Sabtu dalam Pekan Natal, 2 Januari 2016

1Yoh 2: 22-28  +  Mzm 98  +  Yoh 1: 19-28

 



Lectio

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?"  Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias."  Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!"   Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"  Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."  Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.  Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"  Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,  yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak."  Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

 

 

Meditatio

'Aku bukan Mesias',  tegas Yohanes kepada orang-orang yang datang kepadanya. Mereka adalah orang-orang pandai dan penuh kuasa, yakni para imam dan kaum Lewi dari ibu kota Yerusalem. Kagetlah mereka.  'Kalau begitu, siapakah engkau? Elia? Nabi yang akan datang?'. Semua dijawab Yohanes dengan kata singkat 'bukan!'. Yohanes sendiri belum sadar bahwa dirinya adalah Elia sebagaimana disadari Yesus sendiri bahwa Yohanes adalah Elia; yang mana pada waktu itu 'mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis' (Yoh 17: 4). 'Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya',  tegas Yohanes Pembaptis. Yohanes tidak mengada-ada. Dia hanya omong apa adanya.."

'Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,  yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak', sahut Yohanes ketika beberapa orang Farisi memprotesnya dengan berkata: 'mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?'. Yohanes tidak menjawab persoalan. Dia tidak menjawab mengapa dia membaptis, kalau memang bukan Dia yang sandalNya pun tidak layak dibukanya. Namun tak dapat disangkal, Yohanes mengakui keagungan Dia yang akan datang; sebaliknya di hadapan Dia yang sudah ada semenjak dunia ada, Yohanes merasa tak berdaya, karena memang dirinya adalah seorang ciptaan dan Dia yang datang adalah sang Pencipta.

Peristiwa  itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis. Mereka semua berarti mempersoalkan tugas perutusan Yohanes. Mereka mengatakan semua itu bahkan di tempat dia berkarya. Apakah mereka semua serius mempersoalkan tugas Yohanes atau memang mereka menantikan kedatangan sang Mesias, Almasih yang menjadi kerinduan banyak orang itu?

 

 

 

Collatio

Kita adalah bukan orang-orang yang mempersoalkan peran Yohanes Pembaptis. Kita juga bukan lagi orang-orang yang mempersoalkan kedatangan Kristus Tuhan, sebab memang kita adalah orang-orang yang percaya kepadaNya. Kiranya yang menjadi persoalan kita adalah sejauh mana kita percaya kepadaNya? Apakah kita semakin percaya kepadaNya? Atau kita hanya bangga dengan sebutan Kristen Katolik tetapi tidak bersikap dan tidak menghayati panggilan hidup kita itu? Kalau Yohanes dalam suratnya pertama mengatakan: 'apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu' (1Yog 2: 24)  Artinya bahwa sabdaNya harus semakin kita pahami dan hayati. Keberanian kita untuk terus mengaminiNya berarti membiarkan sabdaNya itu tinggal dalam diri kita dan tidak membiarkannya dimakan burung ataupun di makan semak berduri yang ada di sekitar kita (lih Mat 13). 'Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa'.

Mengamini sabda dan kehendak Tuhan berarti menjadikan sabdaNya itu sebagai spritualitas hidup. Segala yang kita lakukan berpedoman dan berinspirasi pada sabda itu. Mengamini sabdaNya berarti mengkontemplasikan sabda Tuhan Yesus dalam hidup kita sehari-hari. Kita ingin bersikap dan bertindak seperti Yesus bertindak kepada kita.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami yang sudah menerima Engkau sebagai Penyelamat, kiranya semakin dimampukan untuk menghayati dan mengamini sabdaMu dalam sikap hidup kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,  yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening