Minggu dalam Pekan Biasa XI, 12 Juni 2016


2Sam 12: 7-10  +  Gal 2: 19-21  +  Luk 7: 36-50

 

 

 

Lectio

Suatu hari seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.  Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.  Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru."

"Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?"  Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu."  Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."  Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni."  Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

 

 

 

Meditatio

Suatu hari seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Baik kali orang Farisi ini. Tidak semua orng Farisi itu jahat. Kita tidak boleh menggeneralisasi suatu komunitas hanya gara-gara penampilan satu dua orang. Ia berani mengundang Yesus tentunya dia mempunyai hormat dan kepercayaan kepada Yesus, Orang dan Guru dari Nazaret ini. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Yesus tidak pernah menolak orang-orang yang berseberangan dengan diriNya.

Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Pemberani sungguh perempuan satu ini. Sebagai perempuan berani seorang diri dia mendatangi rumah orang Farisi, yang memang tidak mengundang dirinya. Dia bahkan berani menjumpai Yesus Guru. Dia berani menerobos kumpulan banyak orang itu, karena dia mempunyai kepercayaan terhadap Yesus, sang Guru.  Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Tentunya dia minta ijin terlebih dahulu kepada Yesus untuk melakukan keinginan hatinya itu: membasuh kakinya dengan air mata dan meminyak rambutNya dengan minyak dan Yesus mengijinkannya. 

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: 'jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa'. Sebuah pengakuan bahwa Yesus adalah seorang Nabi. Namun mengapa Dia membiarkan seorang perempuan berdosa datang kepadaNya dan melakukan sesuatu yang sensasional di depan banyak orang; dan tak dapat disangkal, banyak orang berdiam diri: membiarkan semuanya itu terjadi. Lalu Yesus, yang tahu isi hati setiap umatNya, berkata kepadanya: 'Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu'. Tanpa banyak berkata-kata Simon menyahut: 'katakanlah, Guru'. Adakah kecurigaan Simon atas ajakan Yesus ini?

'Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?'. Sebuah pertanyaan yang amat mudah dijawab tetnunya.  'Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya', sahut Simon orang Farisi yang baik ini, dan Yesus membenarkannya. Namun, 'engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi'.  Yesus membandingkan dia habis-habisan dengan perempuan berdosa tadi. Memang, mengapa minimal Simon tidak mempersiapkan air untuk acara basuh kaki? Bukankah dia sang tuan rumah? Bukankah membasuh kaki itu kewajiban setiap orang yang memasuki rumah, mengingat debu perjalanan yang sering kali melekat dalam setiap pejalan kaki? Dan tak dapat diragukan lagi, penghormatan perempuan itu memang lebih hebat dari sikap Simon yang mengundangNya makan. Kepercayaan dan cinta perempuan ini lebih hebat daripada tindakan Simon.

'Aku berkata kepadamu: dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih', tegas Yesus. Segala dosa dan kesalahan perempuan itu telah mendapatkan pengampunan karena kasih yang dilakukannya. Kasih terhadap Tuhan Allah sang Empunya kehidupan, yang ditampakkan nyata dalam kasih dan pelayanan terhadap Yesus sang Guru. Perempuan itu merasa sudah mendapatkan pengampunan yang luar biasa, karena keyakinannya kepada Tuhan Yesus yang Maharahim dan penuh belaskasih. Sebuah tindakan yang sulit diperkirakan dan dimengerti banyak orang. Keyakinan seseorang akan kemahakuasaan Tuhan Allah membuat dia melakukan segala sesuatu yang di luar prakiraan insani. Namun tak dapat disangkal,  'orang yang merasa sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih'. Perasaan iman akan Allah yang dimiliki Simon yang masih dipenuhi keragu-raguan membuat dia pun melakukan sesuatu tak sebesar apa yang dilakukan oleh perempuan berdosa itu. 

'Dosamu telah diampuni', kata Yesus yang menjawab kepercayaan perempuan itu akan Yesus Kristus, sang Anak Manusia. Yesus menegaskan hal ini, sebab bukankah 'di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa' (Mat 9: 6). Dan akhirnya Yesus memuji bahagia perempunan itu 'imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!'. Mengapa? Karena memang berkat imannya itu dia mendapatkan keselamatan. Dia tidak takut akan realitas sosial yang sering kali memang tidak membenarkan bahwa vox populi vox dei. Banyak suara masyrakat hanya suara bebek, suara yang mengikuti dia yang berbicara paling kuat. Banyak suara yang mengaku suara masyarakat, tetapi hanya ingin mencari menangnya sendiri. Suara rakyat hanya mengandalkan nada mayoritas, dan bukan kebenaran. Suara masyarakat tetapi sebenarnya hanya suara partai politik.

Imanlah yang menyelamatkan. Itulah yang ditegaskan juga oleh Paulus dalam suratnya kepada umat di Galatia, bahwa tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukumTaurat, melainkan hanya karena iman dalam Kristus Yesus (Gal 2). Itulah iman perempuan tadi, yang pada akhirnya mendapatkan pengampunan dan keselamatan. Kita mungkin tidak menghadapi tantangan seperti perempuan tadi ketika hendak berjumpa dengan  Kristus Tuhan. Namun kita malah harus berani berkata, karena iman kita kepadaNya, bahwa 'aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku; dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku' (Gal 2: 20).

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, teguhkanlah iman kepercayaan kami kepadaMu. Ajarilah kami untuk menguatkan iman kepercayaan dalam hidup sehari-hari, dalam arti: kami selalu mengandalkan Engkau dalam setiap karya pekerjaan dan pelayanan kami, dan bukan kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening