Jumat sesudah Rabu Abu, 12 Februari 2016


Yes 58: 1-9  +  Mzm 51  +  Mat 9: 14-15

 

 



Lectio

Pada suatu kali datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"  Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

 

 

Meditatio

'Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?',  tanya murid-murid Yohanes kepada Yesus. Tentunya mereka melihat dengan mata kepala sendiri, bahwasannya para murid Yesus tidak berpuasa; dan Yesus membiarkan mereka makan minum. Komunitas apa mereka ini sehingga tidak berpuasa? Bukankah berpuasa itu tersurat secara jelas dalam kitab Taurat? Setiap komunitas dalam bangsa Israel hendk mentaati hokum Taurat yang menyegarkan jiwa itu.  Jawab Yesus kepada mereka: 'dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa'. Siapakah yang dimaksud dengan sang Mempelai laki-laki, dan siapakah para sahabat Mempelai? Mungkinkah orang lain? Tentunya tidak. Sudah jelas siapakah Dia. Yesuslah sang Mempelai laki-laki, dan para murid adalah sahabat-sahabat Mempelai. Selama ada bersama Yesus, seseorang tidak perlu berpuasa. Tinggal bersama Yesus seseorang tidak usah berpuasa, sebab bukankah puasa sebagai salah satu usaha untuk memusatkan perhatian  dan diri kita hanya kepada Tuhan? Bukankah segala sesuatu yang menjaring dan membuat kita nyaman itu tak jarang membuat diri kita berpaling daripadaNya? Bukankah puasa kita hendak menomerduakan segala-galanya itu dan mengutamakan atau menomersatukan Yesus dalam idup ini? Puasa dalah penyangkalan diri dan mengarahkannya kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan? Orang yang selalu bersatu dan  bersama Yesus berarti dia selalu mengutamakan Yesus.

Kapan kita tinggal bersama Yesus? Kapan Yesus ada bersama kita? Tentunya ketika  kita hidup dalam kasihNya, ketika kita berani berbagi kasih terhadap sesama. Bukankah Allah sendiri adalah Kasih? Bukankah Yesus datang untuk mewartakan kasih Allah? Bukankah Dia datang untuk membebaskan kaum yang tertindas, dan kabar sukacita bagi kaum miskin?  Berpuasa bukan soal makan dan minum. Berpuasa adalah pengendalian diri dan hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang tentunya melakukan segala kebaikan yang dikehendaki dalam hidup bersama. Berpuasa adalah berbagi kasih dan tinggal dalam kasih itu.   'Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,  supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!' (Yes 58: 6-7), tegas Tuhan Allah sendiri.

Keberanaian kita berbagi kasih malah membuat diri kita bercahaya bagi sesama, dan mendapatkan keberuntungan daripadaNya.  'Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.  Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!' (8-9).

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Tuhan,  Engkau mengundang kami bertobat dan bertobat, dan bukannya hanya berpuasa. Sebab puasa adalah sebagian dari pertobatan. Bertobat mengajak orang hidup sesuai dengan kehendakMu  sendiri.

Yesus, rahmatilah kami selalu. Amin.

 

 

 

Contemplatio            

'Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?'.

 

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening