Malam Paskah

Malam Tirakatan Yesus yang Bangkit ke Alam Maut

26 Maret 2016

Kej 1: 1-31  +  Rom 6: 3-11  +  Luk 24: 1-12

 

 

 

Lectio

Pada pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.  Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu,  dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus.  Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.  Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?  Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea,  yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga."  Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu.  Dan setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain.  Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul.  Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.  Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi.

 

 


Meditatio

Pada pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Siapa yang hendak membuka batu penutup kubur? Tidak terpikir mereka sepertinya. Namun syukurlah, mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu. Entah siapa yang membukanya. Ada sesuatu yang pasti perlu dipertanyakan. Setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus. Apakah mereka bertanya-tanya tentang tergulingnya batu? Apa mereka lihat sebatas keberuntungan, bahwasannya batu sudah tidak menutupi kubur lagi? Namun tak dapat disangkal, mereka tersentak juga bahwasannya jenazah Yesus tidak mereka temukan.

Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. Pasti mereka kaget.  Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala. Ada yang menggetarkan dan mentakjubkan, itulah yang membuat mereka tidak berdaya. Kemuliaan surgawi mendapati mereka. Mereka sepertinya orang yang tertangkap basah telah melakukan kesalahan. Mereka benar-benar sebagai orang tak berdaya. Tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: 'mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?  Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea,  yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga'. Yesus tidak ada lagi di dalam kubur, karena memang Dia tidak kalah dan dimatikan. Dia rela menyerahkan nyawaNya demi keselamatan umat manusia. Ia hidup. Dia telah turun ke alam maut, dan bangkit dari sana. Seharusnya mereka tidak boleh kaget dan bingung, karena memang sudah jauh-jauh disampaikanNya sendiri. Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu. Perempuan-perempuan itu sungguh-sungguh baru sadar akan peristiwa yang mereka alami sekarang ini. Dia tidak ada di dalam kubur, karena Dia harus bangkit dari alam maut untuk menyelamatkan umat manusia dari kuasa dosa.

Setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain. Sepertinya  mereka telah membentuk sebuah komunitas baru, yang lebih dari kesebelas rasul selama ini, dan siapa mereka tidak disebutkan.  Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus, dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul. Para perempuan adalah orang pertama yang mendapatkan pesan kebangkitan dalam kemuliaan surgawi. Mereka memang tidak mendapatkan kedudukan istimewa dalam jajaran para rasul, bahkan Maria sang bunda pun tidak mendapatkan kesempatan pertama, tetapi mereka adalah saksi-saksi kebangkitan yang menerima pemberitahuan langsung dalam kemuliaan surgawi. Hanya saja kebodohan dunia patriakhal, bagi mereka, kaum laki-laki,  perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu. Percaya akan kebenaran, terlebih kalau itu disampaikan oleh orang kecil dan tersisih memang amat sulit. Inilah juga kelemahan kita orang-orang Katolik. Orang dengan mudah mendengarkan orang-orang yang punya nama, walau tanpa isi, daripada mendengarkan sesama, malah yang sering berjumpa dalam keseharian hidup. Kita begitu mudah memandang muka, daripada kebenaran yang dimiliki seseorang. Apa yang kamu lakukan untuk saudaraKu yang hina ini, kamu telah melakukannya bagiku. Kiranya sabda ini juga menjadi spiritualitas hidup kita dalam mendengarkan sesama. Kubur kosong memang bukan menjadi saksi kebangkitan, tetapi jikalau mereka mendengarkan apa yang pernah dikatakan Yesus bahwa  Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga, mereka juga seharusnya langsung melambungkan puji-pujian dan hormat bahwa Kristus telah bangkit.

Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Petrus yang ingin tahu lebih banyak, ternyata juga lupa akan apa yang pernah dikatakanNya kepada dirinya. Padahal dia sempat kena hantam oleh Yesus karena ketidak percayaannya itu. 'Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia' (Mat 16: 23). Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi. Kekosongan atau kebingungan tidaklah harus terjadi, kalau mereka berani mendengarkan sabda dan kehendak Tuhan.

Kita bukanlah Petrus sebagaimana diceritakan dalam Injil malam hari ini. Kita pun juga bukan seperti perempuan-perempuan yang berkunjung ke makam Yesus di pagi hari. Kita pun tidak berkehendak malahan melihat kubur kosong. Karena apa? Karena 'kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya.  Sebagaimana kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, maka sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya' (Rom 6: 3-5).

Injil hari ini belum berkata tentang kepercayaan akan kebangkitan. Malam ini kita masih berbicara tentang ingatan akan Yesus yang bangkit sebagaimana dikatakan dalam kitab suci. Injil hari ini sepertinya hanya berkata bahwa perempuan-perempuan baru ingat dan sadar akan perkataan Yesus itu, demikian juga Petrus yang masih bertanya-tanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi.

 

 

Oratio

Ya Yesus, berkat wafat dan kebangkitanMu, kami yang telah dibaptis dalam Kristus, ikut dibangkitkan dalam kemuliaan Bapa, dan mengalami hidup baru serta semakin berani menjadi saksi kebangkitanMu. Amin

 

 

Contemplatio

'Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga'.

 






Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012