Jumat dalam Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2016


Yeh 18: 21-28  +  Mzm 130  +  Mat 5: 20-26

 



Lectio

Pada suatu berkatalah Yesus: 'Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.  Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.  Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'.

 

 

 

Meditatio

Pada suatu berkatalah Yesus: 'Aku berkata kepadamu:  jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'.  Sebuah permintaan yang begitu berat dan menantang. Hidup keagamaan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, yang memang dipandang tinggi dan suci pada waktu itu, dianggap masih rendah oleh Yesus. Para murid malah diminta untuk hidup baik lebih dari mereka. Apakah Yesus berkata demkikian mengingat kemunafikan hidup mereka, orang-orang yang mempunyai nama dan pandai dalam kitab suci?  Para murid harus hidup lebih baik dan suci agar masuk dalam Kerajaan Surga. Bagaimana hidup yang lebih benar dan lebih suci itu? Apakah ada targetnya? Ada ukurannya? Minimal kita pernah mendengar ajakan Yesus untuk berani menyangkal diri, tidak mencari kepuasan diri, berani memanggul salib dan selalu meneladan hidup Yesus sendiri, dan menemukannya dalam hidup sehari hari.

'Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum; tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala'. Hidup baik dimulai dalam hati dan budi seseorang. Sikap, tindakan dan perbuatan adalah ungkapan nyata atau pengkonkritan dari sikap hati. Orang yang benar-benar baik adalah  mereka yang hidup baik secara radikal, dan bukannya yang tampak baik. Pembunuhan adalah sebuah tindakan yang memang jahat, tetapi semuanya itu tidak akan terjadi kalau memang tidak timbul kemarahan dalam diri seseorang. Marah adalah akar/radik dari tindakan membunuh. Orang yang baik, bukan dia yang tidak membunuh, melainkan dia yang tidak marah. Karena itu, orang marah pun harus sudah mendapatkan teguran dan hukuman.  

'Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.  Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.  Aku berkata kepadamu: sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'. Rasa damai amatlah penting dalam hidup bersama; tentunya terlebih dengan Tuhan Allah sendiri. Apalah artinya kita membawa persembahan, bila ada pertengkaran satu sama lain. Namun apakah hal itu semua juga bisa tercapai,  bila kita harus berdamai dengan semua sebelum kita mempersembahakan dan bersyukur kepada Tuhan? Bukanlah tidak seorangpun kedapatan sempurna dalam perjalanan hidupnya? Namun tak dapat disangkal, hendaknya kita mempunyai rasa damai dengan setiap orang.  Hanya jiwa pendamai yang sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan, bila hendak mempersembahkan kerban dan ucapan syukur kepadaNya.

Pertobatan memang mendatangkan berkat. Itulah yang dikemukakan oleh nabi Yeheskiel dalam kitabnya bab 18. Orang-orang fasik pun, yang dahulu melakukan kejahatan, akan beroleh keselamatan bila memang berbalik dan berpaling kepada Tuhan dan melakukan kebenaran. 'Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya.  Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya.  Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati'. Keberanian seseorang u ntuk mencabut akar-akar dosa adalah pertobatan sejati, karena sikap dan tindakan itu adalah wujud konkrit seseorang yang tidak mau tenggelam dalam dosa.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus, buatlah kami untuk semakin hari semakin berani mengarahkan hati dan budi hanya kepadaMu, dan secara konkrit tidak membiarkan dosa-dosa kecil tumbuh subur dalam diri kami. Bantulah kami untuk berani mencabut dosa-dosa kami, dan menguduskannya bagiMu. Amin.

 

 

 

Contemplatio               

'Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening