Jumat dalam Pekan Biasa X, 10 Juni 2016

1Raj 19: 11-16  +  Mzm 27  +  Mat 5: 27-32

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus melanjutkan pengajaranNya. KataNya: 'kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.  Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.  Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.  Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah'.

 

 

 

Meditatio

'Kamu telah mendengar firman: jangan berzinah', itulah penegasan Yesus, dan memang itulah hukum yang tertulis dalam kitab Taurat. 'Jangan berzinah' (Kel 20: 14), sebagaimana pernah disampaikan Tuhan sendiri melalui Musa. Berzinah berarti melawan keutuhan rumah tangga, dan kehendak Tuhan sendiri tentunya yang memberikan hokum. 'Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya', tegas Yesus menambahkannya. Sebab jangankan dengan tindakan, keinginan dalam hati dan pikiran adalah sebuah dosa, yang memang harus segera dicabut. Perbuatan zinah adalah akibat tindak lanjut dari pikiran jahat. Itulah yang dikatakanNya juga kemarin, jangankan membunuh, seseorang yang marah saja sudah layak dihukum. Akar dosa berasal dalam hati dan pikiran seseorang.   

'Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka'. Apalah artinya kelengkapan dan kesempurnaan fisik, kalau seseorang jatuh terus-menerus dalam dosa. Namun tidaklah dimaksudkan merendahkan keindahan tubuh yang sempurna dan berguna dalam hidup bersama itu. Anggota tubuh mempunyai peran yang satu berbeda dengan lainnya, dan kiranya hendaknya kita nikmati dengan penuh syukur dan tanggungjawab. Kesempurnaan anggota tubuh membuat hidup ini semakin terasa indah. Kesehatan itu mahal, apalagi sakit semakin mahal dan tak terbayarkan.  'Demikian juga jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka'. 

'Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam' (1Raj 19: 14), kalau kita boleh mengutip teks ini, tentunya kita dapat semakin giat dalam bekerja. Segala pekerjaan hendaknya kita persembahkan kepada Tuhan Allah semesta alam. Di situlah kita juga akan merasakan betapa indahnya kesempurnaan tubuh kita, bila kita mempunyai semuanya dalam keadaan sehat. Tubuh kita membuat kita hadir secara nyata dalam mewujudkan Tuhan yang mencipta dan berkarya di tengah-tengah umatNya. Ucapan syukur kepada Tuhan tentunya akan membuat kita juga ingat akan saudara dan saudari kita yang terganggu kesehatannya, atau mereka yang cacat, dan terlebih berkebutuhan khusus. Mereka adalah bagian hidup kita juga.

'Telah difirmankan juga', Yesus terus menambahkan dalam pengajaranNya,  'siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya'. Kalau kita ingat Musa mengijinkan membuat surat cerai, hanya karena kedegilan hati umatNya, orang-orang milik Allah,  dan bukan karena kemauan Tuhan Allah sendiri (Mat 19: 8). Segala yang telah disatukan Allah tidaklah boleh diceraikan manusia. 'Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah'. Matius amat terpengaruh juga pandangan patriakhal, bahwasannya pihak laki-laki selalu dibenarkan. Penyataaan di atas sepertinya perceraian diijinkan kalau sang isteri tertangkap basah berbuat zinah, bahkan perempuan harus dihukum, sebagaimana seseorang perempuan yang dihadapkan Yesus karena kedapatan berbuat berdosa (Mat 9). Lalu bagaimana bila sang lelaki yang mengadakan perzinahan, apakah dia layak diceraikan juga oleh pihak perempuan? Apakah perempuan mempunyai hak untuk menceraikan suaminya? Juga apakah perempuan yang menikahi lelaki-cerai, apakah keduanya hidup dalam perzinahan? Atau hanya laki-laki itu yang terkena hokum perzinahan?

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu, karena kami dapat bekerja dengan sempurna, juga karena kesehatan yang prima ini yang dapat membuat kami semakin bersemangat dalam berkarya. Semoga kami semakin berani berbagi dengan mereka yang berkekurangan.

Sucikanlah hati dan budi kami selalu, amin.

 

 

 

Contemplatio

'Aku berkata kepadamu: setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya'.

 

 



Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012