Selasa dalam Pekan Biasa II, 26 Januari 2016

2Sam 6: 12-19  +  Mzm 24  +  Mrk 3: 31-35

 



 

Lectio

Pada suatu kali, datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.  Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: "Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau."  Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?"  Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!  Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali, datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Mengapa mereka hendak menjumpai Yesus kembali? Apakah mereka masih termakan issue bahwa Yesus tidak waras lagi, sebagaimana kita renungkan beberapa hari lalu?  Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, sehingga mereka kesulitan untuk mendekati Yesus. Beberapa orang dari mereka berkata kepada-Nya: 'lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau'.  Jawab Yesus kepada mereka: 'siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?'. Apa maksud Yesus berkata demikian? Apakah Dia tidak mau tahu dengan anggota keluargaNya? Apakah Yesus memandang rendah keluargaNya sendiri? 

Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: 'ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!  Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku'. Yesus membuka wacana baru. KeluargaNya bukanlah hanya mereka yangsedarah-kandung dengan diriNya, melainkan semua orang yang melakukan kehendak Allah Bapa di surga. Mengapa? Bukankah memang kita semua adalah anak-anak Allah? Kita mempunyai Allah yang satu dan sama. Allah kita adalah Allah bagi semua orang yang hidup dan mati, tegas Paulus (Rom 14). Semua yang ada di hadapanNya adalah hidup. Maka tentunya orang-orang yang melakukan kehendak Bapa, yang mengamini sabdaNya, tentunya satu saudara dengan Yesus, yang memang datang hanya untuk melakukan kehendak Bapa yang mengutusNya.

Rasa satu saudara sebenarnya juga sudah dialami oleh Daud yang menari-nari bersama umat Israel ketika tabut perjanjian ada di tengah-tengah mereka (2Sam 6: 12-19). Adanya tabut perjanjian dirasakan oleh Daud dan seluruh umatNya, bahwa mereka adalah satu umat, milik Allah yang kudus. Mereka bersorak-sorak sebagai satu saudara, karena mereka semua merasa Allah mengunjungi mereka, dalam tabut perjanjianNya yang kudus.

'Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku', sebenarnya boleh kita lihat juga sebagai kesempatan setiap orang untuk menikmati keselamatan. Israel memang bangsa terpilih semenjak semula, tetapi tak dapat disangkal, Israel banyak tidak menggunakan kesempatan itu. Mereka bagaikan para kebun anggur yang menyandera dan membunuh anak sang empunya kebun anggur. Kesempatan untuk menikmati keselamatan amat dapat dinikmati oleh orang-orang yang benar-benar merindukannya , dan bukannya karena status dan jabatan seseorang. Keselamatan tentunya tidak akan dinikmati oleh orang-orang yang mengutamakan kemapanan hidup. Keselamatan hanya dinikmati oleh orang-orang yang mau berjuang untuk mendapatkannya.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, Engkau memanggil  setiap orang untuk menikmati keselamatan, buatlah kami semakin bersemangat dalam berusaha menikmati keselamatan itu, sembari menjalin persaudaraan dengan semua orang. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku'.

 

 

 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening