Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis, 24 Juni 2016

Yes 49: 1-6  +  Kis 13: 22-26  +  Luk 1: 57-66.80

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki.  Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.

Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya,  tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes."  Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu.  Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya.  Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.  Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea.

Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia. Anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.

 

 

 

Meditatio

Pada waktu itu genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki.  Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Yang tidak mungkin bisa terjadi dalam hidup seorang ibu yang sudah berusia dan mandul itu. Ibu Elizabet yang sudah berusia melahirkan seorang anak laki-laki. Namun semua orang amat-amat memaklumi karena iman kepercayaan sang ibu kepada Tuhan Allah, bahwa segala yang dikatakanNya itu akan terjadi (Luk 1: 45). Mereka tidak mengalami, tetapi mereka bersuka cita, karena memang Tuhan Allah hadir di tengah-tengah umatNya. Kelahiran sang bayi menunjukkan sungguh-sungguh bahwa Allah hadir di tengah-tengah umatNya.

Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu. Mengapa? Kitab Taurat menuliskan: 'anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku' (Kej 17: 12). Sunat adalah salah satu kewajiban agama yang harus ditaati oleh bangsa Israel.

Pada waktu mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, sebab bukankah dalam dunia patriakhal peran seorang laki-laki amat sentral?  Tetapi ibunya berkata: 'jangan, ia harus dinamai Yohanes'. Mengapa? 'Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes' (Luk 1: 13). Kata-kata inilah yang diingat pasti oleh Elizabet. Mengamini sabda dan kehendak Tuhan itu menyelamatkan. Elizabet berani menolak suara banyak orang, karena dia mengutamakan kehendak Tuhan. Bukankah 'tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian?'. Semuanya tidak menggelisahkan Elizabet untuk lebih berani mendengarkan suara sang Ilahi.

Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu.  Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: 'namanya adalah Yohanes'. Apakah memang mereka berdua bersepakat dengan nama itu? Mereka pasti bersatu hati untuk memberikan nama Yohanes. Bukankah mereka telah menerima yang indah dari Tuhan? Dan bukankah Zakharia juga telah menerima bukti dan sekaligus membuktikan dirinya bahwa menerima sabda dan kehendak Tuhan, sebab  'seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya?'.  Zakaria yang telah dimerdekakan oleh nama anaknya itu, akhirnya berkata-kata dan memuji Allah. Banyak orang yang berada di sekitarnya heran akan semuanya. Mereka tidak menikmati langsung, tetapi mereka merasakan bahwa Tuhan berkarya dalam diri kedua orang yang telah banyak makan garam itu.  Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea.

Semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: menjadi apakah anak ini nanti, sebab tangan Tuhan menyertai dia. Tuhan Allah membuat segala-galanya indah adanya. Kehadiran Tuhan selalu membawa sukacita. Anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya, dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel. Segala-galanya ada waktunya. Namun apakah Yohanes juga sadar bahwa dirinya adalah seorang yang terpilih sebagaimana dikatakan Yesaya: 'TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya?' (49: 1-2). Pasti Yohanes sadar sungguh akan tugas perutusannya. Bahkan ketika harus berhadapan dengan sang Al Masih,  dia berkata: biarlah Dia semakin bertambah dan aku semakin berkurang. Aku bukanlah Dia yang kalian tungggu-tunggu. Membuka tali sandalNya pun aku tidak layak (Kis 13: 22-26).

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kelahiran Yohanes membuat ikatan lidah sang ayah Zakharia yang selama ini telah bisu, terlepas dan mampu berkata-kata kembali. Kelahirannya juga membuat banyak orang bersukacita dan penuh keheran-heranan. Kelahiran Yohanes benar-benar membuat orang bertanya untuk semakin berani membuka dan menatap masa depan yang baik. Ajarilah kami untuk hadir sebagaimana kehadiran Yohanes nabi agung ini, yang membawa sukacita bagi banyak orang. Amin.

 

 

Contemplatio

Semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: menjadi apakah anak ini nanti, sebab tangan Tuhan menyertai dia.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening