Selasa dalam Pekan Biasa X, 7 Juni 2016

1Raj 17: 7-16  +  Mzm 4  +  Mat 5: 13-16

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus melanjutkan pengajaranNya. KataNya: 'kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga'.

 

 

Meditatio

'Kamu adalah garam dunia', tegas Yesus dalam pengajaranNya. Menjadi garam berarti mampu memberi rasa enak dan nikmat. Dalam kebersamaan hendaknya kita harus mampu memberi makna. Pasti secara kuantitaf, jumlah yang diperlukan amatlah sedikit, tetapi secara proporsional dapat dicampurkannya, maka akan memberi makna. Itulah garam. Itulah kita para muridNya. Itulah kita semua.  'Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang'. Tidak ada posisi tawar untuk dimengerti. Kalau garam tidak memberi makna harus dibuang. Tidak ada yang tawar-menawar sebagaimana pohon ara yang tidak berbuah yang masih ada orang yang akan mencangkul tanahnya dan memberi pupuk satu tahun lagi. Ranting yang tidak berbuah pun dan kering akan langsung dipotongnya lalu dibakar.

'Kamu adalah terang dunia'. Seperti garam yang selalu memberi dan memberi, demikian juga terang. 'Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi'. Setiap orang pun sepertinya telah diberikan pelbagai karuniaNya oleh Tuhan, dan karunia itu diberikan untuk perkembangan hidup GerejaNya, umatNya yang kudus (1Kor 12). Karena itulah, Yesus mengatakan kota yang berada di atas gunung pasti tak mungkin tersembunyi. Tuhan Allah memberikan karuniaNya, bukan hanya bagi seseorang yang menerimanya, melainkan bagi banyak orang yang ada di sekitarnya. 'Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu'. Setiap orang harus berani menikmati panggilanNya, sebagaimana Tuhan kehendaki. Darimana kita ketahui bahwa tugas itu dikehendaki Allah? Segala yang bisa kita kerjakan itulah panggilan hidup kita. Sebaliknya ketidakmauan kita mengubah dan belajar atas dasar kemampuan yang kita miliki, maka tak ubahnya: kita melanggar kemauan Tuhan sendiri. Barangsiapa menerima banyak, akan dituntut banya pula daripadanya. 'Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya' (Mat 25: 29). Walau memang tak dapat disangkal, perlu ketajaman hati untuk berani melakukan peristiwa yang tidak mengenakkan dan tidak seturut kemauan diri kita, sebagaimana yang dilakukan janda sarfat yang harus memberi makan bagi sang nabi Elia (1Raj 17: 7-16). Kepekaan hati amat penting memang dalam hidup ini, agar kita pun selalu berani berkata seperti Maria: aku hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.

'Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga'. Memaknai panggilan hidup sebagaimana adanyaa, kit akan menjadi tanda keselamatan bagi banyak orang. Kita akan menjadi motivator bagi orang lain untuk memuliakan Tuhan. Kita menjadi penyulut bagi orang lain untuk berani bersyukur kepada Tuhan Allah. Inilah katekese tanpa suara, melainkan benar-benar melalui hidup konkrit sehari hari.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, ajari kami menikmati panggilan hidup kami, menjalankan segala tugas pekerjaan kami sebagaimana adanya, sebab di situlah kami menghayati panggilan ini dengan penuh syukur dan terima kasih. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga'.

 





Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012