Hari Raya Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, 16 Juli 2016


Mi 2: 1-5  +  Mzm 10  +  Mat 12: 14-21

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu, keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.  Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.  Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:  "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.  Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap."

 

 

 

Meditatio

Pada waktu itu, keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Yesus menyingkir dari mereka, bukan karena Yesus takut menghadapi kenyataan yang menentang diriNya, melainkan Yesus tahu bahwa Dia tidak ingin mati sia-sia. Dia datang malah hendak memberi kehidupan baru kepada seluruh umatNya. Dia datang bukan untuk mati binasa di tangan manusia, melainkan Dia hendak menyerahkan nyawaNya di kayu salib demi keselamatan umatNya.

Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Yesus melakukan aneka kebaikan bagi mereka semua. Namun Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.  Kenapa? Supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya.  'Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan'. Dalam penyataan Bapa sendiri, Dia tidak lagi menyebut 'hambaKU', melainkan 'AnakKu', karena memang Yesus adalah Putera Bapa yang menjadi manusia.  'Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa'. Dia diutus untuk menyampaikan hukum kebenaran, yakni sabda dan kehendak Tuhan sendiri. Namun,  'Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang; dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap'. Dia tampil bukan sebagai seorang pahlawan atau raja perkasa, melainkan sebagai seorang manusia yang tidak dikenal banyak orang. Dia mewartakan tetapi tidak berteriak. Dia begitu lemah lembut dan rendah hati, yang  oleh Bahasa Allah sebagaimana dinubuatkan Yesaya: buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya.

Dengan demikian, bisakah pewartaanNya didengarkan banyak orang? Dalam bahasa mazmur dilukiskan: 'langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;  hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.  Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;  tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari' (Mzm 19: 2-5). Pewartaan disampaikan oleh seluruh ciptaanNya; bahkan alam semesta yang tidak bersuara saja mampu memantulkan keindahan pewartaan kasihNya.

'Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya'. Roh yang satu dan sama itulah juga yang diterima Maria. 'Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau' (Luk 1: 35). Berkat rohNya yang kudus itu, Maria akhirnya berani berkata aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu. Dalam kuasa Roh Allah itulah Maria pun tampil sebagai seorang yang mampu membaca perkara-perkara besar yang telah dikerjakan Allah padanya demi keselamatan umatNya (Kons 27).  KehadiranNya yang tak memperdengarkan suara itu memang dapat ditangkap oleh orang-orang yang dibimbing oleh RohNya yang kudus. Karena RohNya pula, Maria menjadi seorang yang kontemplatif. Semua yang indah dan mulia dinikmati oleh Maria karena keterbukaannya akan kuasa Roh Allah yang kudus.

Di Hari Raya Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, kita diajak untuk semakin berani merayakan misteri Kristus dengan perasaan dan sikap sebagaimana Maria memandang Puteranya di Betlehem, di Nazaret dan pada saat wafatNya, serta bersama para puteranya yang baru bersorak atas kebangkitanNya (Kons 86). Artinya mari kita memandang Yesus seperti Maria memandang sang Putera dan menikmati kehadiranNya selalu. Keberanian kita bersikap seperti Maria dalam mengikuti Yesus akan mengkondisikan kita menikmati kemuliaan surgawi sebagaimana dituliskan oleh Paulus, yang mana 'tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya' (1Kor 15: 23).

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar menjadi orang yang mempunyai keterbukaan hati bagi RohMu, sehingga kamipun mampu menangkap kehadiranMu yang di dalam kesunyian, yang membawa pengharapan bagi kami dalam menikmati kemuliaanMu.

Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang; dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap'.

 

 




Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012