Rabu dalam Pekan Biasa II, 20 Januari 2016

1Sam 17: 32-51  +  Mzm 144  +  Mrk 3: 1-6

 



Lectio

Pada suatu kali, Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.  Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.  Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!"  Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja.  Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.  Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali, Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.  Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Perang dingin selalu terjadi antara Yesus dan kaum Farisi. Orang-orang Farisi terus-menerus mengamati-amati Yesus, walau sebaliknya Yesus tidak pernah melawan mereka. Perlawanan Yesus, kalau boleh dikatakan begitu, berisikan pengajaran tentang cinta kasih, yang menuntut anggur baru harus dimasukan dalam kantong kirbat yang baru, sebagaimana kita renungkan kemarin. 

Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: 'mari, berdirilah di tengah!'. Yesus sengaja melakukan sesuatu secara demonstrative, yang tentunya tujuannya hanya ingin membuka mata orang akan kehadirian sang Ilahi di tengah-tengah mereka,  Kemudian kata-Nya kepada mereka: 'manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?'. Kalua menyembuhkan pada hari Sabat tetap dikategorikan sebagai pelanggaran hari Sabat, apakah tidak boleh melakukan sesuatu? Di hari Sabat, bukannya orang harus berdiam diri, dan mungkin berdoa terus-menerus sepanjang hari di dalam gereja, melainkan orang harus tetap berani melakukan yang baik dan menyelamatkan sesame. Kesibukan sehari-hari itulah yang harus ditinggal untuk sejenak menarik nafas. Tetapi mereka itu diam saja. Mereka berdiam diri, bukannya tidak tahu apa jawabannya, sebab memang dengan mudah mereka pasti dapat menjawabNya. Namun mereka tak mampu berkata-kata atas kebodohan hidup, dan  tidak mau tahu terhadap orang lain. Mereka itu pandai dalam kitab suci sebatas pengetahuan saja, dan bukannya menjadikannya sebagai pedoman kehidupan.

'Manakah yang diperbolehkan pada hari ini, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?'. Bagaimana seadainya pertanyaan itu disampaikan Yesus kepada kita. Apa yang harus kita katakana?  Saya akan berbuat baik, kata-kata inilah yang harus keluar dari dalam diri seseorang yang telah percaya kepada Kristus, sang Empunya kehidupan. Bukankah kita percaya bahwa Tuhan menyertai kita? Kalau kita yakin Tuhan menyertai kita, maka kita akan selalu memilih yang terbaik dalam hidup kita. Kita tidak perlu gentar menghadapai segala problema kehidupan. 'TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu' (1Sam 17: 37). Daud berkata demikian, karena memang dia yakin bahwa Tuhan Allah di pihak dirinya. Daud yakin akan Immanuel. Kita pun harus berkata begitu.

Yesus berdukacita karena kedegilan mereka, dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka.  Ia berkata kepada orang itu: 'ulurkanlah tanganmu!'.  Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Yesus membuat segala-galanya indah adanya.

Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia. Inilah kejahatan hati orang-orang yang tidak mau menerima diri. Mereka tidak bisa menerima diri, karena memang mereka kalah adanya. Mereka sadar kalau membuat baik dan menyelamatkan orang itulah yang memang harus dilakukan pada hari Sabat. Mereka sadar, tetapi mereka tidak mau menerima diri. Ketidakberanian seseorang menerima diri sendiri akan membuat diri terluka yang tak akan mudah mengering.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, Engkau menyembuhkan orang lumpuh itu guna menunjukkan diriMu, Engkaulah sang Empunya kehidupan, Engkau mampu membuat segala-galanya baik adanya. Ajarilah kami untuk selalu berani memilih yang terbaik dalam hidup ini. Amin.

 

 

 

Contemplatio

               'Manakah yang diperbolehkan pada hari ini, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening