Jumat dalam Pekan Biasa IV, 5 Februari 2016

Sir 47: 2-11  +  Mzm 18  +  Mrk 6: 14-29

 



Lectio

Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan: "Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia."  Yang lain mengatakan: "Dia itu Elia!" Yang lain lagi mengatakan: "Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu."  Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata: "Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi."  Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri.  Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!"  Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat,  sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea.  Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!",  lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!"  Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!"  Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!"  Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya.  Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.  Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.  Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.

 

 

 

Meditatio

Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal. Nama Yesus melambung, karena memang karya pengajaran dan aneka mukijzat yang dilakukanNya. Dia mengajar dengan penuh wibawa, bahkan segala sikap dan tindakan menimbulkan banyak perbantahan. Dia membuat baru, tetapi bukan mengada-ada, melainkan karena Dia menyempurnakan segala yang sudah ada dan menjadikannya baru dan indah. Namun memang Yesus tidak pernah menyebutkan siapakah namaNya. Yesus tidak pernah mengatakan Akulah Yesus. Yang aneh, juga tidak ada yang pernah bertanya siapakah namaMu. Para muridpun tidak pernah menceritakan sepertinya siapakah nama sang Guru. Atau para murid juga tidak tahu nama sang Guru? Orang pertama yang mendengar nama itu adalah Yusuf sendiri, sang ayah ketika dia harus berani menerima Maria yang mengandung sang Anak Allah (Mat 1). Wajarlah kalau ada orang mengatakan:  Dia itu Yohanes Pembaptis yang sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia. Dia itu Elia. Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu. Banyak orang meraba-raba dan mereka-reka siapakah Orang Nazaret itu.

'Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi',  komentar tegas Herodes tentang Yesus. Kenapa sang Guru itu dianggap dan disebut Yohanes Pembaptis?  Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. Herodes marah dan jengkel terhadap Yohanes.  Karena Yohanes pernah menegor Herodes, yang  telah mengambilnya Herodias sebagai isteri. Apakah Filipus sudah meninggal dalam peristiwa itu? Apakah Herodias berada dalam posisi milik keluarga Herodes?  'Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!'.  Teguran Yohanes inilah yang sepertinya didengar juga oleh Herodias.  Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat. Sepertinya memang ada permainan antara Herodes dan Herodias. Bila tidak mengapa Herodias harus marah?  Herodes sendiri segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Seorang nabi memang selalu menyampaikan. Kata-kata dan nubuat nabi memang tidak selalu mengenakkan bagi setiap orang yang berpaling dari Allah. Hukum Taurat menyegarkan jiwa dan memberi bekal bagi setiap orang, tetapi semuanya itu dinikmati dan dirasakan oleh mereka yang memang benar-benar merindukan keselamatan dan membutuhkan pedoman hidup yang mengarahkan kepada kebaikan hidup bersama. Namun tak dapat disangkal,  'firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita' (Ibr 4: 12).

Bagaimana dengan kita? sabdaMu adalah kebenaran, hukumMu kebebasan. Lagu inilah yang kiranya selalu kita senandungkan dalam setiap langkah hidup kita.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, sabdaMu adalah kebenaran yang mendatangkan sukacita dan keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepadaMu. Kiranya kami semakin diteguhkan dalam iman dan dijauhkan dari segala irihati, yang membawa kebinasaan.

Santa Agata, doakanlah kami. Amin

 

 

 

Contemplatio            

'Apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia'.                

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening