Minggu dalam Pekan Prapaskah III, 6 Maret 2016

Yos 5: 9-12  +  2Kor 5: 17-21 +  Luk 15: 1-3.11-32




Lectio

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 

Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.  Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.  Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.  Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.  Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya.  Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.  Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.  Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali'.

 

 

Meditatio

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: 'Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka'. Yesus bertindak tidak adil. Layaklah kalau banyak orang mengajukan protes keras terhadapNya. Mengapa Dia harus bergaul dengan orang-orang berdosa? Bukankah perhatian seharusnya diberikan kepada mereka yang telah berusaha hidup baik dan melakukan kehendak Allah. Wajarlah kalau mereka, orang-orang Farisi dan para ahli taurat bersungut-sungut. Bertindak adil bila memang kita memberikan sesuatu secara proporsional. Uang saku tentunya harus diberikan secara lebih besar kepada anak kita yang sudah mengambil kuliah daripada mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sunguuh tidak adil, bila kita membongkar dan mengjungkir-balikkan kenyataan ini. Mengapa Yesus malah menaruh perhatian terhadap orang-rang berdosa, dan bukannya kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengapa Yesus tidak bergaul erat denga kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat? Pasti kita bisa menebaknya. Namun mengapa tidak mengajak mereka juga untuk bertobat?

Yesus Tuhan memang tidak hanya bertitik tolak pada keadilan dalam menyelamatkan. Yesus pun tahu bahwa segala yang dilakukan itu pasti akan mendatangkan kritikan tajam.  'Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku; tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia'. Inilah kritikan mereka orang-orang cerdik pandai yang menuntut keadilan. Apakah Yesus juga tidak memperhatikan hukum kelayakan dan kepantasan dalam pergaulan? Bukankah seorang Guru harus bergaul dengan orang-orang yang baik dan terhormat adanya? Komentar sama tentunya juga akan muncul kalau seorang imam yang bertandang dan makan bersama di Kalijodo, yang sedang dipeributkan belakangan ini? Bukan saja di empat yang seram, adalah sebuah protes tajam, juga akn muncul bila ada seorang imam bertengger-ria di sebuah plazamall. Ketidakpuasan juga akan mudah muncul, bila seseorang merasa telah banyak melakukan yang baik dan benar, tetapi tidak mendapatkan balasan senyum dan kasih dari orang lain, terlebih tentunya dari Tuhan Allah sendiri. Banyak orang akan mengangkat tangan tinggi-tinggi, bila ada kasih yang membedakan.

Allah tidak bertitik tolak dalam keadilan memang. Allah malah hendak menunjukkan kerahiman dan belaskasih dalam menyelamatkan umatNya. Allah tidak berhenti pada keadilan. Seandaianya Allah berhenti pada keadilan dan hukum, sungguh kasihan mereka yang lemah dan tak berdaya. Bukankah  mereka tidak mampu melakukan segala sesuatu yang menyenangkan hati banyak orang? Keselamatan tidak hanya diberikan kepada mereka yang mampu berbuat baik, tetapi terbuka bagi setiap orang, terlebih mereka yang berkehendak baik. Yesus sekali lagi tidak berhenti pada keadilan.  'Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali'. Inilah kerahiman Allah yang patut dikumandangkan oleh setiap orang yang percaya akan kasih Allah, oleh setiap orang yang mengaku diri percaya dan menjadi murid-murid Kristus Tuhan. Bagi orang-orang yang bersalah dan berdosa, memang tak dapat disangkal, tetap kiranya tidak tertutup kemungkinan untuk mendapatkan belas kasih yang melimpah. Tuhan Bapa di surge amat menghendaki setiap orang berdosa untuk kembali kepadaNya.

Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Orang yang berdosa saja disapaNya agar mau kembali kepadaNya, apalagi kalau ada orang-orang yang datang secara sukarela memohon ampun daripadaNya. Allah tidak mudah memperhitungkan segala dosa dan kelamahan umatNya. Allah penuh kasih saying.

Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata ayah itu kepada hamba-hambanya: lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Inilah kerahiman dan kasih Allah yang menyelamatkan. Dia melakukan yang lebih indah dari kemampuan perkiraan yang kita orang buat. Kasih mengatasi hukum. Kerahiman dan keadilan tidak bertentangan, tetapi kiranya semakin menjadi pemahaman bagi kita bersama, bahwasannya kerahiman atau belaskasih Allah itu lebih luas dari segala-galanya. Itulah yang juga diingatkan kepada kita oleh Sri Paus Fransiskus dalam suratnya Misericordiae Vultus.

Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.  Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.  Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Inilah dosa-dosa kita, yang pada akhirnya tidak menjadi perhitunganNya, bila memang kita berani datang dan pulang kepadaNya. Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.  Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku.

Kasih setia Tuhan bukanlah hal baru. 'Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?  Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!' (Mi 7: 18-20). Kini di tengah-tengah kita, Yesus hendak menyatakannya dari pribadi ke pribadi.

Mengingat semua hal itu, Paulus mengajak dan menasehati kita 'dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah' (2Kor 5). Sungguh nikmatlah kita bila masih diperkenankan menerima rahmat dan berkatNya. Kalau Tuhan Yesus mengundang kita, baiklah kalau kita menikmatinya.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur atas kasihMu yang begitu besar, tidak pernah Engkau memperhitungkan kesalahan kami. Engkau selalu menanti kami untuk kembali kepadaMu. Kiranya di tahun yang penuh rahmat dan masa pra paskah ini kami semakin berani datang dan bersujud di hadapanMu. Ampunilah kami, ya Yesus. Amin

 

 

Contemplatio            

'Anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening