Kamis dalam Pekan Biasa IX, 2 Juni 2016


2Tim 2: 8-15  +  Mzm 25   +  Mrk 12: 28-34

 

 

 

Lectio

Suatu hari seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

 

 

Meditatio

'Hukum manakah yang paling utama?'. Sebuah pertanyaan orang Farisi kepada Yesus.  Hukum yang paling utama mengandaikan hukum satu ini melandasi dan menjadi inti dari semua hukum lainnya. Jawab Yesus: 'hukum yang terutama ialah: dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu'. Mengapa kita harus mengasihi Tuhan Allah? Mengapa harus dengan segenap hati? Tuhan Allah memang tidak pamrih. Allah hanya menawarkan keselamatan kepada seluruh umat manusia; barangsiapa mengamininya dia akan selamat. Bukannya Allah tidak bisa menyelamatkan seluruh umat manusia tanpa melakukan perintah-perintahNya? Namun bukankah manusia mempunyai kehendak bebas dan akal budi. Setiap kita diberi hak untuk melakukan segala yang baik sesuai dengan kehendakNya. Hak azasi dan kehendak bebas adalah sesuai dengan gambar Allah sendiri (Kej 1).

'Dan hukum yang kedua ialah', sambung Yesus.  'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Mengasihi sesama itu setingkat dan sama dengan mengasihi Tuhan, yang mana keduanya saling mengandaikan satu sama lain. Yang satu ada bersama dengan yang lain. Tidak cukup, dan memang salah besar, bila memang hanya melakukan yang satu tetapi mengabaikan yang lain. 'Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini'. Kedua perintah ini adalah satu kesatuan. Yakobus membahasakan bahwa iman itu harus diwujud nyatakan dalam perbuatan sehari-hari.  

Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: 'tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan'. Kurban bakaran adalah salah satu bentuk ritual doa persembahan hati kepada Tuhan. Aneka bentuk persembahan yang kasat mata itu adalah ungkapan persembahan diri yang dikehendaki Tuhan. Apalah arti lambang-lambang itu bila memang tidak disertai dengan persembahan diri? Apalah arti korban bakaran memang kalau seseorang tidak mau mentaati segala yang dikehendaki Tuhan, atau dalam kehidupan keluarga dia begitu antipati dengan saudara, atau bahkan dengan orang-orang yang bekerja membantu keluarganya? Orang-orang yang tidak menaruh hati kepada Tuhan dan sesama dengan segenap hati biasanya begitu amat menekan aneka peribadatan yang hanya ingin dilihat orang. Mereka ingin mendapatkan pengakuan dari banyak orang bahwa dia penghayat kewajiban agama yang baik. Mereka adalah kaum munafik.

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: 'engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!'. Orang itu bijak, karena dia tahu mana yang terbaik bagi hidupnya. Sejauhmana kualitas dia dalam menghayatinya seperti memang tidak ditunjukkan, tapi tak dapat disangkal dia berusaha mengamininya dalam hidup sehari-hari. Kiranya ada baiknya, malah seharusnya memang, supaya  kita semakin setia mengasihi Dia dan sesama dengan segenap hati, apapun tantangan dan rintangan yang kita hadapi. Sebab 'jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya' (2Tim 2: 12-13).

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, mampukanlah kami untuk mengasihi Engkau dengan mengasihi sesama secara sungguh-sungguh, tanpa mengharapkan pujian atau penghargaan orang lain, tetapi sungguh sebagai persembahan diri kami kepadaMu. Karena itulah yang Engkau sendiri kehendaki dari kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu'.

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening