Senin dalam Pekan Biasa X, 6 Juni 2016

1Raj 17: 1-6  +  Mzm 121  +  Mat 5: 1-12

 

 

 

Lectio

Suatu hari ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.  Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:  "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.  Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.  Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.  Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.  Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.  Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.  Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

 

 

 

Meditatio

'Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga'. Orang-orang miskin di hadapanNya adalah mereka empunya Kerajaan Allah. Mereka adalah orang-orang yang mengakui diri miskin di hadapanNya. Mereka selalu memohon dan memohon bantuanNya. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau menjauhkan dirinya dari Allah.

'Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur'. Apakah kita harus berani merasakan dukacita. Dukacita tidaklah harus dicari, karena dia akan datang dengan sendiri. Namun yakinlah, habis gelap terbitlah terang; yang tentunya bagi mereka yang menaruh harapan kepada Tuhan Allah.

'Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi'. Orang lemah lembut hatinya memang bukanlah orang-orang yang keras hati dan mau mencari senangnya sendiri. Mereka bukanlah orang-orang yang egois, malah sebaliknya mereka berani mendengarkan orang lain. Layaklah mereka itu mendapatkan Kerajaan Allah, karena mereka bersikap lemah lembut seperti Yesus sendiri. Tentunya mereka adalah orang-orang yang berusaha menjadi sesama bagi orang lain.

'Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan'. Sangatlah tepat yang dikatakan dalam Mazmur 126 bahwasannya: 'orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya'. Mereka tentunya  adalah orang-orang yang setia. Kebenaran yang dicarinya tentunya segala kebenaran yang berasal dari atas, dari Allah. Apalagi bahwa memang Dialah satu-satunya Jalan, Kebenaran dan Hidup. Mencari kebenaran bukanlah hal yang mudah. Salib harus dipanggulnya untuk mendapatkan kebenaran. Namun barang siapa bertahan sampai akhir dia akan beroleh selamat. Karena itu, 'berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga', tegas Yesus.

'Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan'. Kemurahan hati manusia pasti akan mendatangkan kemurahan dan kelimpahan Tuhan Allah sendiri. Sebab memang tak dapat disangkal, Allah selalu memberi ganjaran kepada setiap orang yang berani berbuat baik kepada sesamanya. Apalagi kalau berani menerima dan meneladan Allah sendiri yang Murah hati.

'Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah'. Orang berdosa memang tidak akan mampu melihat dan memandang Allah. Sebab bagaimana seseorang berani melihat Dia yang dilawan dan ditolaknya? Namun tentunya pertobatan akan menghantar setiap orang kepada kemampuan untuk melihat Allah, bahkan Allah sendiri datang dan makan bersama dengan orang-orang yang merasakan kasih Allah.

'Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah'. Sebab memang Yesus sendiri datang ke dunia guna membawa damai dan keselamatan bagi umat manusia. Walau tak dapat disangkal, damaiNya itu bagaikan pedang bermata dua. Mengapa? Sebab setiap orang harus berani memilih: yang dikehendaki Allah atau kepuasan diri. Kasih dan damai Tuhan akan memisahkan orang karena pilihannya itu. Kalau Yesus adalah Anak Allah yang hidup, maka tentunya setiap orang yang mau membawa damai seperti Dia, layaklah kalau Yesus memberi ganjaran mereka sebagai anak-anak Allah.

'Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat'. Mengapa bisa begitu? Karena banyak orang tidak menghendaki hidup baik. Malah kalau ada orang yang berusaha hidup baik, mereka akan lawan dan serang. Mari kita coba nabi itu. Bukankah dia pernah mengatakan bahwa Tuhan Allah akan menolong dia? Bukan saja yang percaya kepadaNya yang mendapatkan perlawanan, kehadiran Tuhan Allah sendiri menjadi bahan perbantahan banyak orang. Sebagaimana sang Mesias datang dengan memanggul salib, demikian juga setiap orang yang percaya kepadaNya, harus memanggul salib hidupnya. Pertolongan kita dari Tuhan, yang menjadi langit dan bumi  (Mzm121). Pujian itulah yang kiranya kita lambungkan dalam hidup ini. Sebab hanya dalam Dialah kita akan menikmati segala yang indah dan baik adanya. 'Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu'. Barangsiapa bertahan sampai akhir akan beroleh selamat.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar dapat hidup benar di hadapanMu, supaya kami beroleh kebahagiaan dan keselamatan dalam hidup kami ini. Amin

 

 

Contemplatio

'Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu'.

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening