Rabu dalam Pekan Biasa IX, 1 Juni 2016

2Tim 1: 1-12  +  Mzm 123   +  Mrk 12: 18-27

 

 

 

Lectio

Suatu hari satanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!"

 

 

Meditatio

'Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita', Tanya beberapa orang Saduki yang datang kepada Yesus. 'Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu'. Mempunyai keturunan adalah berkat Tuhan. Apakah tidak mempunyai anak berarti tidak mendapatkan bekat dari Tuhan? Adakah berkat Tuhan hanya ditampakkan dalam kehadiran anak-anak dalam sebuah keluarga? Janganlah berkata begitu. Jangan-jangan nanti mereka yang membatasi jumlah anak dalam keluarga berarti membatasi  dan menolak berkat Tuhan.  

'Ada tujuh orang bersaudara', sambung mereka kaum Saduki.  'Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia'. Pertanyaan mereka bukanlah soal adanya anak atau tidak, melainkan bagaimana realitas pasca kematian atau realitas kebangkitan kelak dengan melihat kenyataan sekarang ini? Sebuah pertanyaan yang kritis dan baik adanya. Jawab Yesus kepada mereka:  'kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah'. Kaum Saduki benar-benar orang sesat, karena tidak mau mengerti isi kitab suci, tidak mau mengerti sabda dan kehendak Tuhan. Kaum Saduki adalah orang-orang yang tidak mengakui adanya kebangkitan sebagaimana sudah ditegaskan dalam kitab suci. 'Kamu benar-benar sesat!', kecam Yesus. Perjanjian Lama sudah mengatakan adanya pengharapan akan kebangkitan badan. 'Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga'. Malaikat itu roh, yang tidak kawin dan dikawinkan. Mereka itu suci murni, tidak mempunyai keinginan insani. Kehidupan surgawi berbeda, bahkan bertolak belakang dengan kehidupan duniawi. Hidup kebangkitan adalah kehidupan baru, karena memang kita berada di tempat di mana Allah berada (Yoh 11). Inilah yang membuat kita harus ikut ambil bagian dalam keilahian dan keabadianNya.  

'Tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub?'. Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dia bukan saja Allah bapa Abraham, atau Ishak, atau Yakub. Allah yang disebut sepanjang sejarah menunjukkan Allah itu kekal abadi, karena memang Dialah sang Empunya kehidupan. 'Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup'.

Kita bukanlah orang-orang Saduki, karena kita percaya akan kebangkitan jiwa raga kita. Kita adalah orang-orang yang merindukan keselamatan. Kita ingin menikmati tubuh baru (1Kor 15) dalam kehidupan kekal. Semuanya itu kita terima 'bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa' (2Tim1: 9-10). Kiranya semuanya itu perlu kita syukuri dan kita nikmati dalam setiap langkah hidup ini. Kepercayaan akan hidup kekal membuat setiap orang siap menghadapi masa depan yang lebih ceria dan menyenangkan.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur, dengan mengimani Engkau yang adalah Allah dan yang Empunya kehidupan, kami telah menikmati kehidupan kekal yang menyelamatkan. 

Semangatilah kami dengan kasihMU, agar kami semakin pancasilais dalam keseharian hidup ini. Amin

 

 

Contemplatio

'Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup'.

 

 

 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012