Selasa dalam Masa Biasa VII, 17 Mei 2016

Yak 4: 1-10  +  Mzm 55  +  Mrk 9: 30-37

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;   sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit."  Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. 

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?"  Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.  Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."  Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:  "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Yesus ingin mengajar dengan efektif. Yesus menghendaki ada baiknya komunitas-komunitas itu menyendiri sejenak untuk memperdalam diri, memperbaharui semangat pelayanan. Mereka semua diajak untuk berani sejenak meninggalkan umat untuk umat.  Ia berkata kepada mereka: 'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit'. Inilah spiritualitas hidup Yesus. Yesus sudah mempunyai program hidup, bukannya dengan pelbagai rencana yang bergembira dan bersenang-senang, malah Yesus siap menerima salib kehidupan, sebagaimana dikehendaki Bapa. Semuanya itu dilakukan demi keselamtan umat manusia. Kematian dan kebangkitanNya dari alam maut adalah program Allah yang hendak dilakukanNya dengan sepenuh hati.  Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. Inilah kebodohan kita juga, yang seringkali malu bertanya sesat di jalan. SabdaNya sulit kita mengerti karena diluar kemampuan dan kesukaan insani.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: 'apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?'. Yesus pasti tahu apa yang mereka bicarakan tadi. Bukankah Dia tahu segalanya? Yesus hanya membuka pembicaraan saja.  Tetapi mereka diam. Sekali lagi, para murid tidak jujur kepada sang Guru. Kalau tadi mereka tidak mau bertanya, walau tak mengerti, demikian juga sekarang mereka tidak mau bercerita apa yang mereka perbincangan tadi.  Di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Apakah mereka sudah memikirkan suksesi mengingat Yesus berbicara tentang kepergiaanNya dalam peristiwa kematian dan kebangkitanNya?

Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Yesus mendudukkan mereka, dan berbicara bersama. Kata-Nya kepada mereka: 'jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya'. Orang besar, bukan karena jabatan yang dimiliki, melainkan karena pemberian diri kepada sesama. Apa arti seseorang duduk di kursi Musa, tetapi segala sesuatu yang dilakukan hanya supaya dilihat orang (Mat 23: 1-7)? Sebaliknya, Allah melalui Yakobus  secara tegas mengingatkan: 'rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu' (Yak 4: 10). Keberanian seseorang melayani sesamanya dalam kerendahan hati benar-benar mendatangkan karunia yang tak terhingga. Konkritnya, 'barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku'. Memang apalah arti dan untungnya melayani seorang anak kecil? Kita tidak mendapatkan apa daripadanya. Kita malah harus memberi dan memberi kepadanya. Namun kiranya perlu kita memaknai, bahwa melayani itu adalah tindak pemberian diri; seseorang keluar dari dirinya sendiri untuk memberikan pengabdian kepada orang lain, merunduk di hadapan orang lain dan melayaninya. Dan itulah yang dilakukan Yesus Kristus sendiri. Dia datang ke dunia hanya untuk melayani dan melayani, memberi dan memberi. Dia tidak mendapatkan apa-apa dari umatNya. Malahan Yesus siap mengurbankan nyawa demi keselamatan semua orang yang dikasihiNya.  'Barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku'. Inilah karunia terindah yang dinikmati orang yang mau merendahkan diri dan melayani orang lain: dia menyambut Yesus, menyambut Bapa sendiri. Apa yang kamu lakukan bagi salah seorang saudaraKu yang paling hina ini, engkau telah melakukannya bagiKu.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar sanggup melayani mereka yang kecil dan kekurangan dengan tulus hati, bukan untuk mencari kemegahan diri tetapi sungguh demi kemuliaan namaMu. Amin

 

 

Contemplatio

'Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya'.

 

 



Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012