Selasa dalam Pekan Biasa V, 9 Februari 2016

1Raj 8: 22-30  +  Mzm 84  +  Mrk 7: 1-13

 



Lectio

Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.  Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.  Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;  dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.  Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"  Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.  Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.  Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."

Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.  Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.  Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban -- yaitu persembahan kepada Allah --,  maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya.  Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan."

 

 

Meditatio

Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Ada persoalan apa, sehingga mereka mau menjumpai Yesus? Apakah mau diundang untuk berkolaborasi dalam pengamalan hokum Taurat? Bukankah nama Yesus semakin meroket di tengah-tengah mereka? Masuknya Yesus dalam komunitas para ahli kitab akan memperteguh posisi mereka. Pada saat itu koalisi amatlah penting, tidaklah seperti sekarang ini.  Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.  Sejauhmana kebersihan tangan mereka, sehingga mereka makan begitu saja? Apakah para murid ini tidak pernah sakit, karena tangan kotor mereka?  Bukankah dengan bersalam-salam saja mengkondisikan tangat tidak bersih? Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: 'mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?'. Sebuah pertanyaan yang amat wajar sebenarnya. Apakah mereka hanya ingin mengkaitkan dengan adat istiadat? Mungkin menarik juga kalau mengkaitkan dengan dunia kesehatan? Namun kesehatan itu bukanlah bidang mereka, sehingga tidak terpikirkan. 

'Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik!', sahut Yesus. Dia tidak memberi jawaban mengapa, melainkan malah melabrak sikap hidup mereka sendiri. Peristiwa makan para murid hanya menjadi pintu masuk untuk mendobrak kehidupan munafik dari para ahli Taurat.  'Sebab ada tertulis: bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.  Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.  Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia'. Kaum ahli Taurat sepertinya memang sungguh-sungguh sesat. Sebab mereka mengajarkan kitab suci, tetapi perhatiaan hidup hanya terarah pada adat-istiadat, dan bukannya sabda dan kehendak Tuhan. Mereka tidak bisa memilih yang terbaik; minimal mereka mencari segala yang dapat memuaskan kecenderungan insani.

Bukan saja soal membasuh tangan dan mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga, tetapi juga soal biaya hidup bagi orang tua malah digunakan untuk korban,  yaitu persembahan kepada Allah. Mereka tidak merasa salah, kalau membiarkannya seseorang tidak berbuat sesuatu untuk bapanya atau ibunya, padahal Musa menulis: hormatilah ayahmu dan ibumu, dan siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Semua diabaikan, karena mereka mencari keuntungan diri, dan meniadakan orang lain. Sungguh 'firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu'.

'Benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini!  Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana; dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarnya di tempat kediaman-Mu di sorga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni' (1Raj 8: 27-30). Salomo memang orang yang bijak dan rendah hati. Dia telah berhasil membangun rumah ibadat yang agung dan megah, tetapi dia tidak membanggakan diri, sebab apalah arti semua itu bagi Tuhan. Salomo tidak mengukur segala sesuatu dengan dirinya sendiri, melainkan merasakannya dalam kasih dan kacamata Tuhan. Dia tidak membaggakan rumah doa yang dibangunnya, melainkan dia memohon agar Tuhah memperhatikan dan mengabulkan doa-doa yang sempat dipanjatkan dalam rumahNya yang kudus.

 

 

Oratio

Ya Yesus Tuhan,  bantulah kami menghayati panggilan hidup kami. Jujur ya Yesus, kami ini  sering bersikap dan bertindak  munafik, karena memang tidak menghayati panggilan kami. Ajarilah kami untuk serius dalam hidup ini yakni dengan menjalan tugas perutusan yang Engkau berikan kepada kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio            

'Firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu'.

 

 





Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012