Minggu dalam Pekan Prapaskah III, 28 Februari 2016

Kel 3: 1-8  +  1Kor 10: 1-12  +  Luk 13: 1-9

 



Lectio

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.  Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?  Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.  Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?  Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian." 

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya.  Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!  Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,  mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!".

 

 

Meditatio

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Jahat kali si Pilatus ini. Apa maksudnya dia bertindak seperti itu? Apakah hendak mempersamakan mereka orang-orang Galilea itu dengan kurban persembahan? Atau malah berdalih agar mereka segera mendapatkan pengampunan dosa dan kesalahan karena darahnya dikurbankan bersama-sama?

'Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?'. Nada negatif malah yang lebih tampak dilakukan oleh Pilatus; bukan memohon pengampuan bagi mereka, malah sebagai penghinaan yang luar biasa.  'Tidak! kata-Ku kepadamu'. Semua itu terjadi, karena kejahatan Pilatus, dan bukannya kesalahan dan dosa orang-orang Galiela. Penguasa memang seringkali bertindak semena-mena, ngawur dan ceroboh, tanpa hati yang berbelaskasih. 'Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian', tegas Yesus. Peristiwa pahit itu sepertinya malah akan dibiarkan oleh Tuhan Allah sang Empunya kehidupan mengenai dan menimpa mereka orang-oang yang tidak mau bertobat. Mengapa sebenarnya orang tidak mau bertobat?  Bukankah bertobat wujud konkrit dari ketidakberdayaan manusia? Bukankah bertobat adalah tanda permohonan belaskasih Allah yang menyelamatkan? Bukankah bertobat itu tanda seseorang yang mau mengandalkan kekuatan Allah, karena memang merasa dirinya tak berdaya? Ketidakmauan orang bertobat, kedegilan untuk terus berkubang dalam lumpur dosa membuat orang sengsara, tidak nayaman, dan tidak bahagia hidupnya.

Demikian juga,  'sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?  Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian'. Lebih baik kita bertobat memang. Kedegilan hati seseorang membuat Allah tidak segan-segan menghukum umatNya, tegas santo Paulus. Ingatlah akan pengalaman umat Israel, bahwasannya 'Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun. Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat'. Karena itu, 'janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka. Janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut' (1Kor 10). Yesus tidak segan-segan akan membedakan dan memisahkan umatNya kelak di akhir jaman, seperti kawanan domba dari kawanan kambing, ikan-ikan yang baik dan yang jelek, dan bulir gandum dari ilalang.

 'Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya.  Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!  Jawab orang itu: tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,  mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!'. Dari perumpamaan ini amat jelas pengertiannya. Pertama, setiap orang harus menghasil buah-buah kebaikan. Bukankah setiap oranag diciptakan sesuai dengan gambar Allah? Kita manusia berbeda dengan aneka ciptaan lainnya. Setiap orang, terlebih yang percaya kepada Kristus Tuhan yang lebih merasakanNya, telah beroleh rahmat penebusan. Setiap orang telah diangkat menjadi putera-puteri Bapa di surga; saudara dan saudari Kristus sendiri. Maka secara kodrati, setiap orang memang mampu menghasilkan aneka kebaikan dari dalam dirinya. Kedua, setiap orang diberi kesempatan untuk berubah menjadi baik dan baik adanya. Pertama karena memang kodratnya baik adanya, dan yang kedua adalah kehendak Tuhan Allah sendiri agar setiap orang berani berubah. Allah memberikan kesempatan, Allah memberi rahmat dan berkatNya yang mendorong dan meneguhkan setiap orang untuk menjadi baik adanya. Allah menghendaki pertobatan. Ketiga, ketidakmauan orang untuk bertobat hanya satu akibatnya, yakni kebinasaan.

Akhirnya, ajak santo Paulus juga dalam suratnya yang sama, seseorang yang sudah 'teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!'. Mari kita berpaut hanya kepada Allah, sang Empunya kehidupan. Sebab memang Dialah sang Empunya kehidupan. Aku adalah Aku, karena di hadapanNya semua orang hidup (Kel 3).

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami untuk berani bertobat. Sebab Engkau benar-benar memberi kami peluang untuk datang kembali, dan bahkan Engkau tidak memperhitungkan kesalahan dan dosa-dosa kami. Amin.

 

 

Contemplatio            

'Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening