Jumat dalam Pekan Biasa VIII, 27 Mei 2016

1Pet 4: 7-13  +  Mzm 96  +  Mrk 11: 11-26

 

 

 

Lectio

Suatu hari sesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi sebab hari sudah hampir malam Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya. Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar.  Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.  Maka kata-Nya kepada pohon itu: "Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!" Dan murid-murid-Nya pun mendengarnya.

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: "Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!"  Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaran-Nya.

Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota. Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya. Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: "Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering."  Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.

 

 

Meditatio

Suatu hari sesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi sebab hari sudah hampir malam Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas muridNya. Ada apa gerangan? Mengapa Yesus harus meninjau semuanya terlebih dahulu kemudian keluar dan ke Betania? Adakah Dia mencek keamanan rumah ibadat? Mengapa Betania yang dipilih dan bukannya yang lain? Apakah mereka hendak menginap di rumah Lazarus? Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas muridNya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Mengapa tidak mencari sarapan di penginapan atau rumah makan di ssekitar situ? Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Sebuah keterangan yang tak perlu diungkapkan, karena tidak ada yang menonjol untuk disampaikan.

'Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!', tegur Yesus kepada pohon itu. Dan murid-muridNyapun mendengarnya. Mengapa Yesus harus mengutuk seperti itu? Bukankah pada waktu itu memang belum musim pohon ara berbuah? Sangatlah tidak masuk akal dan aneh dengan perkataanYesus yang sangat bertentangan dengan pribadiNya yang selalu berbelaskasih. Apa yang ingin disampaikan di sini? Bahwa segala yang tidak berbuah akan mendatangkan petaka? Mengapa Yesu harus mengecam keras pohon yang tidak bersalah itu. Namun tak dapat disangkal, pagi-pagi ketika Yesus dan murid-muridNya lewat di tempat itu, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya. Semalam mereka tidak melihatnya, baru pagi itu juga mereka melihatnya. Kapan persisnya pohon itu kering sepertinya tidak ada orang yang mengetahuinya. Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: 'Guru, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering'. Pohon ara yang saat itu belum berbuah dan memang tak bersalah itu kini telah binasa. Apa hubungannya dengan perumpamaan, bahwasannya hidup iman yang tidak menghasilkan buah harus dimusnahkan. Tidak ada hubungannya. Itu soal lain!

'Percayalah kepada Allah!', sahut Yesus kepada para murid. 'Aku berkata kepadamu: sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya'.  Iman mampu mengubah dunia! Apakah benar sesorang yang percaya pada Allah mampu memindahkan gunung? Tentunya ini adalah sebuah kiasan, gunung itu adalah masalah yang sulit diatasi. Berkat iman dan doa, seseorang akan dapat melakukan hal-hal yang kelihatannya mustahil. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Beriman berarti berpihak pada Allah yang mampu membuat segala sesuatu mungkin adanya. 'Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu'. Tidak ada yang mustahil bagi setiap orang yang percaya. Namun mengapa Yesus mencontohkan kekuatan iman dengan kemarahan?

'Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang'. Mengapa harus mengampuni sebelum berdoa? Minimal hati terasa damai dan jiwa merasa lega. Namun kita memang harus mengampuni, 'supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu, sebaliknya jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu'. Apakah pengampunan Bapa sungguh-sungguh bergantung pada jiwa pengampun kita? Allah itu Kasih. Dia tidak memperhitungkan kesalahan dan dosa umatNya. Namun Allah yang mengampuni itu benar-benar kita nikmati, walau memang kita sudah diampuni, sedamai dan selega hati kita dalam mengampuni sesama. Janganlah kita membatasi pengampunan Allah sebesar kemampuan kita mengampuni dan memaafkan sesame.

Sesuatu yang ada dalam hati menjadi penghalang bagi kita untuk berelasi dengan sesama demikian juga dengan Allah. Dengan berani mengampuni hati menjadi bebas dan kasih bertumbuh di dalamnya. Benarlah yang dikatakan Petrus dalam suratnya: 'kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Juga kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa' (1Pet.4:7-8).

Pada waktu Yesus dan murid-muridNya tiba di Yerusalem, dan masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkanNya, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Mengapa Yesus melakukan semua itu? Apakah kaitan pembersihan Bait Allah ini dengan kutukan terhadap pohon ara? Dapatkah kita membayangkannya halaman Bait Allah yang seharusnya tempat persiapan orang untuk berdoa tetapi dijadikan tempat penukaran persembahan yang bersifat komersial. Lebih parah lagi, terjadi pemerasan dn mafia terhadap banyak orang, khususnya orang-orang kecil, yang ingin beribadat dan mempersembahkan kurban bakaran. Mereka bukannya membantu orang-orang yang beribadat, malainkan merongrongnya. Adakah komunitas kita sebagai penolong orang-orang yang mau ziarah juga bertindak demikian? Namun tak dapat disangkal pula, mereka yang mengadakan perziarahan bukanlah orang-orang yang tidak mampu. Salahlah kita juga kalua tujuannya hanya ingin mencari kepuasan diri dalam pelayanan terhadap sesama.  Yesus menegur merea semua sembari berkata: 'bukankah ada tertulis: RumahKu akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!'. Inilah alasan mengapa Yesus bertindak sebagai seorang penguasa yang membongkar lapak-lapan mereka yang berjuaan yang mencari kepuasan diri. Perubahan fungsi Bait Allah, dengan kedok agama inilah yang menimbulkan amarah Yesus.

Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepadaNya, melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaranNya. Penampilan Yesus sebagai Orang yang berkuasa, malah dihindari banyak orang, khususnya mereka yang diundang supaya bertobat dan betobat.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bersihkanlah hati kami dari segala hal yang menghalangi kasihMu hadir di dalamnya, agar kamipun mampu mengasihi seperti Engkau mengasihi kami. Menjadi pohon yang menghasilkan buah berlimpah.Amin

 

 

Contemplatio

'Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang'.

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012