Sabtu dalam Pekan Biasa XII, 25 Juni 2016

Rat 2: 2-19  +  Mzm 74  +  Mat 8: 5-17

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:  "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."  Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya."  Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.  Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."  Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.  Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,  sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."  Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.  Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam.  Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia.  Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit.  Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."

 

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia. Aneh juga, seorang perwira mencari Yesus seorang Guru. Apa urusan seorang perwira mencari Guru dari Nazaret.  Dia memohon kepada-Nya: 'Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita'. Mana permohonan perwira itu? Bukankah dia hanya memberi laporan tentang keberadaan anaknya yang sakit? Memang tak dapat disangkal, pernyataannya itu mengandung suatu permohanan yang mendalam. Halus juga budi bahasa sang perwira Roma, yang banyak dikenal orang sebagai orang yang jahat dan keras.  Yesus yang tahu isi hati umatNya berkata kepadanya: 'Aku akan datang menyembuhkannya'.  Tetapi sahut perwira itu kepada-Nya: 'Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh'. Keberanian yang luar biasa perwira ini. Di satu pihak, dia meminta dan meminta bantuan dari padaNya, tetapi dia berani juga menyatakan kehebatan diri. Namun dia merasa tidak layak dan pantas untuk menerimaNya. Apalah jabatan yang dimilikinya itu di hadapan sang Guru yang satu ini? Walau tak dapat disangkal, dia percaya sungguh, bahwa sabdaNya amat kuasa menyembuhkan. Sang perwira yakin bahwa segalanya akan terjadi dengan indahnya, anaknya akan sembuh hanya karena sabdaNya. Sabda Allah adalah kehendakNya yang kudus. Memang, 'aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: pergi, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: datang, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: kerjakanlah ini, maka ia mengerjakannya'. Kejujuran dari seorang perwira. Dia sadar akan segala yang dimilikinya, tetapi sekaligus lebih-lebih menyadari bahwa Seseorang yag ada di depannya sungguh-sungguh luar biasa, dan mengatasi hidupnya. 

Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia. Mengapa Yesus heran? Apakah Dia tidak memperkirakan jauh sebelumnya? Apa Yesus menutup kemungkinan yang akan akan terjadi pada diri perwira itu? Atas kekagumanNya terhadap sang perwira itu, berkatalah Yesus kepada mereka yang mengikuti-Nya: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel'. Yesus heran, karena memang Dia belum pernah menemukan orang yang hebat  selama ini. Dia menyebut Israel, karena memang seharusnya semua itu bias dan harus terjadi di antara orang-orang yang terpilih. Keindahan iman yang agung dan mulia malah terjadi pada orang-orang yang diperkirakan tidak mengenal Allah. Benar jugalah apa yang pernah dikatakan Yesus bahwa bangsa Israel itu tak ubahnya seperti para penggarap kebun anggur yang tidak tahu berterima kasih kepada sang pemilik kebun anggur. Dia tidak segan-segan akan membinasakan para penggarap itu dan menyerahkan kepada para penggarap lain.  'Aku berkata kepadamu: banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi'.   

Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: 'pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya'. Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. Iman selalu menjawab kerinduan hati setiap orang yang percaya kepadaNya. Itulah yang juga dialami oleh Zakheus yang hanya ingin melihat Orang Nazaret itu (Luk 19), malah dia mendapatkan karunia terindah dalam hidupnya.

Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam.  Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia. Yesus penuh belaskasih dan selalu menaruh perhatian kepada mereka yang lemah.

Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Dari siapa mereka tahu bahwa Yesus ada di rumah Petrus? Apalagi bukankah rumah-rumah mereka masih miskin lampu penerangan, dan tidak seperti sekarang ini?  Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: 'Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita'. Yesus memang datang ke dunia, ke tengah-tengah umatNya, bukan untuk meniadakan hokum Taurat dan kitab para Nabi, melainkan untuk menggenapinya. Dia melakukan segala kehendak Tuhan yang dinubuatkan para nabi, karena memang Dialah sendiri adalah Tuhan Allah sang Empunya kehidupan ini.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami percaya kepadaMu. Kami mengenal Engkau. Namun tak dapat disangkal, kami mempunyai konsep sendiri tentang Engkau, dan inilah yang sering membelokkan pengenalan kami. Bantulah kami dengan Roh KudusMu, agar kami berani mengubah konsep hidup kami agar sesuai dengan keberadaanMu sendiri bagi kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya'.






Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012