Senin dalam Pekan Biasa IV, 1 Februari 2016

2Sam 15: 13-14  +  Mzm 3  +  Mrk 5: 1-20

 



 

Lectio

Suatu hari sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa.  Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia.  Orang itu diam di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai,  karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu.  Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!"  Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!"  Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: "Siapa namamu?" Jawabnya: "Namaku Legion, karena kami banyak."  Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu.

Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan,  lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!"  Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.  

Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka.  Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.  

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia.  Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"  Orang itu pun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

 

 

 

Meditatio

Suatu hari sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa.  Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Siapa orang itu, tidak diketahui namanya, sebaliknya dia mengenal siapa Yesus, maka dia segera mendatangiNya.  Orang itu diam di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai,  karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. Orang itu orang hebat; hebat karena ditakuti banyak orang. Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, tetapi Yesus malah menegurnya:  'hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!'. Namun  dengan keras ia berteriak: 'apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!'. Roh jahat memang selalu tahu dan mengenal siapakah Allah itu. Yang menarik malah Yesus tidak mengenal siapakah dia itu. Yesus bertanya kepada orang itu: 'siapa namamu?'.  'Legion, karena kami banyak', sahut kuasa kegelapan itu.

Orang itu memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu, malah meminta kepada-Nya, katanya: 'suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!'.  Yesus mengabulkan permintaan mereka. Mengapa Yesus mengijinkannya? Mengapa tidak mengusir dan membinasakannya?  Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.  Roh jahat memang selalu membinasakan. Tidak mendapatkan manusia, kawanan babi pun mereka lahap.

Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Mereka tentunya hendak mempertanggungjawabkan tugas yang diembankan kepada mereka. Apakah mereka tahu dengan baik penyebab dari semuanya itu bisa terjadi? Apakah mereka mendengar perbincangan Yesus dengan orang yang kerasukan tadi?  Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka ingin melihat apa yang telah terjadi. Apakah semangat mereka ingin melihat sama dengan semangat para gembala ketika diwartakan, bahwa seorang Mesias lahir di Betlehem? Saya merasa ada bedanya. Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka. Mereka takut dan bertanya siapakah Yesus Orang Nazaret ini. Tidak ada keperkasaan yang ditunjukkanNya, dan tanpa membawa peralatan tertentu, Dia mampu mengalahkan orang hebat dan ditakuti banyak orang.  Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Benarlah memang mereka tidak sama dengan sukacita yang menyemangati para gembala untuk pergi ke Betlehem. Tidak ada pujian dan sukacita kalau ada seseorang yang diselamatkan. Tidak ada sukacita, kalau mereka dibebaskan dari gangguan orang hebat itu. Mereka malah meminta Yesus meninggalkan mereka, berbeda sungguh dengan orang-orang sekitar rumah Simon yang menahan Yesus agar tetap tinggal di tengah-tengah mereka (Luk 4: 42). Mereka meminta Yesus pergi mengingat ternak mereka yang hilang binasa. Mereka orang-orang Gerasa lebih menaruh perhatian kepada harta benda yang mereka miliki, daripada tinggal bersama sang Guru.

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia.  Orang ini sungguh beriman. Dia mau berterima kasih atas hidupnya yang telah dimerdekakan oleh Allah yang penuh kerahiman. Hidup bersama Yesus menjadi keinginan seseorang yang telah menerima rahmat karunia indah daripadaNya. Namun Yesus tidak memperkenankannya, dan  Ia berkata kepada orang itu: 'pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!'. Yesus tidak menyuruh dia pergi kepada para imam untuk mempersembahkan kurban bakaran. Yesus malahan meminta dia untuk tetap pada kemauan hatinya  untuk memberitahukan  kepada mereka, orang-orang sekampungnya,  segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau. Dia yang dahulu ditakuti banyak orang diminta untuk menjadi pembawa kabar sukacita seperti pertobatan Paulus. Pewartaan tentang segala perbuatan Tuhan sepertinya memang perlu dipahami dan dirasakan oleh orang-orang Gerasa.   Orang itu pun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran. Sekali lagi dia orang yang beriman dan tahu berterima kasih. Ia menjadi seorang pewarta, pembagi kabar sukacita. Pewarta karya kasih Allah di tengah-tengah orang-orang yang ada di sekitarnya.

Kita bukanlah orang-orang Nazaret, dan juga bukan orang-orang Gerasa. Mengapa? Karena kita banyak mengalami kasih karuniaNya. Kiranya yang perlu kita tunjukkan adalah kasih karunia Allah itu tetap ada dalam diri kita. Kita mau bersyukur kepada Tuhan seperti yang dilakukan orang yang dahulunya kerasukan roh kegelapan. Kita juga mau menyatakan bahwa kasih itu sabar dan murah hati. Dia tidak cemburu dan menutupi segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu dan sabar menanggung segala sesuatu (1Kor 13). Daud pun mengungkapkan kasih Allah dalam dirinya dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kata Daud kepada Abisai: 'biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya:  kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian? (bdk. Kis 5: pengalaman seorang Gamaliel yang bijak). Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian.  Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini' (2Sam 16).

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur atas kasihMu yang besar dalam hidup kami, kiranya kami semakin berani menjadi pembawa kabar sukacita bagi sesama, agar semakin banyak orang mengenal dan mengalami kasihMu.

 

 

Contemplatio            

'Orang itu pun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran'.                

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening