Hari Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus

27 Maret 2016

Kis 10: 37-43  +  Kol 3: 1-4  +  Luk 24: 13-35

 

 

 

Lectio

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,  dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.  Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.  Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.

Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram.  Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"  Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.  Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.  Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!  Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.  Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.  Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.  Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"

Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.  Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon."  Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

 

 


Meditatio

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.  Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.  Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Kehadiran Yesus secara nyata, yang dan bukan the Hidden God itu  tidak juga ditangkap oleh mata mereka. Apa yang menghalang-halamgi mata mereka? Apakah balok yang ada di mata mereka begitu besar sehingga benar-benar menutup mata mereka?

Yesus berkata kepada mereka: 'apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?'. Sebuah pertanyaan yang amat sensitive sepertinya, sehingga langsung mereka berkomentar: 'adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?'. Sebuah peristiwa yang sepertinya amat disesalkan dan disayangkan terjadi, atau memang malah mereka itu tidak mengerti akan peristiwa itu sebenarnya, sehingga mereka sepertinya tertampar dengan persitiwa itu. Peristiwa berkenaan dengan 'Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.  Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.  Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat'. Mereka pun tidak ubahnya dengan para perempuan yang pagi-pagi pergi ke makam Yesus, juga Petrus tentunya, yang tidak ingat dan tidak percaya akan apa yang telah disabdakanNya jauh-jauh sebelumnya. Kepercayaan Yohanes dan teman-temannya, serta kesaksian kesaksian para perempuan juga tidak mereka percayai. Yesus adalah Pria Idaman yang tidak memenuhi keinginan orang-orang yang mempercayaiNya. Bagaimana mungkin itu terjadi itulah persoalan mereka.

'Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!  Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?, sahut Yesus yang membuat mereka terperangah dan bukannya balik menantang Dia. Mereka terpaku dengan kata-kata Yesus itu.  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Yesus kembali mengajar mereka.

'Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam', pinta kedua murid ketika mereka mendekati kampung yang mereka tuju, dan Yesus pun berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Yesus bermain juga dalam pengajaranNya.  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Entah rumah siapa yang mereka diami, sepertinya rumah dari salah seorang di antara dua murid itu. Waktu Ia duduk makan dengan mereka,  Yesus sepertinya tetap mengomandani perjumpaan mereka, dan sepertinya tak segan-segan juga mengambil alih untuk menguasai dalam acara makan bersama itu. Pada waktu itu, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.  Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Mereka tiggal dalam berkatNya, tetapi tidak merasakan. Kemampuan insani mereka tidak mampu menerima kehadiran sang Ilahi.  Kata mereka seorang kepada yang lain: 'bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?'.  Dalam perjamuan bersamaNya, segala keilahianNya dapat dinikmati dengan sempurna. Sabda yang sudah membuka hati semakin mencapai kepenuhanNya dalam Perjamuan Kudus bersama sang Sabda itu sendiri.

Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Rasa sukacita sepertinya menghilangkan rasa capek dan lelah. Mereka mendapatkan kekuatan baru untuk mewartakan bahwa Kristus hidup, dan ada di tengah-tengah kita.  Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.  Kata mereka itu 'sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon', adalah kata-kata pengaminan sebagai kebenaran ilahi yang hadir dalam diri setiap orang. Kristus sungguh hidup dan ada di tengah-tengah mereka. 'Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya' (Kis 10: 43) sungguh benar dan mereka melihatNya.  Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

'Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematianNya.  Sebagaimana kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, maka sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya' (Rom 6: 3-5). Paulus berkata demikian, karena memang kita tidak mengalami kebingungan sebagaimana dialami kedua murid yang menuju Emaus. Kita merasakan sendiri rahmat dan berkat kematian dan kebangkitanNya.

Apa yang dapat kita perbuat? Paulus menasehati kita: 'carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.  Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.  Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah' (Kol 3: 1-3). Kita tetap mempunyai kesibukan sehari-hari; kita tetap melakukan pelbagai aktifitas yang kita senangi, tetapi kiranya perhatian hati dan budi kita tetap mengutamakan sabda dan kehendak Tuhan Yesus Kristus sang Empunya kehidupan ini. Kita harus bangga karena rahmat keselamatan itu telah merasuki seluruh hidup kita. Kongkritnya, mari kita berani semakin rajin dalam doa dan mendengarkan sabdaNya.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, lewat peristiwa kebangkitanMu, mampukan kami untuk selalu mengarahkan hati dan budi dengan mengutamakan sabda dan kehendakMu di dalam hidup kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?'.

 

 

 



Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012