Kamis dalam Masa Biasa VII, 19 Mei 2016

Yak 5: 1-6  +  Mzm 49  +  Mrk 9: 41-50

 

 

Lectio

Suatu hari berkatalah Yesus: " Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya. Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.   Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;  di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam. Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,  di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.  Karena setiap orang akan digarami dengan api.  Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain".

 

 

 

Meditatio                                                                               

'Aku berkata kepadamu: sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya'. Penegasan Yesus ini mengingatkn agar kita siap selalu menjadi berkat bagi sesama, maka tentunya kita tidak boleh malu-malu mengakui diri sebagai para pengikut Kristus. Tentunya bukan saja ketika kita menerima, terlebih kita malah hendaknya berani mendahului dalam berbuat baik bagi orang lain. Karena itu, hendaknya kita selalu berani berbuat baik kepada orang lain, maka 'barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut'. Sebuah tantangan hendaknya kita selalu berbuat baik, berkata-kata benar, dan membawa berkat bagi sesama. Yesus tidak segan-segan membinasakan orang yang tidak mau tahu dalam berbuat baik.    

Namun begitu Yesus juga mengingatkan bahwa perbuatan baik itu haruslah diawali dari diri sendiri. Bagaimana seseorang dapat berbuat baik, kalau memang dirinya tidak terkondisikan dalam berbuat baik. Nemo dat quod non habet, orang yang tidak mempunyai tentunya tidak bisa memberi. Karena itu, 'jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan'. Janganlah kita dibuat binasa oleh diri sendiri. Kita harus berani menguduskan jiwa raga kita, sebelum kita berani berbagi kebaikan terhadap sesama. 'Demikian juga jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah; jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah'. Anggota tubuh yang sehat dan sempurna memang hanya digunakan untuk menikmati hidup ini dengan penuh syukur, dan bukannya untuk mencari kepuasan diri. Kalau Yakobus dalam suratnya bab 5 menuliskan kekayaan yang sempat menjerumuskan orang dalam kebinasaan, sebenarnya bukan kekayaan yang dipersalahan tetapi sikap hati manusia sendiri yang mencari kepuasan diri, sebab konkritnya pada waktu itu dalam kemewahan mereka telah hidup dan berfoya-foya di bumi, mereka telah memuaskan hati sama seperti pada hari penyembelihan (Yak 5: 5). Kecenderungan insani benar-benar menyelimuti hidup mereka. Mereka menggunakan kekayaan tidak sebagaimana mestinya.

'Karena setiap orang akan digarami dengan api.  Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain'. Garam memang mempunyai makna, demikianlah hidup kita hendaknya mempunyai makna terhadap diri sendiri yang memang siap akan menjadi tanda sukacita bagi orang lain.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar berani mendahului berbuat baik kepada orang lain, sehingga kehadiran kami mendatangkan sukacita, terutama bagi mereka yang lemah dan kecil. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain'.

 

 






Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012