Pesta Santo Matias Rasul, 14 Mei 2016

Kis 1 : 15-26  +  Mzm 113  +  Yoh 15: 9-17

 

 

 

Lectio

Suatu hari bersabdalah Yesus: 'seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.  Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.  Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.  Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.  Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.  Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain'.

 

 

Meditatio

Suatu hari bersabdalah Yesus: 'seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu'. Penyataan Yesus ini benar-benar mengajak kita umat yang dikasihiNya tinggal dan menikmati kasih Allah. Kita diundang dalam relasi kasih Bapa, Putera dan Roh Kudus. Betapa bahagia tinggal dalam kasih Allah, dan membiarkan kasihNya itu meraja dalam hidup kita. Bagaimana caranya?  'Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya'. Mendengarkan sabda dan kehendakNya adalah satu-satunya cara tinggal dalam kasih Allah. Inilah saudara dan saudariKu, yakni jikalau kamu melakukan kehendak Bapa. Tinggal dalam kasih Yesus memang bukan bermanjaria, duduk manis tanpa karya kasih, sebaliknya kita diundang untuk mendengarkan sabdaNya, dan melakukan segala perintah dan kehendakNya. Dan memang seperti dikatakanNya hari Minggu kemarin, kita benar-benar dikenal banyak orang sebagai para muridNya, kalau memang kita saling mengasihi satu sama lain. Kasih kepada Tuhan menyatu dalam kasih terhadap sesama.

'Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh'. Sukacita dan kegembiraan kita akan disempurnakan oleh sukacita ilahi yang dimiliki oleh Kristus Tuhan sendiri. Bukankah memang dengan akal budi kita dapat memilih apa yang baik dan jelek? Bukankah kita dapat mengambil keputusan? Namun dengan kasih karunia Allah. Kita dapat mendapatkan sesuatu yang indah, karena kita melibatkan Tuhan Allah sendiri. Dan lebih dari itu, semakin mampu berani memilih segala yang memberikan sukacita, bukan saja selama kita masih dalam perjalanan ini, melainkan juga yang memberi jaminan keselamatan hidup abadi selalu bersamaNya.

Apakah memang di luar Tuhan Allah kita tidak dapat menikmati keselamatan? Bukan soal dapat atau tidak! Keselamatan abadi itu hanya dimiliki oleh Allah, dan hanya Allah yang  mampu mengadakannya. Bukankah kita semua adalah ciptaanNya, bukankah kita semua adalah milikNya? Kalau memang keselamatan hanya terjadi dalam Allah, maka baiklah kalau kita mengikuti segala sabda dan kehendakNya.

'Inilah perintah-Ku',tegas Yesus melanjutkan pembicaraanNya, 'yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu'. Sebagaimana Yesus telah mengasihi kita para muridNya, demikian pula hendaknya kita saling mengasihi satu sama lain. Sekali lagi, 'inilah perintah-Ku kepadamu: kasihilah seorang akan yang lain'. Mengasihi sesama tak ubahnya mengasihi Tuhan Allah sendiri. Mengasihi sesama berarti kita bertindak seperti Tuhan sendiri bertindak kepada kita. Namun kasih yang bagaimana kasih Tuhan kita Yesus Kristus itu? Apakah kasih balas budi sebagaimana dilakukan banyak orang? Kasih yang memandang muka? Kasih yang tebar pesona?  'Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya'. Inilah kasih Tuhan Yesus Kristus kepada kita semua umatNya. Kasih yang tidak mengada-ada, melainkan kasih yang memberi hidup bagi orang lain; dan memang itulah yang dilakukanNya ketika Dia mempermuliakan Allah Bapa sang Empunya kehidupan, sebagaimana kita renungkan hari Minggu kemarin, yang semuanya itu ditampakkan secara kasat mata ketika Dia berada di kayu salibNya yang kudus.

'Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu'. Relasi Yesus dengan para muridNya, dengan kita semua, dinaikkan pada tingkat yang lebih tinggi lagi, bukan lagi sebagai guru dan murid, melainkan pada relasi sesama sahabat. Bukan juga sebagai tuan dan hamba, karena memang  'Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku'. Kita sama dengan Yesus Kristus, kalau kita melakukan segala kehendakNya, lagipula segala yang didengarNya dari Bapa disampaikanNya kepada kita. Kita semua ini adalah anak-anak Bapa di surga, yang mana Kristus sendiri adalah Putra sulung Kebangkitan. Kita semua adalah adik-adik Kristus Tuhan.

Semuanya ini bisa terjadi, dan dimungkinkan, karena Yesus Kristus sendiri. Bukan karena jasa dan kebaikan kita manusia, melainkan karena Kristus sendiri. Karena itu, Yesus menambahkan: 'bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu'. Semuanya ini bisa terjadi, karena kehendak dan kemauan sang Putra tunggal sendiri. Namun begitu, kasih Kristus itu meminta kita tidak egois dan menutup diri, merasa diri nyaman dan diselamatkan, dan tidak mau tahu terhadap orang lain, malah ingin mendirikan kemah di atas gunung jauh dari keramaian; sebaliknya kita diminta juga berani berbagi terhadap orang lain. 'Aku telah menetapkan kamu, pertama supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu'. Inilah kebahagiaan, sebab memang segala janji yang diberikan Yesus itu memang bersifat kekal, tetapi tidak hanya kelak terjadi di akhir jaman kehidupan kita masing-masing, melainkan terjadi sekarang ini. Kebahagiaan ilahi tidak terjadi esok, melainkan sekarang ini. Segala permintaan yang mendapatkan pengabulan daripadaNya membuat hidup ini semakin indah dan nyaman. Kedua,  'Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap'. Segala yang kita nikmati hendaknya juga dapat dinikmati oleh orang lain, malah kita memang harus berani membaginya kepada sesama. Bukankah seperti Yesus telah mengasihi kita, demikian juga kita handaknya mengasihi sesama? Seorang murid Kristus harus berani menjadi sakramen keselamatan bagi sesama.

Kalau kita saja diangkat menjadi sahabat-sahabatNya, karena melakukan kehendak Bapa di surga, tentunya tidaklah sulit bagi setiap orang, khususnya umat Gereja perdana untuk menyebut Matias sebagai pengganti Yudas Iskariot. Kalau pada waktunya itu diceritakan bahwa pemilihannya diadakan dengan mengadakan undian (Kis 1: 20-26), semuanya ini hanya ingin menunjukkan bahwa keterpilihan Matias bukanlah karena kemauan diri, apalagi merasa tahu dan bisa melakukan karya pelayanan, melainkan karena semata-mata pilihan dan kehendak Allah sendiri, sebagaimana dikatakan Yesus sendiri: 'bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap'.  

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, karena kasihMu Engkau menyatukan kami dalam satu persaudaraan, mampukan kami agar dapat mengasihi sesama dengan tulus yang mau berkorban seperti Engkau sendiri, yang rela berkorban demi keselamatan kami.

Santo Matias Rasul, doakanlah kami. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap'.  

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening