Hari Minggu Palma, 20 Maret 2016


Yes 50: 4-7  +  Fil 2: 6-11  +  Luk 22:14 – 23: 56

 



Lectio

Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.  Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.  Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.

 


Meditatio

Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, Yesaya sadar sungguh, bahwa dirinya dipilih Tuhan menjadi muridNya, dan bukan yang lain. Dia tidak dipilih menjadi penggembala atau pekerjaan lain, melainkan dia terpilih sebagai seorang murid. Tentunya patut disyukuri. Dia dipilih menjadi murid agar supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Sekarang ini sepertinya dia harus banyak belajar agar nanti dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Tugas seorang murid adalah belajar.

Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.  Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Seseorang dapat menghibur orang lain, kalau dia memang telah membekali diri dengan bahan-bahan yang harus disampaikan. Yesaya diajak untuk mempertajam telinganya guna mendengarkan sabda dan kehendak Tuhan. Kepekaan seseorang akan sabda Tuhan membuat dia akan menjadi sesama bagi orang lain. Dia akan mampu membawa sukacita bagi sesamanya. Sadar akan semuanya itu, Yesaya tidak menolak atau memberontak dengan tindakan Tuhan terhadap dirinya. Tuhan Allah malah sengaja memang mengajari Yesaya. Yesaya pun pantang mundur menyerah.

Di satu pihak dia bangga menjadi murid tetapi tak dapat disangkal banyak tantangan yang dihadapi. Menjadi murid haruslah berani berakit-rakit ke hulu, dan berenang-renang ke tepian.   Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.  Tantangan tidak membuat diri Yesaya takut dan melarikan diri, karena dia sadar tugas perutusan yang akan diembannya.

 Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu. Inilah kepercayaan seorang murid. Tuhan akan selalu melindungi umatNya. Allah tak segan-segan menghajar umatnya, bukan karena benci dan jengkel melainkan karena cinta kepada umatNya.

Yesus bukanlah seorang murid, Dia malahan mempunyai banyak murid, karena memang Dia seorang Guru.  Dia Tuhan, tetapi dengan rendah hati Dia mau menderita sengsara. Dia mau belajar bagaimana nasib manusia yang bersengsara. 'yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia' (Fil 2).  Kisah sengsara menunjukkan kepada kita bagaimana seorang Tuhan berani menderita di salib. Dia tidak hanya membasuh kaki para murid, sebagai tanda pelayananNya, Dia juga merasakan dan menikmati betapa berat dan sengsaranya memanggul salib kehidupan.

Yesus pun tahu rasanya bagaimana memberi punggung kepada orang-orang yang memukuliNya, dan pipi kepada orang-orang yang mencabut janggutNya. Dia tidak menyembunyikan muka ketika dinodai dan diludahi.  Dia melakukan semuanya, karena Yesus mau menyelamatkan umatNya bukan dengan kekuasaan yang dimilikiNya, tetapi dengan belas kasih, dengan kerahiman. Yesus Tuhan memang tidak layak dan tidak pantas menderita dan bersengsara, akan mati di kayu salib. Tidak layak dan tidak pantas, tetapi itulah yang menjadi pilihanNya, karena memang Dia ingin menjadi tebusan bagi umat manusia. 'Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib' (Fil2). Sekali lagi, menyelamatkan orang lain karena mempunyai kuasa, atau malah kekayaan, adalah hal yang lumrah, tetapi menyelamatkan dengan belaskasih dan kerahiman adalah kekhasan Allah. Dia tidak berhenti pada keadilan, tetapi pada kerahimanNya yang menerima semua orang tanpa terkecuali. Kerahiman dan belaskasihNya semakin membuat banyak orang menikmati keselamatanNya.

Sengsara membawa nikmat. Mungkin kita pernah mendengar prosa panjang itu. Itulah yang dialami Yesus sendiri. Dia bukan hanya bersengsara, melainkan mati di kayu salib sebagai tebusan bagi seluruh umatNya. 'Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi' (Fil 2). Baiklah kalau kita nikmati karya penebusanNya.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, lewat sabdaMu yang kami renungkan setiap hari, kiranya akan semakin membuat kami berani dalam menghadapi pelbagai tantangan hidup dan merasakan kasihMu di dalamnya. Karena di balik semuanya itu Engkau menjanjikan keselamatan bagi kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012