Senin dalam Pekan Prapaskah IV, 7 Maret 2016

Mi7: 7-9  +  Mzm 27+  Yoh.9: 1-41

 

 

Lectio

Pada waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-muridNya bertanya kepadaNya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."

Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek. Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: "Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?" Ada yang berkata: "Benar, dialah ini." Ada pula yang berkata: "Bukan, tetapi ia serupa dengan dia." Orang itu sendiri berkata: "Benar, akulah itu." Kata mereka kepadanya: "Bagaimana matamu menjadi melek?" Jawabnya: "Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat."

Lalu mereka berkata kepadanya: "Di manakah Dia?" Jawabnya: "Aku tidak tahu. Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat."

Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka.
Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: "Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?" Jawabnya: "Ia adalah seorang nabi." Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya dan bertanya kepada mereka: "Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?" Jawab orang tua itu: "Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta, tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri." Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan. Itulah sebabnya maka orang tuanya berkata: "Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri." Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: "Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa." Jawabnya: "Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." Kata mereka kepadanya: "Apakah yang diperbuatNya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?" Jawabnya: "Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi muridNya juga?"

Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: "Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang." Jawab orang itu kepada mereka: "Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku. Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendakNya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa." Jawab mereka: "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Lalu mereka mengusir dia ke luar.

Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" Jawabnya: "Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepadaNya." Kata Yesus kepadanya: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!" Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembahNya. Kata Yesus: "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta. Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepadaNya: "Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?" Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu."

 

 

Meditatio

Pada waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Dari bait Allah Yesus melanjutkan perjalananNya, ketika orang-orang Yahudi mencoba melempariNya dengan batu. Dalam perjalananNya itu mereka bertemu dengan seorang buta. Maka murid-muridNya bertanya kepadaNya: 'Guru, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?'. Apakah ada hubungan antara orang yang lahirnya buta dengan dosa? Baik dosanya sendiri maupun dosa orangtuanya? Dari  Injil yang tertulis, inilah yang pertama kali dikatakan orang yang menderita sakit sedari lahir. Mengapa murid-murid bertanya seperti itu kepada Yesus? Apakah karena pengertian mereka, orang Yahudi yang percaya, bahwa penderitaan adalah karena dosa, sehingga mereka ingin mendapatkan jawaban dari Yesus? Jawab Yesus:  'bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Pekerjaan Allah yang seperti apa yang ingin dinyatakanNya? Bahwa tidak ada hubungan antara penderitaan dan dosa, tetapi melalui penderitaan, kuasa dan kemuliaan Allah dinyatakan. 'Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku,  selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia'. Penyataan Yesus akan diriNya sebagai terang dunia dan tugas perutusanNya, sebelum tiba saat akhir misi perutusanNya yang Dia katakan sebagai malam.

Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: 'pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam'.  Mengapa Yesus menggunakan ludah dan tanah, apakah itu tahyul dan dapat menyembuhkan ? Sesungguhnya orang itu belum melek saat itu. Tetapi orang buta itu percaya dan taat kepada apa yang Yesus perintahkan. Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek. Mengapa Yesus tidak langsung berkata effata?

Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: 'bukankah dia ini, yang selalu mengemis?' Ada yang berkata:  'benar, dialah ini'.  Ada pula yang berkata: 'bukan, tetapi ia serupa dengan dia'. Orang itu sendiri berkata: 'benar, akulah itu'. Kata mereka kepadanya: 'bagaimana matamu menjadi melek?'.  Jawabnya:  'Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat'.
Kesembuhan bagi si buta terjadi ketika dia mentaati perintah Yesus. Kesembuhan ternyata menimbulkan perdebatan dan keraguan diantara tetangganya, tetapi dengan penuh keyakinan si buta mempertahankan mukjizat yang telah Yesus lakukan terhadap dirinya.

Lalu mereka berkata kepadanya:  'di manakah Dia?'.  Jawabnya: 'aku tidak tahu'. Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: 'Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat'.
Orang Farisi selalu mencari celah untuk menjatuhkan Yesus, adegan Yesus mengaduk ludah dan tanah kebetulan jatuh pada hari sabat.

Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: 'Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat'.  Sebagian pula berkata: 'bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?'.  Maka timbullah pertentangan di antara mereka. Di antara orang Farisi pun mereka sendiri tidak sepaham, ada yang mempersoalkan aturan-aturan hari sabat dan sebagian lagi terkesan dengan tanda yang dibuat Yesus. Orang dari Allah adalah Dia yang selalu mentaati peraturan Allah, dan bukannya bertindak semaunya sendiri.

Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: 'dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?'.  Jawabnya: 'Ia adalah seorang nabi'. Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya dan bertanya kepada mereka:  'inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?'.  Keteguhan hati para Farisi yang ingin menjatuhkan Yesus sungguh luar biasa, mereka semakin tidak puas dengan jawaban si buta yang mengatakan Yesus adalah nabi. Dan mereka mencoba mencari tahu dari orangtuanya. Namun mengapa mereka harus memanggil orangtua dari si buta itu? Orang-orang Farisi memang hanya ingin mencari pembenaran diri, dan bukannya kebenaran.

Jawab orang tua itu: 'yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta, tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri'.  Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan.  Para Farisi menuntut dukungan kesaksian dari si orangtua. Tetapi rupanya jawaban orangtua si buta juga ternyata tidak memuaskan mereka, karena mereka juga ketakutan dengan pengucilan akibat mengakui Yesus sebagai Mesias. Orang-orang Farisi adalah kamu yang ditakuti, dan bukannya disegani atau dihormati.

Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: 'katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa'.  Demi mempertahankan ke egoisan diri/kelompok mereka berusaha mengintimidasi si buta dengan memaksa untuk mengatakan kebenaran dihadapan Allah. Jawabnya: 'apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat'.  Kata mereka kepadanya: 'apakah yang diperbuatNya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?'.  Jawabnya: 'telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi muridNya juga?'.  Sungguh berani si orang yang tadinya buta ini, dia tidak takut mempertahankan kebenaran dan menantang mereka untuk menjadi muridNya.

Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: 'engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang'.  Jawab orang itu kepada mereka: 'aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku. Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendakNya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa'.  Jawab mereka: 'engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?'.  Lalu mereka mengusir dia ke luar. Jawaban orang yang tadinya buta sungguh menunjukkan kesembuhan yang bukan hanya mata jasmaninya, tetapi juga mata rohaninya, yang mampu mengenal bahwa hanya yang berasal dari Allah, yang dapat menyembuhkan orang yang sakit sejak lahir.

Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: 'percayakah engkau kepada Anak Manusia?'.  Jawabnya: 'siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepadaNya'.  Kata Yesus kepadanya: 'engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!'.  Katanya: 'aku percaya, Tuhan!'.  Lalu ia sujud menyembahNya'. Kesembuhan mampu membuat seseorang mengerti akan ke Tuhan an seorang Anak Manusia.

Kata Yesus:  'Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta'. Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepadaNya: 'apakah itu berarti bahwa kami juga buta?'.  Jawab Yesus kepada mereka: 'sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: kami melihat, maka tetaplah dosamu'.  Teguran yang sangat keras buat orang-orang Farisi, di mana mereka melek mata tetapi mereka tidak mau menerima Yesus sebagai yang datang dari Allah. Bukanlah misi utama Yesus datang dengan penghakiman, tetapi karena penolakan mereka maka mereka menerima penghakiman .

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar mampu melihat dengan mata rohani kami akan kehadiranMu yang mendatangkan keselamatan bagi kami. Amin



Contemplatio

"Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia".

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012