyembuhan yang dinikmatinya. Sedangkan Lukas tidak menyebutkan secara tegas siapakah yang menyampaikan. Namun tak dapat disangkal berita penyembuhan tersebar ke mana-mana, bahkan menghalang-halangi  Yesus untuk mewartakan kabar sukacita di kota.  Yesus tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. Apakah orang yang tadinya kusta itu melakukan dosa yang tidak mendatangkan maut? (1Yoh 5). Ada baiknya kita selalu bertindak bijak dalam setiap langkah hidup kita.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, teguhkanlah iman kami untuk selalu berani datang kepadaMu dan bermohon selalu akan perlindungan dan kasihMu. Kami berkata demikian, karena kami seringkali malas dalam hidup ini, malah menggampangkan dan mengandaikan segala sesuatu akan berjalan dengan baik adanya.

Yesus teguhkanlah iman kepercayaan kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio

               'Aku mau, jadilah engkau tahir'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening