Jumat dalam Pekan Biasa VII, 20 Mei 2016

Yak 5  +  Mzm 124  +  Mrk 10: 1-10





Lectio 


Suatu hari Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situpun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula. Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?" Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." 


Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat 






Meditatio


"Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" Itulah pertanyaan orang-orang Farisi kepada Yesus, yang memang dimaksudkan untuk menjebakNya. Yesus pasti tahu apa yang diinginkan mereka. Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?" Yesus balik bertanya kepada mereka. Bukan Yesus tidak tahu apa perintah Musa, tetapi semata-mata Yesus hendak menjungkirbalikkan pikiran dan hati mereka. Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai." Apakah mereka tidak merasa apa yang dikehendaki Yesus? Apakah mereka tidak sadar bahwa Yesus membalik kedegilan hati mereka?Mereka ingin menjebak Yesus, tetapi sebaliknya mereka malah terjebak sendiri dengan kata-kata diri sendiri.


"Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu", tegas Yesus kepada mereka. Bila demikian ada peraturan yang dibuat bersama karena tuntutan pasar, dan bukannya berdasarkan suatu cita-cita yang luhur dan mulia. "?Yesus menyatakan misteri perkawinan. Perkawinan bukan semata-mata realitas sosial masyarakat, sebuah peristiwa yang dikehendaki Allah, sang Pencipta. Allah menciptakan dan menyatukan manusia laki-laki dan perempuan. Kesatuan manusia sebagai suami isteri dikehendaki Allah, dan kita manusia tidak mempunyai hak untuk menceraikannya. Tidak ada lembaga manapun yang mempunyai wewenang untuk memisahkan dan menceraikan perkawinan. Perkawinan membuat orang berani mandiri. Mereka akan melepaskan diri dari kedua orangtua dan menyatukan hati sebagai suami isteri. Demikian tentunya orangtua harus berani merelakan kepergian anak-anak yang telah mengikatkan diri dalam perkawinan. Orangtua yang tidak berani melepaskan anak-anaknya karena perkawinan berarti juga melanggar kehendak dan kemauan Allah. Rasa memiliki atau posesifitas hanya bisa dimengerti dalam hal keselamatan, sebagaimana yang dilakukan Yesus, dan bukan dalam bidang kemandirian pribadi anak.


Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah." Perkawinan baru, karena meninggalkan ikatan suami istri yang ada adalah sebuah perzinahan. Sebuah kenyataan yang tidak dikehendaki Allah. Dengan demikian perkawinan mengandaikan kesetiaan dua pribadi yang mau dan rela mengikatkan diri. Markus tidak berbicara tentang cinta kasih. Markus hanya berbicara yang tentang perkawinan yang harus berlangsung seumur hidup.

Yakobus dalam suratnya bab 5 juga berbicara tentang ketekunan atau kesetiaan. Perkawinan adalah peristiwa ya di hadapan Tuhan, karena memang berdasarkan keberanian para calon untuk menyatukan diri. Perkawinan adalah peristiwa kerelaan jiwa untuk menerima orang lain dalam hidupnya. Keberanian berkata ya berarti menyatakan kesanggupan untuk menerima calon suami isteri yang dipersatukan Tuhan Allah. Kesetiaan dan ketekunan suami isteri dalam keluarga akan mendatangkan rahmat dan berkat sebagaimana dikatakan Yakobus. Mengapa? Karena mengamini sabda dan kehendak Tuhan sendiri. Tuhan Allahn tidak berdiam diri terhadap orang-orang yang setia kepadaNya.




Oratio

Ya Tuhan Yesus, berkatilah keluarga-keluarga kami, agar kami semakin mampu menunjukkan kesatua hati dalam mengemban panggilan yang kudus dan mulia.

Limpahkan berkatMu bagi kami semua.





Contemplatio

"Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening