Minggu dalam Pekan Biasa IV, 31 Januari 2016

Yer 1: 4-5  +  1Kor 12:31 – 13:13  +  Luk 4: 21-30

 



 

Lectio

Suatu hari  Yesus memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."  Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"  Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!"  Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.  Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.  Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.  Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."  Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.  Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.  Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

 

 

Meditatio

               Setelah Yesus mengatakan: 'pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya', banyak orang terpanah pada diriNya, dan mereka semua membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya. Namun mengapa mereka spontan berkata: 'bukankah Ia ini anak Yusuf?'. Apakah yang dikatakan oleh mereka itu berbeda orangnya?  Mungkin saja yang seorang mengamini, yang lain tidak. Ada orang-orang yang pro terhadap Yesus, dan ada pula yang contra padaNya. Bukankah mereka itu kumpulan dari banyak orang? Kenyataan semacam inilah yang menegasi bahwa suara rakyat itu suara Tuhan. Tak jarang malah ada beberapa orang yang kuat suaranya yang memanag tidak mewakili keseluruhan suara yang ada.

               Yesus ternyata menangkap baik apa yang mereka pikirkan. Mereka berkata demikian, karena memang ternyata mereka telah banyak mendengar tentang Yesus. Di satu pihak, memang mereka kagum dan heran, tetapi tak dapat disangkal mereka sulit menerima keberadaan Yesus yang mempunyai banyak talenta. Bagaimana Anak seorang tukang kayu mempunyai kepandaian yang begitu luar biasa? Dia ini penuh kuasa. Ketidakmampuan mereka menerima Anak tukang kayu ini diperparah oleh ke-tidak-pernah-an Yesus melakukan segala yang indah dan baik itu di darah mereka, di kampong halamanNya sendiri. Bagaimana nas Yesaya itu hari terpenuhi, kalau kita hanya mendengarkan pengajaranNya?  Bukankah Dia tidak pernah memberi penglihatan kepada orang-orang buta dan pembebasan kepada mereka yang tertawan?  Yesus menangkap isi hati mereka. Maka dengan tegas dan terus terang Yesus berkata: 'kamu pasti akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!'.

               Mengapa Yesus tidak melakukan segala sesuatu dengan indahnya itu dan mengawalinya di kampong sendiri? Bukankah akan menjadi kebanggaan bagi mereka semua. Mengapa Yesus melakukan segala sesuatu yang indah itu di Kapernaum? Apakah kebaikan orang-orang Nazaret tidak cukup menjadi prasyarat untuk melakukan segala yang baik dan indah? Bukankah Kapernaum juga banyak melakukan kejahatan dan dosa, sehingga Yesus pun mengecamnya? (Mat 11: 23)

               Mengapa selama ini Aku tidak melakukan segala sesuatu di tengah-tengah kamu seperti yang Kulakukan di Kapernaum?  'Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar:  pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu'. Aku pun demikian terhadap kamu. Sebuah teguran yang amat keras. Perkataan Yesus itu sepertinya hendak mengatakan kamu ini tidak pantas menerima segala yang baik dan indah yang dapat Aku lakukan. Kamu memang orang-orang pilihan, tetapi kalian bagaikan kuburan (Mat 23: 27). Kalian adalah orang-orang jahat, tidak layak menerima anugerah yang Aku berikan.

               Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Wajar sungguh mereka marah. Kiranya kita dapat mengerti kemarahan mereka. Namun benarkah perkataan Yesus itu? Tentunya Yesus tidak mengada-ada dalam bicara. Yesus mengatakan kebenaran tentang diri mereka.

               Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Mengapa tidak ada orang mampu mencegah Dia yang berjalan di tengah-tengah mereka? Tidak ada orang yang mampu membinasakan Tuhan Yesus, karena memang Dialah sang Empunya kehidupan. Ciptaan tidak berdaya menghadpi sang Pencipta.

          Kita bukanlah orang-orang Nazaret, yang tidak pernah mengalami kasih karunia Tuhan Yesus. Kita sering melihat dan malah merasakannya sendiri pelbagai karuniaNya yang indah yang dilimpahkanNya kepada kita. Namun tak dapat disangkal, karena ketidakpuasan diri kita, dan ketika kita berada dalam kesulitan, kita sering juga menuntut Yesus dengan mengeluh: mengapa Dia tidak pernah memberikan sesuatu yang benar-benar memberi surprise kepada kita? Benarkah kita ini adalah oran-orang yang haus akan aneka karunia Allah? Atau memang sudah siapkah kita melakukan pelbagai karuniaNya? Ada banyak karunia memang, tetapi kata Paulus menasehati kita, 'berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama' dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi. Karunia-akrunia yang indah itu adalah iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih'.  Sebab 'sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.  Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.  Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku' (1Kor 13).

 

 

 


Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur kepada atas segala anugerah dan karunia yang Engkau limpahkan kepada kami. Ajarilah kami untuk menikmatinya dengan penuh syukur sembari membagikannya demi kehidupan bersama kami sebagai anggota GerejaMu, serta tentunya dengan semua orang yang ada di sekitar kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio    

               'Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!'.

 

 

 




Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012