Rabu dalam Pekan Biasa II, 27 Januari 2016

2Sam 7: 4-17  +  Mzm 89  +  Mrk 4: 1-20

 



 

Lectio

Ketika Yesus sendirian setelah menyampaiakan perumpamaan tentanag benih yang ditaburkan, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.  Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,  supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun."  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?  Penabur itu menaburkan firman.  Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.  Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira,  tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.  Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.  Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."

 

 

 

Meditatio

'Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan', tegas Yesus kepada para muridNya. Dia memang secara sengaja mengajarkan segala sesuatu dengan perumpamaam, tetapi tidaklah demikian dengan para muridNya. Kenapa?   'Supaya sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun'. Mengapa Tuhan menghendaki seperti itu? Bukankah Tuhan menghendaki semua orang beroleh selamat?  Apa yang dikatakan Yesus ini sebenarnya sekedar menunjukkan ketegaran hati bangsa Israel dalam mendengarkan sabda Tuhan, sebagaimana pernah diucapkan jauh-jauh sebelumnya oleh Yesaya. Mereka sebagian orang-orang Israel sudah mengambil sikap untuk tidak mau menerima kehadiran sabdaNya. Mereka tidak mau tahu dengan sabdaNya. Yesus tidak mau memaksa mereka, karena martabat mereka yang mempunyai kebebasan  untuk memilih dan  menentukan.   

'Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?', tambah Yesus. Kalau perumpamaan yang mudah ini saja mereka tidak mengerti bagaimana dengan aneka perumpamaan yang lain? Apakah para murid ini amat telmi?  (telat mikir: lamban).   'Penabur itu menaburkan firman', tegas Yesus mulai menerangkan perumpaanNya. Pertama,  'orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka'. Kedua,  'benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira,  tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad'. Ketiga,   'dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah'.  Keempat,  'akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat'.

Kiranya yang ketiga menarik kita simak, sebab kiranya tanah yang di pinggir jalan tidaklah terjadi di di antara orang-orang jaman ini. Demikian juga yang kedua yang mengandaikan adanya penindasan dan penyiksaan; tidak ada kesulitan berat dalam rupa penyiksaan, kecuali sulitnya mendirikan gereja di tengah-tengah bangsa kita tercinta. Sedangkan yang keempat tidaklah usah dibicarakan, dan memang ada banyak juga saudara-saudari kita yang telah menghasilkan banyak buah berkat sabda Tuhan yang mereka dengarkan dan praktekkan dalam hidup sehari-hari. Banyak saudara saudari kita yang tumbuh dan berkembang dan menikmati sukacita,  karena kesetiaannya dalam bergaul dengan sabda. Kiranya juga banyak dari antara kita ini penghayatan sabda kita ini bagaikan benih yang ditaburkan di tengah semak duri.  Aneka kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.  Mengapa? Karena kecenderungan insani kita amatlah kuat. Kepuasan dan kenyamanan diri menjadi menjadi pola kehidupan. Kesemarakan dunia semakin semarak dan mampu memalingkan banyak orang untuk tidak mencari Allah. Ada juga kemapanan hidup sepertinya menjadi ukurn dalam hidup ini, sebaliknya ketengan dan keheningan jiwa dan bathin kurang mendapatkan perhatian. Adakah kekuatiran kita akan menambah sehasta hidup kita? (Luk 12: 25)

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, suburkanlah hidup kami ini agar kami semakin merasakan penyertaan dan kasihMu. Suburnya hidup kami juga yang akan membuat kami tumbuh, bagaikan tanah yang membiarkan sabdaMu tumbuh dan berkembang.

Yesus, segarkanlah hidup kami selalu dengan sabda dan kehendakMu. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Orang yang mendengar dan menyambut firman itu seperti benih ditaburkan di tanah yang baik lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat'.

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening