Selasa dalam Oktaf Paskah, 29 Maret 2016

Kis 2: 36-41  +  Mzm 33  +  Yoh 20: 11-18

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu ternyata Maria telah berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,  dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.  Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."  Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."  Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.  Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

 

 


Meditatio

'Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan'. Itulah komentar Maria Magdalena tentang ketidak beradaan jenazah Yesus dalam makam. Apakah mereka tidak saling bertanya, atau malah meneguhkan setelah melihat kubur kosong? Mereka itu adalah Yohanes, Petrus dan Maria Magdalena? Khususnya Yohanes yang sudah percaya pertama kali melihat kenyataan itu, yang menegaskan bahwa Yesus bangkit? Apakah mereka saling bertahan pada egoisme diri masing-masing sehingga tidak mau saling berbagi?

Perasaan sedih, karena merasa kehilangan sepertinya amatlah kuat yang dialami Maria. Pertanyaan dua orang malaikat yang memang menampakkan kehadiran ilahi tidak membuat matanya terbuka; termasuk pertanyaan sang Kehidupan itu sendiri, yang bertanya: 'ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?', tidak mendapatkan jawaban sebagaimana mestinya. Malah balik bertanya kepada Yesus:  'tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya'. Sebuah pertanyaan yang amat berani, yang memandang Yesus sebagai seseorang yang mengambil, memindahkan, menyembunyikan dan meniadakan jenazah Yesus, orang yang dikasihinya. Kepedihan memang membuat seseorang tidak mampu melihat kenyataan apa adanya. Kedua orang murid yang menuju Emaus juga demikian; kesedihan karena harapan yang tak terpenuhi membuat mereka tidak mampu memandang sebagaimana adanya. Apakah kesibukan diri juga membuat hal yang sama?

'Maria!', panggilan Yesus yang mungkin agak meninggi nadanya membuat Maria baru sadar siapakah Orang yang berbicara dengan dirinya. Mungkin nada datar juga tetapi mampu membuka mata dan telinga Maria. 'Guru!', sahut Maria penuh kepercayaan. 'Janganlah engkau memegang Aku', jawab Yesus. Sepertinya Maria berusaha bersujud, merunduk sembari memang kaki Yesus sebagaimana pernah dilakukannya. Jangan memegang Aku, 'sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu'. Ungkapan diri memang penting dalam menunjukkan keakraban diri dengan sang Empunya kehidupan, tetapi lebih penting dari semuanya itu adalah mendengar sabdaNya dan menyampaikan apa yang dimintaNya. Yesus tidak mengatakan Bapa kita, karena memang kita berbeda dengan Dia, tetapi tak dapat disangkal Yesus mengajak kita menyebut sang Bapa di surga sebagai Bapa kita bersama, karena memang kita adalah anak-anakNya, kalau kita berani mengamini sabda dan kehendakNya. Inilah saudara dan saudariKu, yakni mereka yang

melakukan kehendak BapaKu di surga (Mat 12: 50). Percaya kepada Yesus berarti berani lebih melakukan segala yang dikehendakiNya, dan bukannya semata-mata membiarkan dan melampiaskan diri melakukan segala sesuatu bagi Dia. Yesus sepertinya lebih menghendaki kita melakukan kehendakNya, daripada kita sibuk dengan diri kita sendiri yang kita anggap sesuai dengan kemauanNya. Ingat pesan Yesus kepada Marta, agar kita berani melakukan segala sesuatu yang terbaik yang tidak akan dapat diambil daripadanya (Luk 10).  

Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: 'Aku telah melihat Tuhan!'. Maria bangga karena telah berjumpa dengan Dia yang dicari dan dirindukan. Maria pun menyampaikan segala sesuatu yang didengar daripadaNya. Karena memang Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar tidak hanya memandang dan berfokus pada diri sendiri serta mempertahankan egoisme diri, tetapi mampu memahami sabda dan menyadari kehadiranMu dalam setiap peristiwa, bahwa Engkau selalu menyertai dan mendampingi kami, sebab Engkaulah sang Kehidupan yang menghendaki setiap kami memperoleh keselamatan. Amin

 

 

Contemplatio

'Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012