Kamis dalam Pekan Biasa XI, 16 Juni 2016

Sir 48: 1-14  +  Mzm 97  +  Mat 6: 7-15

 

 

 

Lectio

Suatu hari melanjutkan pengajaranNya, kataNya: 'ingatlah, dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.  Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian:

Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,  datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.  Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

 

 

 

Meditatio

'Ingatlah, dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan', kata Yesus kepada para muridNya. Bagaimana mereka mau berdoa kalau mereka tidak mengenal Allah? Mereka tidak mengenal karena memang mereka masih meraba-raba kepada siapakah mereka harus bermohon. Bahkan dalam perkembangan Gereja awal, Paulus menemui banyak orang yang berdoa kepada allah yang tidak dikenal (Kis 17: 23). Ketidakjelasan mereka dalam mengenal allah inilah yang membuat mereka mengalirkan kata-kata yang tidak berujung pangkal. Semakin banyak kata-kata, mereka mengandaikan akan mampu menangkap Dia di mana Dia berada.

'Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya', tambah Yesus. Bapa di surga mengetahui segala yang kita pikirkan dan bahkan yang kita inginkan (Mzm 139). Dia yang tahu segalanya tidak mau memanjakan umatNya. Sebab bukankah kita manusia tercipta sesuai dengan gambarNya (Kej 1). Memanjakan umat manusia melemahkan gambar Allah, sebagaimana dikehendaki Allah sendiri. Berkat akal budinya yang mempunyai hati, malah setiap orang diajak untuk memurnikan dirinya. Apa yang menjadi kemauan diri inilah yang kiranya perlu terus-menerus dimurnikan. Bukankah kecenderungan insani tidak akan kita tonjolkan di hadapanNya, karena memang tak berkenan kepadaNya? Kemauan hati yang mendalam inilah yang kiranya terus kita tampakkan kepadaNya.

'Karena itu berdoalah demikian'. Tegas Yesus mengajarkan kepada para muridNya:

'Bapa kami yang di sorga'. Dia berada di surga, karena memang Bapa itu kekal adaNya. Dialah sang Empunya kehidupan. Dia di surga, karena memang surgalah tempat dan asal kehidupan, sebagaimana kita nikmati sebelum kita jatuh dalam dosa bersama Adam dan Hawa. 'Dikuduskanlah nama-Mu'. Karena memang Allah itu Kudus. Dialah keselamatan. Maka hanya kepadaNyalah kita harus menyembah dan merunduk, dan hanya Dialah yang harus kita amini sabda dan kehendakNya.

'Datanglah Kerajaan-Mu', sebab dalam KerajaanNya, kita segalanya dapat terjadi dengan indahnya. Dalam KerajaanNya kita semua menikmati keselamatan. Kelak memang kita semua akan diundang masuk dalam KerajaanNya yang mulia, tetapi sekarang pun datanglah KerajaanNya agar kita semua tidak jatuh dalam lembah dosa. Membiarkan Allah meraja dalam diri kita, maka kita dapat menikmati hidup di dunia ini dengan penuh sukacita.  'Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga'. Sekali lagi, hanya dalam Dia, segalanya terasa indah dan mulia. Biarlah segala yang indah dan kekal yang terjadi di dalam surga itu terjadi juga di dunia ini, karena Dia meraja dalam hidup kita, dan kita membiarkan Dia meraja dalam dunia kehidupan kita. Orang yang mengamini sabda dan kehendak Tuhan akan menjadi Elia yang dapat melakukan segala suatu yang indah (Sir 48: 19), dan dengan mudahnya akan memindahkan gunung dari daratan ini ke tengah lautan yang dalam.

'Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya'. Secukupnya itu berarti apa adanya, dan tidak berlebih-lebihan, supaya kita tidak terjebak dalam keserakahan dan kerakusan. Kiranya juga kita berani bersyukur kepada Tuhan atas segala yang ada di sekitar kita, dan segala yang dapat kita miliki. Tuhan Allah akan memberikan segala yang baik, sebab Dia bagaikan Gembala yang tidak membiarkan kawanan dombaNya berkekurangan.

'Ampunilah kami akan kesalahan kami',karena kami percaya hanya padaMulah ada pengampunan dan keselamatan, dan Engkau sendiri memang tidak memperhitungkan segala dosa dan kekurangan kami. 'Seperti Engkau, kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami', sebab Engkau telah memberi dan melengkapi kami dengan Cuma-Cuma, maka kamipun agar berbagi dengan sesama secara sukarela; dan bukankah Engkau juga mengajak kami menjadi sempurna sebagaimana Engkau sempurna?

'Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat'. Kami mohon Bapa, karena kami amat lemah dan terbatas ini. Bukankah Yesus PuteraMu juga meminta Engkau Bapa agar menjaga kami, dan tidak mengambil kami dari dunia ini?  Buatlah segala sesuatu terjadi pada waktunya, sehingga segala kelimpahanMu itu tidak malah menjerumuskan kami dalam dosa karena kerakusan diri ini. Kami percaya kepadaMu Bapa. Kami bernohon kepadaMu Allah, 'karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin'.

Dalam hal pengampunan yang penuh belaskasih, Yesus menambahkan: 'jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu'. Apakah pengampunan  Bapa bergantung sikap kita kepada sesama? Bukankah Dia lebih berkuasa, mengapa tidak mengampuni kita terlebih dahulu? Bapa memang telah mengampuni dan terus akan mengampuni kita, tetapi keberanian kita untuk berbagi belaskasihNya, akan semakin kita nikmati pengampunanNya. Kasih pengampunan yang kita nikmati sendiri akan membuat kita tumpul terhadap sesama dan dunia ini, kasih pengampunan yang memperbaharui dan menguduskan, yang memperbaiki dan menyempurnakan akan semakin kita nikmati, bila memang kita biarkan mengalir dengan lembutnya dalam pergaulan hidup keseharian ini.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, Engkau yang Empunya kehidupan dan mengetahui keberadaan kami dengan persis. Bantulah kami dalam memurnikan hidup kami, sehingga tidak mengutamakan diri, tetapi mampu berbelaskasih terhadap sesama.  Amin

 

 

Contemplatio

'Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya'.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening