Sabtu dalam Pekan Prapaskah I, 20 Februari 2016


Ul 26: 16-19  +  Mzm 119  +  Mat 5: 43-48

 



Lectio

Pada suatu hari berkatalah Yesus: 'kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.  Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.  Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?  Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?  Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

 

 

Meditatio

'Kamu telah mendengar firman: kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu', kata Yesus kepada para muridNya. Cinta kasih terhadap sesama memang bukanlah perintah baru sebenarnya. Kitab Imamat menulis: 'janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN' (19: 18). Namun tak dapat disangkal, sepertinya perintah itu terkalahkan oleh aneka peraturan hokum Taurat yang lebih konkrit dan juga aneka aturan adat istiadat yang ditinggalkan para leluhur. Benarlah juga apa yang pernah juga dikatakanNya, bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan hokum Taurat dan kitab para nabi, melainkan untuk menggenapkannya dan menyempurnakannya.

'Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu.  Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkau pun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya. Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya' (Ul 26). Janji Allah kepada umatNya inilah yang sepertinya hendak diperbaharui oleh Yesus sang Penyelamat. Kepemilikan oleh Allah inilah yang hendak diingatkan oleh Yesus. Menjadi milik Allah tentunya mengamini sabda dan kehendakNya yang menyelamatkan.

 Karena itu,  'Aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu'. Kasih itu tidak membeda-bedakan. Kasih itu tidak bergantung dia yang kita kasihi. Kasih itu keluar dari diri kita sendiri, yang ingin berbagi segala yang indah yang dilimpahkan Tuhan kepada kita. Kasih itu tidak memandang muka. Kasih Yesus pun diarahkan terhadap semua orang, termasuk mereka yang disingkirkan oleh masyarakat, yakni kaum pendosa.  'Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar'. Sebagaimana Kristus Tuhan yang murah hati, sebagiamana Bapa di surga yang tidak membeda-bedakan, demikian jugalah kita yang menyebut diri anak-anak Allah. Anak-anak Allah adalah kita semua yang bersikap dan bertindak seperti Allah. 

'Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?  Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?'. Para murid harus mempunyai nilai lebih daripada para pemungut cukai dan orang-orang yang tidak mengenal Allah, bahkan harus lebih daripada orang-orang Farisi dan para ahli taurat. Yesus bukannya meremehkan mereka semua, tetapi hendak menegaskan bahwa iman kepercayaan kepada Allah hendaknya menjadi pertama dan utama dalam hidup ini, dan bukannya yang lain. Anak-anak Allah bukanlah soal nama, tetapi soal hidup; hidup seperti Allah sendiri. 'Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna'.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus, teguhkanlah kami untuk semakin merasakan menjadi putera-puteri Bapa di surga. Amin.

 

 

 

Contemplatio            

'Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna'.

 

 





Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012