Jumat dalam Pekan Biasa XI, 17 Juni 2016

2Raj 11: 9-18  +  Mzm 132  +  Mat 6: 19-23

 

 

 

Lectio

'Demikian juga', kata Yesus melanjutkan pengajaranNya, 'janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.  Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;  jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu'.

 

 

Meditatio

'Demikian juga', kata Yesus melanjutkan pengajaranNya, 'janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi'. Mengapa tidak boleh di bumi ini? Sebab 'di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya'. Tidak ada yang baka di dunia ini. Semuanya bersifat sementara. Karena itu, 'kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya'. Di surga segalanya amat baik adanya, karena memang di surgalah tempat Allah Bapa bertakhta, dan di surgalah keabadian segala terjadi. Namun lebih dari semuanya itu, 'di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada'. Hidup kita akan terarah selalu ke surga, karena memang kita menaruh harta kekayaan kita di sana.

Harta apa yang dapat kita simpan di surga? Mungkinkah kita menyimpan harta benda kekayaan ini ke dalam surga? Mungkin istilah harta adalah sebuah ungkapan akan segala yang kita miliki. Harta apa yang paling utama yang kita miliki? Sebagai orang beriman hendaknya kita berani berkata hidup inilah harta kekayaan kita yang paling utama. Bukankah hidup ini adalah pemberian Tuhan Allah sendiri. Apakah artinya kekayaan, kalau memang kita tidak menikmati kenyamanan dan kebahagiaan? Apalah arti kepandaian, kalau kita selalu kuatir dan gelisah. Kalau kita mensyukuri hidup ini, pasti kita akan menjaga dan merawat hidup ini sebaik mungkin. Tidak ada orang yang mau bersengsara dalam hidupnya. Setiap orang akan menjaga kehidupan. Bukankah melalui Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma (bab 14), kita pun diajak untuk berani mempertanggungjawabkan hidup kita? Hidup ini akan semakin indah dan penuh arti kalau kita berani berkata seperti seorang pemazmur (16: 5): 'Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku'. Tuhan Yesus sendiri menjadi harta milik kita, karena memang 'bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku' (Gal 2: 20).

'Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;  jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu'. Apakah hanya mata? Bagaimana dengan telinga dan hidung? Bagaimana dengan tangan kita yang dapat meraba? Dan bagaimana dengan kaki yang dapat membuat kita melangkah ke mana kita kehendaki? Yesus tidak meniadakan yang lain. Dalam kaitannya dengan bahasa gelap dan terang, matalah yang dapat menikmatinya secara langsung. Matalah yang dapat berkata-kata tentang gelap dan terang. Kita dapat menikmati dunia dengan indahnya bila mata mengatakannya. Namun tak dapat disangkal bila kita memandang segala sesuatu dengan kacamata jahat, maka tubuh kita dibuatnya jahat, karena kita melakukan segala sesuatu hanya untuk kepuasan diri insani. Kita menjadikan dunia ini jahat, dan bahkan tubuh kita sendiri jahat adanya karena kita masuk dalam atmosfir kejahatan.

'Jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu'. Bila dunia kita perlakukan secara jahat, mereka yang adalah fana tak segan-segan membuat kita fana dan binasa adanya.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami tahu bahwa bukan segala harta kekayaan dunia yang utama dalam hidup ini, yang mampu mendatangkan kebahagiaan. Tetapi bantulah kami untuk selalu dapat mensyukuri hidup ini dan dapat menjalaninya dengan indah dan berarti. Amin

 

Contemplatio

'Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada'.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening