Hari Minggu Paskah VII, 8 Mei 2016

Kis 7 : 55-30  +  Why 22: 12-14  +  Yoh 17 : 20-26

 

  

Lectio

Yesus berdoa kepada Bapa di surga: 'Ya Bapa, bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;  supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.  Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:  Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.  Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.  Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku;  dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka'.

 

 

 

 

Meditatio

Yesus berdoa kepada Bapa di surga: 'Ya Bapa, bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka'. Yesus tidak hanya berdoa bagi keduabelas muridNya, melainkan untuk semua orang yang percaya kepadaNya, yang mengamini sabda dan kehendakNya, untuk kita semua. Mengapa? Pertama, 'supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau'. Allah menghendaki kita itu hidup sehati sejiwa di dalam Dia. Kedua, 'agar mereka juga di dalam Kita'. Kesatuan kita bukan sekedar hidup rukun, melainkan adanya kesadaran akan kehadiran Tuhan Allah dalam setiap langkah hidup ini. Bagaimana caranya? Tentunya dengan saling mengasihi sebagaimana telah diteladankanNya sendiri kepada kita. Sebab kita benar-benar menampakkan diri sebagai para muridNya, kalau kita saling mengasihi, dan pada saat itulah serentak kita mengakui 'bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku', sebab Dia telah mendahlui kita dalam kasih.  

'Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:  Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu. Yesus tidak hanya mendoakan para murid, kita semua, tetapi juga memberikan kemuliaan yang diberikan Bapa kepadaNya. Kemuliaan itu tidak lain dan tidak bukan adalah ketika Dia ditinggikan di kayu salib. Kemuliaan itu diberikan kepada kita, karena memang Dia menyerahkan nyawa demi keselamatan kita. Kemuliaan di kayu salib itulah puncak cinta kasih. Maka wajarlah, kalau kita juga diajak untuk saling mengasihi, agar kita terkondisikan menikmati puncak cinta kasihNya itu. Segala yang dilimpahkan Tuhan kepada kita, bukannya dilemparkanNya dari atas, tetapi kita benar-benar diundang dan diajak menikmatinya dengan penuh syukur. Allah amat menghormati keberadaan kita sebagai umatNya yang berakal budi, yang bermartabat secitra dengan Dia.

'Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku'. Yesus tidak mau kehilangan salah satu dari kita umatNya. Kita semua adalah milik Kristus. Yesus menghendaki agar kita selalu berada bersama dengan Dia, sebab 'mereka telah Engkau berikan kepada-Ku'. Dan yang kedua,  'agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan'. Yesus menghendaki agar setiap orang, para muridNya menikmati kemuliaan surgawi yang dimilikiNya semenjak semula. Kalau pun Dia sekarang telah naik ke surga, karena memang Dia hendak menyiapkan tempat bagi kita, di mana rumah Bapa ada banyak tempat. Dia menyiapkan tempat, karena, sekali lagi, Dia menghendaki  'di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku'. Tuhan Yesus amat posesif dalam hal keselamatan.

'Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku'. Anak mengenal Bapa, demikian juga semua orang yang percaya kepadaNya mengenal Bapa, karena Yesus sendiri telah menyampaikannya kepada kita. Dunia tidak mengenal Bapa, karena memang mereka tidak tahu menahu tentang Dia sendiri yang hadir di tengah-tengah umatNya. Siapakah mereka itu? 'Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya' (Yoh 1: 11). Dunia itu bukanlah jauh di sana. Mereka itu memang juga milik sang Empunya kehidupan, karena Dia yang menciptakan, tetapi mereka tidak mau tahu terhadap Dia yang memilikinya. Sebaliknya orng-orang yang mau tahu akan Anak Manuisa, dia akan berkomunikasi selalu dengan sang Putera, bahkan berani mengamini sabda dan kehendakNya. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak berasal dari dunia (Yoh 15: 16), dan itulah memang sebutan Yohanes dalam InjilNya. Bahkan mereka yang benar-benar mengasihiNya, malah berani menyerahkan nyawanya sebagaimana dialami oleh Stefanus (Kis 7: 55-60), karena ingin menyerupai Dia, yang telah memberikan nyawaNya. Orang orang seperti Stefanus inilah orang-orang yang telah mencuci jubahNya dalam darah Anak Domba (Why 22: 16).

Hari Komunikasi adalah adalah hari penghormatan kepada orang-orang yang mau tahu terhadap kehadiran Yesus Kristus. Mereka layak kita hormati karena mereka mau mendengarkan sapaan Tuhan yang penuh belaskasih itu, dan kemudian menanggapiNya dengan penuh syukur dan keberundukan diri. Dan lebih dari itu, mereka menyatakan bahasa kominikatifnya dengan Tuhan itu dalam relasi dengan sesamanya. Sebagiamana Kristus Tuhan datang membawa damai bagi umatNya, demikian mereka orang-orang yang tahu akan kehadiran Allah juga berani membawa damai kepada sesamanya. Mereka lebih mendahulukan diri untuk berani mendengar dan mendengarkan orang lain, ketika sesamanya berbicara. Mendengarkan dengan penuh perhatian seseorang yang tengah berbicara berarti memberi peluang kepada seseorang untuk mengungkapkan diri apa adanya.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami selalu untuk menjadi orang-orang yang tahu menempatkan diri dalam relasi denganMu. Kami hanyalah umatMu, yang memang perlu dan berani mendengarkan suaraMu yang menyapa dan menyelamatkan. Demikian dalam relasi dengan sesama, buatlah kami menjadi sesama bagi orang lain, yang memang harus menjadi tanda keselamatan bagi mereka. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku'.  

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening