Kamis dalam Pekasn Biasa X, 9 Juni 2016

1Raj 18: 41-46  +  Mzm 65  +  Mat 5: 20-26

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus melanjutkan pengajaranNya. KataNya: 'Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.  Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'.

 

 

Meditatio

'Aku berkata kepadamu', tegas Yesus kepada para muridNya, yakni orang-orang yang mendengarkan pengajaranNya,  'jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'. Hidup keagamaan yang bagaimana? Tentunya hidup yang tidak munafik dan mencari kesenangan diri. Itulah yang memang dilakukan oleh banyak orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka suka memakai jumbai jubah panjang, dan meresitir doa yang panjang daan bertele-tele dengan tujuan menelan rumah para janda. Mereka melakukan segala kewajiban agama, dan itu kemungkinan sudah mendatangkan berkat, tapi para murid hendaknya lebih baik hidupnya daripada mereka.

Karena itu, tegas Yesus, 'Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum, dan bukannya mereka yang membunuh harus dihukum'. Bukankah akar pembunuhan adalah kemarahan. Kemarahan yang diberlanjutkan akan mengarah kepada pembunuhan. Karena itu, jangankan membunuh, orang marah pun harus diingatkan dan bahkan ditegur dan dihukum. Demikian juga, bukan saja 'siapa yang berkata kepada saudaranya kafir, harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, tetapi malahan siapa yang berkata jahil, harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala'. 

Jangankan dalam hal negative saja yang diperhatikan, dalam hal yang positif pun, Yesus meminta agar kita para muridNya melakukan segala suatu dengan kemurnian dan kesucian jiwa. 'Aku berkata kepadamu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu'. Yesus meminta agar kita mengkondisikan diri baik adanya. Situasi tidak damai sebenarnya adalah sebuah beban yang harus ditanggung jiwa. Apalagi kalau kita berada dalam posisi salah; karena itu, 'segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'. Ketidakmauan berdamai menggagalkan diri kita menghunjukkan persembahan ke altarNya yang kudus. Janganlah kita mempersembahkan kurban persembahan ke altar sedangkan tangan kita berlumuran darah karena kejahatan yang kita lakukan.  'Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan' (Mat 9: 13). Bukankah persembahan di altar adalah lambang persembahan diri. Maka tentunya pengudusan diri adalah amatlah penting dalam persembahan kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan. 'Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah' (Mzm 51: 19)

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami dalam mencabut akar-akar dosa hidup, agar kami semakin berkenan kepadaMu. Jadikanlah kami orang-orang setia dalam menabur kebaikan dalam hidup ini. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum'.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening