Rabu dalam Pekan Prapaskah II, 24 Februari 2016


Yer 18: 18-20  +  Mzm 31  +  Mat 20: 17-28

 



Lectio

Pada suatu hari ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan:  "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.  Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan."

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.  Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."  Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat."  Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya."

Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.  Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.  Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,  dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

 

 

Meditatio

Pada suatu hari ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan:  'sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.  Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan'. Tidak seorang muridpun yang berkomentar tentang kata-kata Yesus itu. Simon Petrus pun tidak. Yerusalem sebagai tujuan perjalananNya sebagaimana pernah dibicarakan bersama Musa dan Elia, ketika Yesus menampakkan kemuliaanNya, segera terpenuhi. Yerusalem, Yerusalem. Sebab tidak ada seorang nabi yang tidak dibunuh di Yerusalem. Yerusalem adalah kota kudus Allah, tetapi di situlah semua para nabi dibunuh. Yang menyerahkan Orang Nazaret itu, bukanlah bangsa asing, melainkan orang-orang sebangsaNya. Mereka adalah para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Karena mereka takut dituduh bersalah, maka pelaksanaan pembunuhan dikerjakan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah.

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Mengapa Zebedeus, ayah mereka tidak ikut?  Kata Yesus: 'apa yang kaukehendaki?'. Apakah Yesus tidak tahu isi hati sang ibu mereka? Tentunya tahu dengan baik. Pertanyaan Yesus adalah pertanyaan sapaan kasih yang menyambut mereka. Jawabnya: 'berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu'. Sebuah permintaan yang benar-benar bertanggunjawab. Pertanyaan dan permintaan seorang ibu yang ingin anak-anaknya hidup mapan dan bahagia. Namun mengapa pertanyaan itu dikemukakan ketika Yesus baru saja menyampaikan rencana hidupNya yang harus mati di kayu salib? Apakah iman akan kebangkitan benar-benar merasuki jiwa mereka, sehingga mereka menghendaki kebangkitan bersama sang Al Masih? 

Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: 'kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?'. Mengapa Yesus berkata bahwa mereka tidak tahu apa yang mereka minta? Hal yang sama juga dicatat oleh penginjil tentang kemauan Petrus yang hendak mendirikan tiga kemah di gunung kudus. Yesus menantang mereka untuk juga berani meminum cawan yang harus diminumNya, yakni memanggul salib kehidupan. Kata mereka kepada-Nya: 'kami dapat'. Apakah Yesus kaget dengan jawaban mereka? Sekali lagi, tentunya tidak.  Yesus berkata kepada mereka: 'cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya'. Jawaban Yesus ini sepertinya hendak mengklarifikasi iman keluarga. Sebagaimana hidup kebangkitan yang tidak kawin dan dikawinkan, demikian pula tidak adanya kembali relasi keluarga. Hidup kebangkitan bukanlah mengandalkan jasa kepahlawanan seseorang, tetapi semata-mata belaskasih Allah yang dilimpahkan kepada setiap orang. Setiap orang memang harus berusaha, tetapi kiranya hendaknya berani mengutamakan belaskasih Allah yang menyelamatkan. Belaskasih Allah kepada orang yang tersalib di sampingNya, Yesus memberikan rahmat yang indah, yakni tinggal bersamaNya di dalam surga.

Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Entah alasan apa mereka marah terhadap kedua bersaudara itu. Apakah mereka bersepuluh tahu benar apa yang dikatakan Yesus, bahkan sebelumnya mereka sudah lama menghayatinya? Atau malah sebaliknya mereka merasa ditinggal oleh kedua bersaudara itu, karena mereka berdua hanya memikirkan diri mereka sendiri?   Yesus memanggil mereka lalu berkata: 'kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.  Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,  dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang'. Yesus menghendaki agar cara hidupNya menjadi spiritualitas hidup bagi setiap orang yang percaya kepadaNya, yang menjadi murid-muridNya, yang ingin menjadi orang nomer satu dalam kebersamaan hidup. Sekaligus Yesus mengjungkirbalikkan gambaran tentang  seseorang yang hendak mendapatkan kesuksesan dan kemuliaan diri. Segala yang indah dan baik hanya dapat diperoleh seseorang bila memang dia berani menjadi  sesama bagi orang lain.

Yeremia pun semenjak awal sudah mengingatkan bahwasannya orang yang berbuat baik tidak selalu mendapatkan balaskasih dari orang-orang yang ada di sekitarnya; tak jarang malahan, orang akan mendapatkan banyak perlawanan dan tantangan. 'Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan nabi tidak akan kehabisan firman. Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya!' (Yer 18: 18). Melayani adalah salib kehidupan; dan barangsiapa bertahan sampai akhir akan beroleh selamat.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu, karena Engkau selalu mengingatkan kami untuk berani bertemu denganMu yang hadir dalam diri sesama kami. Teguhkanlah kami untuk berni melakukan segala sesuatu tanpa pamrih, malah dengan kerelaan diri. Amin.

 

 

 

Contemplatio            

'Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,  dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang'.

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening