Sabtu dalam Pekan Biasa IV, 30 Januari 2016

2Sam 12: 1-17  +  Mzm 51  +  Mrk 4: 35-41

 



 

Lectio

Suatu hari  waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang."  Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.  Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.  Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"  Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"  Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?"

 

 

 

Meditatio

Suatu hari  waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka:  'marilah kita bertolak ke seberang'.  Ke seberang? Tentunya kita sulit membayangkan, bila memang kita tidak tahu posisi mereka sekarang ini. Mereka memang sedang berada di Nazaret, tentunya daerah yang berhadapan dengan kota itu yang dipisahkan oleh danau. Hari sudah petang, buknannya mereka harus beristirahat, malah hendak melanjutkan perjalanan ke seberang.  Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.  Menarik kali. Bukannya Yesus beserta para murid yang berangkat, malah ada bebebeapa perahu yang mengikutiNya.  

Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.  Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Aneh juga, taufan mengamuk dengan hebatnya dan perahu hampir dipenuhi dengan air, Yesus malah dengan nyenyaknya tertidur. Mengapa Yesus tertidur dengan pulas? Apakah Dia benar-benar capai, sehingga tidak merasakan sesuatu yang menghantam diriNya? Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: 'Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?'. Mungkin jengkel juga para murid terhadap Yesus.  Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu:  'diam! Tenanglah!'.  Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Yesus berkuasa atas alam semesta. Angin ribut dan danau pun tunduk kepadaNya. 'Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?', seru para murid. Bukankah segala sesuatu tercipta olehNya? Sungguh wajarlah kalau semua ciptaan taat kepadaNya.

Lalu Yesus berkata kepada mereka: 'mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?'. Yesus sepertinya menguji para muridNya dengan membiarkan angin taufan mengganggu mereka. Bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus seharusnya tidak takut dan gentar dalam menghadapi segala sesuatu? Bukankah mereka telah diberi kuasa oleh Yesus, mengapa mereka tidak menghardik sendiri angin taufan itu?  Dan mungkinkah para murid bersama Yesus tenggelam? Apa yang harus dilakukan seandainya mereka percaya? Cukupkah hanya dengan jiwa tenang dan tanpa kepanikan menghadapi semuanya? Kita pun tentunya sering menghadapi gelombang kehidupan.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, dalam realitas kehidupan ini, kami pun sering menghadapi aneka persoalan yang menantang, bahkan menghantam. Ajarilah kami, ya Yesus, untuk tidak takut menghadapi segala sesuatu, sebab memang Engkau beserta kami. Ajarilah kami untuk mengandalkan Engkau dalam setiap langkah hidup kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio   

               'Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?'.

 

 

 




Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012