Senin dalam Pekan Biasa II, 18 Januari 2016

1Sam 15: 16-23  +  Mzm 50  +  Mrk 2: 18-22

 



Lectio

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"  Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.  Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.  Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: 'mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?'. Dari mana mereka tahu bahwa para murid Yesus tidak berpuasa? Apakah pada waktu itu para murid sedang makan dan minum?  Dalam radisi Yahudi, biasanya pada saat seseorang yang sedang berpuasa tampak dari pakaiannya yang kusam dan wajah yang dibaurin dengan abu. Makanya gampang sekali mengenali murid-murid Yesus yang tidak berpuasa ketika orang lain berpuasa. Apalagi lagi komunitas Yesus pada waktu itu begitu banyak mendapat sorotan dari komunitas-komunitas lainnya.

'Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.  Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa', sahut Yesus kepada mereka. Yesus menjawab mereka dengan sebuah perumpamaan. Seseorang tidak berpuasa di saat pesta kawin diadakan.  Bukankah mereka harus bersukacita bersama mempelai? Seseorang harus tahu menempatkan diri dalam suatu pesta. Bersama Yesus, sang Mempelai, seseorang tidak perlu berpuasa. Mengapa? Karena sebenarnya berpuasa itu dipersembahkan kepada Tuhan Allah. Berpuasa itu tidak sekedar pengendalian diri. Berpuasa yang benar itu selalu dipersembahkan kepada Tuhan. Sekarang mengapa seseorang harus berpuasa, bila memang hidupnya dipersembahkan selalu kepada Tuhan. Memperhatikan kehendak Tuhan itu lebih penting dan indah daripada berpuasa. Memperhatikan sabdaNya itu lebih penting daripada segala bentuk matiraga dan pengendalian diri. 'Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan'  (1Sam.15:22). Mendengarkan sabda Tuhan sendiri lebih penting dan mulia daripada persembahan kurban yang seringkali hanyalah simbol dan lambang dari suatu tindakan.

'Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang, tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula'. Pertanyaan orang-orang Farisi memang membuka wacana baru, bahwasannya untuk mengerti ajaran sang Guru seseorang harus meninggalkan segala konsep lama, terlebih manusia lama. Menerima Yesus dan ajaranNya berarti memang menerima segala-galanya dalam kabaruan hidup. Menerima ajaran Yesus berarti seseorang harus memulai segala sesuatu dari titik nol untuk masuk dalam tahap-tahap berikutnya. Memahami ajaran Yesus hanya sekedar pengetahuan tidak akan mendatangkan keselamatan, bila memang tidak meresap dalam perilaku sehari-hari. Iman tanpa perbuatan itu akan mati.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar siap menjadi kantong baru,  yaitu manusia dengan sikap yang baru dalam menerima ajaran dan sabdaMu, tidak membenarkan diri di hadapan orang lain. Amin

 

 

 

Contemplatio

"Anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula".

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening