Jumat dalam Pekan Biasa XV, 15 Juli 2016

Yes 38: 1-6  +  Mzm   +  Mat 12: 1-8

 

 

 

Lectio

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.  Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat."  Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?  Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?  Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.  Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

 

 

Meditatio

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Karena lapar, cukup mungkin untuk dipahami tentunya. Karena berapa banyak jugalah yang mereka ambil untuk diambilnya tanpa ijin sang pemilik kebun. 'Apabila engkau melalui ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada gandum sesamamu itu' (Ul 23: 2). Mereka tidak termasuk dalam kategori pencuri. Apalagi ada Yesus sang Guru, yang sepertinya mengijinkan tindakan itu. Mungkinkah seorang guru membiarkan para muridnya mencuri?  

Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: 'lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat'. Bukankah di hari Sabat orang harus beristirahat dari aneka kegiatan. Mengangkat tilam saja tidak boleh, apalagi memetik gandum?  Tetapi jawab Yesus kepada mereka: 'tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?  Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?'. Bukankah dengan meniadakan aneka gerak, dan meminta semua berdiam diri, bukankah itu sebuah kematian? Apakah pelayanan para imam di dalam bait Allah tidak juga melanggar aneka gerak hidup seorang individu? Apakah harus membiarkan seorang anak kecil yang hampir tenggelam di pinggir sungai, karena hari itu Sabat?

'Aku berkata kepadamu: di sini ada yang melebihi Bait Allah'. Karena memang Yesuslah Allah yang menjadi manusia. Dialah Pemilik seluruh alam semesta dan isinya. 'Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah'. Ketaatan pada hukum memang benar dan harus dijunjung tinggi, tetapi kiranya nilai-nilai kemanusiaan haruslah lebih dihormati dan ditinggikan dari segala peraturan. Hak hidup dan hak untuk selamat adalah hak azasi setiap orang. Ketaatan adalah sebuah persembahan diri sebatas tuntutan dalam kebersamaan, tetapi tidaklah demikian dengan belaskasih yang sama-sama sebuah persembahan yang mengatasi aneka tuntutan, melainkan benar-benar memberi dan memberi. Yesus membela para muridNya, karena Dia tahu dan memahami keberkurangan dan kelemahan para muridNya. Yesus amat memahami kelemahan dan ketidak berdayaan kita umatNya. 'Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat'.

Maria amat mengerti sang Puteranya ini selalu menampakkan Wajah Kerahiman Allah, sebagaimana kita renungkan hari Rabu kemarin; malahan Maria juga mengalami dan menikmati sendiri kerahiman sang Putera, yang kita renungkan di hari Kamis. Berkat sang Putera, dia mampu memanggul salib kehidupan dengan penuh sukacita. Atas dasar itulah, Maria mengajak kita untuk semakin percaya kepada sang Putera. 'Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!' (Yoh 2: 5); dan bukankah Yesus sendiri dengan berkata 'ibu, inilah, anakmu!' (Yoh 19: 26) berarti meminta sang ibu untuk mengajari dan melatih para muridNya menikmati kerahimanNya?

Maria itu bunda kerahiman, karena dia percaya akan kerahiman Allah yang ditampakkan dalam diri Yesus sang Putera. Dia bukan saja percaya, melainkan juga menikmatinya sendiri, bagaimana indahnya tinggal dalam kerahiman Allah yang menyelamatkan itu. Maria itu bunda kerahiman, karena dia juga mengajak setiap orang untuk berani menikmatinya. Malahan berkat aneka pertolongan doa-doanya, banyak orang menikmati rahmat dan berkat dari sang Putera. Kepercayaan akan pertolongan Maria sepertinya mempercepat terjadinya segala mukjizat yang indah dan membahagiakan. Pertolongan dari Yesus sang Guru, walau dikatakan saatKu belum tiba (Yoh 2: 4), tetapi akhirnya segera terjadi dengan indahnya berkat permintaan Maria kepada sang Putera. PertolonganMu begitu ajaib segera terjadi karena bantuan doa Maria. Maria bunda kerahiman, kita berani menyebutnya demikian, karena kerahiman Puteraku sendiri kepada seluruh umatNya, kata santo Alfonsus dalam sebuah penglihatan Maria kepada Brigita.

Ada banyak pengalaman kaum beriman dalam memohon bantuan Maria untuk menyampaikan permohonannya kepada Tuhan Yesus sang Putera. Adanya pujian Sub Praesidium Confugimus (ke bawah perlindunganmu, kulari) dan Salve Regina (Salam ya Ratu), Alma Redemptoris Mater (Bunda yang berbelaskasih) yang sudah popular semenjak abad III menunjukkan kepada kita, bahwa Gereja  telah banyak mengalami aneka bantuan dari Maria.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar mampu melakukan ibadah yang baik melalui penghayatan dalam hidup kami sehari-hari, mampu berbuat kasih diatas segala-galanya terhadap mereka yang membutuhkan uluran tamgan kami.

Santa Maria, bunda Karmel, doakanlah kami.

Santo Bonaventura, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.'

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening